Senin, 17 Rabiul Awwal 1448 H / 31 Agutus 2026 11:08 wib
151 views
Kedudukan Tawadhu dan Gambaran Tawadhu Nabi ﷺ
Di antara kedudukan dalam -firman Allah-:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah kedudukan tawadhu.
Allah Ta'ala berfirman:
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمًا
“Adapun hamba-hamba Ar-Rahman adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)
Maksudnya, mereka berjalan dengan tenang dan penuh wibawa, dalam keadaan tawadhu, tidak angkuh, tidak berlebihan dalam kegembiraan, dan tidak sombong.
Al-Hasan radhiyallahu 'anhu berkata, “Mereka adalah orang-orang berilmu yang santun.” Muhammad bin al-Hanafiyyah radhiyallahu 'anhu berkata, “Mereka adalah orang-orang yang memiliki wibawa dan menjaga kehormatan diri. Mereka tidak berlaku bodoh, dan apabila diperlakukan dengan kebodohan, mereka tetap bersikap santun.”
Dalam bahasa Arab, al-haun dengan fathah berarti kelembutan dan kelunakan, sedangkan al-hun dengan dhammah berarti kehinaan. Yang pertama merupakan sifat orang-orang beriman, sedangkan yang kedua merupakan sifat orang-orang yang mengingkari nikmat, dan itulah balasan mereka dari Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.”(QS. Al-Ma'idah: 54)
Ketika sikap merendah mereka merupakan kerendahan yang dilandasi kasih sayang, kelembutan, kepedulian, dan ketundukan, digunakanlah kata “'ala” untuk mencakup makna-makna tersebut. Yang dimaksud bukanlah kerendahan berupa kehinaan yang menjadikan seseorang hina, tetapi kerendahan berupa kelembutan dan ketundukan yang menjadikannya mudah diarahkan.
Seorang mukmin adalah dzalul, sebagaimana dalam hadits: “Seorang mukmin seperti unta yang jinak.” Sedangkan orang munafik dan fasik adalah dzalil (hina). Ada empat golongan yang sangat lekat dengan kehinaan: pendusta, tukang adu domba, orang bakhil, dan pengecut.
Firman Allah: “Mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap tegas terhadap orang-orang kafir”merupakan bentuk kemuliaan berupa kekuatan, keteguhan, dan kemenangan.
Atha' radhiyallahu 'anhu berkata,
لِلْمُؤْمِنِينَ كَالْوَلَدِ لِوَالِدِهِ، وَعَلَى الْكَافِرِينَ كَالسَّبُعِ عَلَى فَرِيسَتِهِ
“Terhadap orang-orang beriman, mereka seperti anak terhadap ayahnya; sedangkan terhadap orang-orang kafir, mereka seperti binatang buas terhadap mangsanya.”
Sebagaimana Allah berfirman:
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang di antara mereka.”(QS. Al-Fath: 29)
Ini berlawanan dengan keadaan orang-orang yang dikatakan tentang mereka:
كِبرًا علينا وجُبنًا عن عدوِّكُمُ … لبئستِ الخَلَّتانِ الكِبْرُ والجُبُنُ
“Sombong terhadap kami, tetapi pengecut menghadapi musuh kalian; sungguh buruk dua sifat itu: kesombongan dan kepengecutan.”
Dalam Shahih Muslim, dari Iyadh bin Himar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إنّ الله أوحى إليّ أن تواضَعُوا، حتّى لا يفخرَ أحدٌ على أحدٍ، ولا يَبغِي أحدٌ على أحدٍ
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri di hadapan orang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada orang lain.”
Dalam Shahih Muslim, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لا يدخلُ الجنّةَ من كان في قلبه مثقالُ ذرّةٍ من كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji zarrah.”
Dalam Shahihain disebutkan secara marfu':
ألا أُخبِركم بأهل النّار؟ كلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُستكبرٍ
“Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, keras, dan sombong.”
Dalam hadits tentang perdebatan antara surga dan neraka, neraka berkata:
ما لي لا يدخلني إلّا الجبّارون، والمتكبِّرون؟
“Mengapa tidak ada yang memasukiku kecuali orang-orang yang sombong dan angkuh?”Hadits ini terdapat dalam kitab hadits sahih.
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
يقول الله عز وجل: العزّة إزاري، والكبرياء ردائي، فمن نازعني فقد عذَّبتُه
“Allah Azza wa Jalla berfirman: Kemuliaan adalah selendang-Ku dan kesombongan adalah pakaian-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku dalam salah satunya, Aku akan mengazabnya.”
Dalam Jami' at-Tirmidzi disebutkan secara marfu':
لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي دِيوَانِ الْجَبَّارِينَ، فَيُصِيبَهُ مَا أَصَابَهُمْ
“Seseorang akan terus membanggakan dirinya hingga akhirnya dicatat dalam daftar orang-orang yang sombong, lalu ia akan mendapatkan apa yang telah menimpa mereka.”
Nabi ﷺ biasa melewati anak-anak kecil dan mengucapkan salam kepada mereka.
Seorang budak perempuan pernah memegang tangan beliau ﷺ lalu membawanya pergi ke tempat yang ia kehendaki.
Ketika makan, beliau ﷺ menjilati ketiga jarinya.
Beliau biasa berada di rumah membantu pekerjaan keluarganya. Beliau tidak pernah membalas dendam untuk kepentingan dirinya sendiri.
Beliau ﷺ menambal sandalnya, memperbaiki pakaiannya, memerah susu kambing untuk keluarganya, memberi makan untanya, makan bersama pembantunya, duduk bersama orang-orang miskin, berjalan bersama janda dan anak yatim untuk memenuhi kebutuhan mereka, mendahului orang yang ditemuinya dalam mengucapkan salam, serta memenuhi undangan orang yang mengundangnya meskipun hanya untuk sesuatu yang sangat sederhana.
Beliau ﷺ ringan dalam urusan, lembut akhlaknya, mulia tabiatnya, dan indah dalam bergaul. Wajahnya cerah dan murah senyum. Beliau tawadhu tanpa kehinaan, dermawan tanpa berlebihan, lembut hati, dan penuh kasih sayang kepada setiap Muslim. Beliau merendahkan sayapnya kepada orang-orang beriman dan bersikap lembut kepada mereka.
Beliau ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ ــ أَوْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ ــ؟ تَحْرُمُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ
“Maukah kalian aku beritahu siapa yang diharamkan atasnya api neraka—atau neraka diharamkan atasnya? Neraka diharamkan atas setiap orang yang dekat,lembut, mudah, dan menyenangkan.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia berkata: Hasan).
Beliau ﷺ juga bersabda:
لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَاعٍ أَوْ ذِرَاعٍ لَأَجَبْتُ، وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ
“Seandainya aku diundang untuk makan bagian kaki atau lengan kambing, niscaya aku akan memenuhi undangan itu. Dan seandainya aku diberi hadiah berupa lengan atau kaki kambing, niscaya aku akan menerimanya.” (HR. Al-Bukhari).
Beliau ﷺbiasa menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, menunggang keledai, dan memenuhi undangan seorang budak.
Pada hari mendatangi Bani Quraizhah, beliau ﷺ menunggang seekor keledai yang tali kekangnya terbuat dari serat, dan pelananya juga terbuat dari serat.[PurWD/v0a-islam.com]
- Sumber: Kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-jauziyah (www.ibnalqayem.net), Judul: منزلة التواضع وصور من تواضع النبي ﷺ.
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!