Senin, 17 Rabiul Awwal 1448 H / 31 Agutus 2026 09:20 wib
80 views
Ibnul Qayyim: Ulama Besar yang Menjadikan Ilmu sebagai Jalan Menuju Allah
Tidak semua ulama besar lahir dalam suasana yang mudah. Sebagian justru ditempa oleh perjalanan panjang, kesungguhan menuntut ilmu, perdebatan ilmiah, bahkan ujian penjara dan penderitaan.
Salah satunya adalah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah -rahimahullah-. Namanya begitu akrab di telinga kaum Muslimin. Karya-karyanya tentang akidah, fikih, tafsir, hadis, dan terutama tentang penyucian jiwa serta penyakit hati, hingga kini terus dibaca dan dikaji.
Ia bukan sekadar seorang penulis produktif. Ia adalah seorang ulama yang berusaha menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mengenal Allah, memperbaiki hati, dan mengarahkan kehidupan seorang Muslim kepada akhirat.
Nama lengkap dan masa kelahiran
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'd bin Hariz az-Zur'i ad-Dimasyqi al-Hanbali.
Ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, atau cukup disebut Ibnul Qayyim.
Ia lahir di Damaskus pada 691 Hijriah/1292 Masehi, kemudian tumbuh dalam keluarga yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu.
Ayahnya, Abu Bakar bin Ayyub az-Zur'i, merupakan pengelola (qayyim) Madrasah al-Jauziyyah yang bermazhab Hanbali. Lingkungan keluarga dan pendidikan tersebut menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Ibnul Qayyim sejak kecil kepada dunia ilmu.
Sejak usia muda, ia telah menunjukkan kecintaan yang kuat terhadap ilmu. Ia mempelajari berbagai disiplin keislaman, di antaranya tafsir, hadis, fikih, bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya.
Ia tidak hanya belajar kepada satu atau dua guru. Ibnul Qayyim berguru kepada sejumlah ulama pada zamannya.
Namun, di antara seluruh gurunya, ada satu sosok yang memiliki pengaruh sangat besar dalam perjalanan hidup dan keilmuannya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-.
Pertemuan dengan Ibnu Taimiyah
Pada 712 H/1313 M, Ibnul Qayyim bertemu dengan Ibnu Taimiyah.Pertemuan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.Sejak saat itu, Ibnul Qayyim menjadi murid yang sangat dekat dengan Ibnu Taimiyah. Ia terus mendampinginya hingga gurunya wafat pada 728 H/1328 M.
Kurang lebih 17 tahun ia hidup dalam kebersamaan ilmiah dengan sang guru.
Dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim memperoleh ilmu yang sangat luas. Ia mempelajari cara memahami Al-Qur'an dan Sunnah, cara menimbang berbagai pendapat dalam fikih, serta pentingnya kembali kepada dalil dan pemahaman generasi salaf.Namun, kedekatan seorang murid dengan gurunya tidak berarti bahwa Ibnul Qayyim sekadar menjadi pengikut tanpa sikap ilmiah.
Ia dikenal tidak terikat secara fanatik dengan suatu pendapat hanya karena pendapat tersebut merupakan pendapat mazhab. Ia memilih pendapat berdasarkan kekuatan dalil dari Al-Qur'an, Sunnah, perkataan para sahabat, dan atsar salaf.
Karena itu, para ulama memasukkannya ke dalam jajaran mujtahid.
Bukan hanya ahli fikih, tetapi juga dokter hati
Keistimewaan Ibnul Qayyim adalah keluasan bidang ilmu yang ia kuasai.
Ia dikenal sebagai ahli fikih, ahli hadis, ahli tafsir, ahli bahasa Arab, dan ulama dalam bidang akidah.
Namun, ada satu sisi yang membuat namanya begitu dekat dengan kaum Muslimin hingga hari ini: perhatiannya yang sangat besar terhadap hati manusia.
Ia banyak berbicara tentang cinta kepada Allah, ikhlas, tawakal, sabar, syukur, penyakit hati, dosa, taubat, hawa nafsu, dan perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Tulisan-tulisannya terasa hidup karena ia tidak hanya membahas ilmu sebagai teori. Ia membawa pembacanya untuk melihat bagaimana ilmu tersebut berhubungan dengan kehidupan hati.
Bagi Ibnul Qayyim, persoalan manusia bukan hanya tentang benar dan salah dalam ucapan. Ada persoalan yang lebih dalam: bagaimana hati menerima kebenaran, mencintainya, tunduk kepadanya, dan istiqamah di atasnya.
Karena itu, karya-karyanya tetap relevan bagi siapa saja yang sedang berusaha memperbaiki dirinya.
Ketika ilmu harus dibayar dengan ujian
Jalan dakwah dan ilmu yang ditempuh Ibnul Qayyim tidak selalu mudah.
Pada Sya'ban 726 H/1326 M, ia dipenjara bersama gurunya, Ibnu Taimiyah.
Ia juga mengalami perlakuan keras. Ia pernah dicambuk dan diarak di atas seekor keledai sebagai bentuk penghinaan di hadapan masyarakat.
Ujian tersebut tidak membuat namanya hilang. Justru, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ilmu dan dakwah terkadang menuntut kesabaran menghadapi sesuatu yang tidak ringan.
Ibnul Qayyim baru dibebaskan pada 20 Dzulhijjah 728 H, beberapa waktu setelah wafatnya Ibnu Taimiyah.
Kehilangan sang guru tentu menjadi pukulan berat bagi seorang murid yang telah bertahun-tahun mendampinginya.
Namun, Ibnul Qayyim terus melanjutkan perjalanan ilmiahnya.
Ia kemudian dipercaya menjadi imam di Madrasah al-Jauziyyah dan mengajar di Madrasah ash-Shadriyyah.
Ulama yang berani memilih pendapat berdasarkan dalil
Salah satu karakter menonjol Ibnul Qayyim adalah keberaniannya dalam memilih pendapat yang menurutnya paling kuat berdasarkan dalil.
Dalam beberapa persoalan fikih, ia memiliki pendapat yang berbeda dari pendapat yang populer di kalangan mazhab Hanbali.
Di antaranya adalah pendapatnya tentang talak tiga yang diucapkan sekaligus. Ibnul Qayyim berpendapat bahwa talak tersebut dihukumi sebagai satu talak.
Ia juga pernah menghadapi persoalan dengan para hakim karena fatwanya mengenai perlombaan kuda.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ilmiahnya bukan sekadar mengumpulkan pendapat para ulama. Ia melakukan kajian, menimbang dalil, dan mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang menurutnya paling kuat.
Tentu saja, perbedaan pendapat dalam masalah fikih merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Sikap ilmiah para ulama tersebut perlu dipahami dalam kerangka penghormatan terhadap dalil dan tradisi keilmuan Islam.
Karya-karya yang terus hidup
Salah satu warisan terbesar Ibnul Qayyim adalah karya-karyanya.
Ia menulis dalam berbagai bidang: akidah, fikih, tafsir, hadis, usul fikih, tazkiyatun nafs, akhlak, bahasa Arab, bahkan syair.
Di antara karya yang sangat dikenal adalah:
- Zadul Ma'ad fi Hadyi Khairil 'Ibad
- Madarijus Salikin
- Ad-Da' wad-Dawa'
- Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan
- Miftah Daris Sa'adah
- Uddatus Shabirin
- Thariqul Hijratain
- Ar-Ruh
- I'lamul Muwaqqi'in
- Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud
Karya-karya tersebut memperlihatkan keluasan cakrawala keilmuan Ibnul Qayyim.
Namun, ada sesuatu yang lebih menarik.Di balik pembahasan fikih, akidah, dan hadis, kita sering menemukan Ibnul Qayyim berbicara tentang hati manusia.
Ia berbicara kepada orang yang sedang lalai.Kepada orang yang sedang berjuang melawan hawa nafsu.Kepada orang yang ingin bertaubat.Kepada orang yang merasa jauh dari Allah.Kepada orang yang ingin mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Itulah sebabnya karya-karyanya terasa dekat dengan kehidupan seorang Muslim.
Ilmu yang tidak berhenti di kepala
Bagi Ibnul Qayyim, ilmu bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan.Ilmu harus melahirkan amal.Ilmu harus memperbaiki hati.Ilmu harus membuat seorang hamba semakin mengenal Rabb-nya.
Karena itu, pembaca akan menemukan perhatian yang sangat besar dalam karya-karyanya terhadap hubungan antara ilmu, amal, hati, dan kehidupan akhirat.
Wafat setelah meninggalkan warisan ilmu
Setelah puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai penuntut ilmu, pengajar, penulis, dan dai, Ibnul Qayyim wafat pada 13 Rajab 751 H/1350 M.
Usianya sekitar 60 tahun.
Ia dimakamkan di Pemakaman Bab ash-Shaghir di Damaskus.
Jasmaninya telah kembali ke tanah. Namun, ilmu yang ia tinggalkan terus berjalan dari generasi ke generasi. Kitab-kitabnya dibaca.Pemikirannya dikaji.Nasihat-nasihatnya tentang hati dikutip.Dan karya-karyanya menjadi teman perjalanan banyak orang yang ingin memperbaiki hubungan mereka dengan Allah.
Penutup
Ibnul Qayyim bukan hanya nama yang tertulis di sampul kitab. Ia adalah gambaran seorang ulama yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu, berdiri bersama kebenaran yang diyakininya, menghadapi ujian, mengajar, menulis, dan berusaha menghidupkan hati manusia dengan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah.
Barangkali itulah sebabnya ketika seseorang membaca karya Ibnul Qayyim, ia tidak hanya menemukan pembahasan ilmiah. Ia sering menemukan dirinya sendiri—dengan kelemahan, dosa, kelalaian, harapan, dan kerinduannya kepada Allah.
Dan di situlah salah satu keistimewaan warisan Ibnul Qayyim:ilmunya tidak hanya mengajak kita untuk mengetahui kebenaran, tetapi juga mengajak hati untuk mencintai dan menjalankannya. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!