Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
10.488 views

Represifkah RUU Ormas?

Represifkah RUU Ormas ?
Oleh : Abu Zahro

(Aktivis Islamic Revivalis di Indonesia)

VOA-ISLAM.COM - Tolak RUU Ormas menjadi opini media eksotis paling mengemuka saat ini. Setelah sebelumnya begitu masif opini media bubarkan Densus 88 sebagai tuntutan berbagai elemen masyarakat. Opini media bubarkan Densus 88 seolah ditelan bumi diterpa gelombang opini tolak RUU Ormas.

Bersamaan dengan itu meski samar-samar terdengar, tetapi akhirnya terendus kuat juga, sedang ada forum besar mendiskusikan secara serius bagaimana "war on terrorism" (perang melawan terorisme) harus dijalankan.

Forum itu adalah APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) mulai tanggal 7-19 April 2013 di Hotel JW Marriot dan Sheraton Surabaya dihadiri kurang lebih delegasi 21 negara. Indonesia didaulat sebagai tuan rumah dan dianggap negara paling sukses menjalankan proyek "war on terrorism" dengan strategi soft powernya (deradikalisasi ala BNPT).

Di tengah menonjolnya pendekatan militer oleh berbagai negara yang lain. Meski pernyataan itu sebenarnya sarat dengan nuansa klise diplomatis terbukti faktanya justru Densus 88 sebagai organ tunggal terdepan "war on terrorisme" banyak melakukan “ekstra judicial killing”.

Dalam kaitan itulah Din Samsudin melalui PP Muhammadiyah memfasilitasi sebuah forum diskusi publik yang bertema:  "Memberantas Terorisme tanpa teror dan melanggar HAM" pada Kamis, 11 April 2013, di Auditorium PP Muhammadiyah Jl Menteng Raya No 62 Jakarta Pusat, Pukul : 13.00 WIB sampai selesai, dengan menghadirkan para pembicara :  Boy Raffly Amar (Mabes Polri), Ansyaad Mbai (BNPT), Siane Indriyani (Komnas HAM), Ust Adnan Arsal (Poso)  dan Slamet Efendy Yusuf (MUI/PBNU). 

Gelombang penolakan RUU Ormas silih berganti. Berbagai ormas terutama ormas islam termasuk juga satu-satunya parpol PKS juga menolak. Diantaranya HTI disertai dengan menggerakkan aksi massanya. MMI, FPI, dan Ormas yang lainpun tidak ketinggalan.

Terutama menjelang diparipurnakannya RUU itu oleh DPR RI. Tepatnya tanggal 12 April 2013. DPR RI melalui Pansus RUU Ormas begitu getol segera mengesahkannya. Gelombang penolakan menjelang paripurna DPR RI itu ternyata juga mendorong proses politik sedemikian rupa merekonstruksi ulang substansi RUU Ormas sesuai dengan tuntutan dan aspirasi yang berkembang.

Beberapa hal crucial yang dibahas adalah persoalan asas, mekanisme pembubaran oleh pemerintah, transparansi pendanaan (termasuk sumbangan asing), dan mekanisme pendaftaran. 

Dalam kaitan itu, menarik melihat sebuah forum Debat TV One 1/4/2013 jam 19.30 WIB, menghadirkan Jubir HTI Ismail Yusanto, PP Muhammadiyah Najamuddin Ramly, Ketua Pansus RUU Ormas Abdul Malik Haromain dan Kemendagri Dodi. 

Pada akhir debat ada penggalan dialog sangat menarik antara Jubir HTI Ismail Yusanto dengan Ketua Pansus RUU Ormas Abdul Malik Haromain. Ismail menyampaikan bahwa salah satu alasan kenapa RUU Ormas ditolak karena menjadi pintu munculnya rezim represif.

Kemudian Abdul Malik menyanggah yang represif yang mana. Dijawab oleh Ismail karena memaksakan asas Pancasila sementara ormas underbow parpol tidak menggunakan itu. Ada hiden agenda apa sebenarnya pemerintah memaksakan itu sebagai asas imbuh Ismail.

Lalu disanggah oleh Abdul Malik ada hiden agenda apa juga sebenarnya HTI tidak mau menerima Pancasila sebagai asas. Debat diakhiri tanpa ada ujung kesimpulan yang sama karena baik PP Muhammadiyah dan HTI "keukeuh" menolak RUU Ormas.  Sementara representasi DPR RI dan Pemerintah tetap bersikukuh untuk mengesahkannya.

Ada beberapa hal menarik dari penggalan dialog di akhir acara Debat TV One yang penting dicermati : Pertama, silang pendapat mengenai rumusan represif dan Kedua, perlu tidaknya asas Pancasila sebagai asas Ormas. Yang Pertama, definisi represif mestinya dilihat dari beberapa prespektif baik historis, otoritatif dan normatif.

Secara historis, maka memang pada jaman Orba (orde baru) benar-benar terjadi kebijakan yang represif oleh rezim otoriter Soeharto. Ini menjadi trauma sejarah masyarakat terutama kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi korban kekejaman rezim Soeharto.

Lihat kasus Tanjung Priok, operasi ninja pada para kyai dan ustadz di jawa, jebakan politik untuk menggulung para aktifis islam dengan jaring "KOMJI" (komando jihad) yang sebenarnya bentukan pemerintah, laskar jihad dan lain-lain.

Secara otoritatif, mestinya yang memiliki kewenangan untuk menentukan defenisi represif bukanlah pemerintah melainkan masyarakat terutama masyarakat yang pernah menjadi korban kekejaman rezim Orba.

Ketika ini dirumuskan oleh pemerintah meski menggunakan cap stempel suara dewan tidak bisa dilepaskan oleh kepentingan pemerintah. Maka pemerintah harus mendengar langsung dari masyarakat terutama masyarakat korban rezim otoriter Orde Baru tentang definisi represif.

Jadi kalau banyak masyarakat berbagai elemen menyebut bahwa RUU Ormas memiliki potensi represif, maka harusnya definisi inilah yang harusnya diadopsi. Dalam sepanjang perjalanan sejarah peradaban manusia tidak pernah terjadi rakyat merepresif penguasa/pemerintahnya.

Justru sebaliknya yang represif itu pasti penguasa/pemerintahnya. Rakyat hanya bisa protes atau kritik. Itu saja. Kecuali jika tingkat represifitas penguasa begitu masif dan akut. Maka yang terjadi adalah gelombang perlawanan yang sangat dahsyat dari rakyat. Seperti Arab Spring.

Dalam konteks represif yang disampaikan oleh Jubir HTI. Maka jelas maksudnya bahwa UU Ormas akan menjadi ancaman potensial sebagai legitimasi formal untuk membubarkan HTI. Itu jelas. Sebagai sebuah ormas islam maka mestinya sah-sah saja jika HTI berasas Islam. Seperti sahnya ormas sekuler menggunakan asas sekuler. Ormas kristen menggunakan asas kristen. Ormas pancasila menggunakan asas pancasila.

Lalu kalau saat ini pancasila disepakati sebagai asas negara itu bukan berarti terus tidak berubah sepanjang waktu. Karena ormas sekuler sekalipun yang sekarang banyak berlindung pada asas negara pancasila berjuang dan bercita-cita menjadikan sekuler sebagai asas negara.

Dan terbukti memang bahwa saat ini Indonesia berasas negara sekuler. Lha kalau ormas Islam berjuang untuk memperjuangkan islam sebagai asas negara. Maka itu proporsional.

Berkaitan dengan asas ormas, dengan memperhatikan desakan-tuntutan yang berkembang, Pansus RUU Ormas kelihatannya sangat mempertimbangkan rumusan asas sebagai berikut: "Asas Ormas adalah asas yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945". Islam dinyatakan tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Rumusan tentang asas ormas tersebut yang kira-kira menjadi konten UU Ormas yang akan disahkan saat paripurna DPR RI 12 April.

Secara normatif, represif penguasa tertuang dalam setiap rumusan redaksi substansi UU Ormas yang multitafsir dan menyimpan potensi terjadinya kesalah wenangan oleh penguasa/pemerintah.

Mulai dari definisi ormas yang sangat luas.  Lalu tentang mekanisme pendanaan ormas, mekanisme pendataan atau pendaftaran ormas, dan mekanisme pembubaran ormas. Logika sederhananya bahwa penguasa/pemerintah yang menerapkan sistem tertentu  selalu mencoba membuat sistem imunitas untuk mencegah dan atau menghancurkan setiap potensi yang mengancam eksisting rezim dan sistem yang berlaku.

Termasuk rezim dan sistem Demokratik di Indonesia akan menghapus segala bentuk ancaman yang hendak menggantinya atau merobohkannya.

Yang kedua, penting atau tidaknya Pancasila sebagai asas. Rumusan bahwa asas ormas tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, menurut penulis tetap menjadikan Pancasila sebagai patron parameter asas Ormas.

Karena pertanyaan berikutnya adalah siapa yang memiliki otoritas atau kewenangan untuk menafsirkan tidak bertentangan. Jika kewenangan itu ada pada pemerintah maka tetap saja Pancasila sebagai “truth claim” (klaim pembenaran). 

Dan bisa jadi mereka yang menyerukan islam kaffah dan penegakkan syariah khilafah seperti HTI atau ormas Islam yang lain dianggap bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Karena yang dianggap terkategori "Islam tidak bertentangan" adalah "Islam moderat" atau "Islam rahmatan lil alamin".

Meski di lain pihak para penguasa, politisi, birokrat, yang dianggap sebagai pembela Pancasila melakukan banyak tindak pidana pengkhianatan terhadap Pancasila. Seperti maraknya korupsi politik, mafioso peradilan, dan pelanggaran terhadap asas negara dan konstitusi dalam bentuk yang dilegitimasi undang-undang semisal UU tentang Migas (UU Nomer 22 tahun 2001).

Semangat represif penguasa/pemerintah tidak bisa dipungkiri terlihat jelas.  Dan kemasan semangat itu baik dalam format “hard approach” maupun “smart approach”.

Bisa dipahami kemudian bahwa UU Ormas adalah bagian legal of frame sebagai legitimasi perundang-undangan untuk meredam dan atau membelokkan arah perjuangan penegakkan Islam kaffah. Atau untuk merepresif gerakan atau ormas Islam.

Pertanyaan akhirnya, apakah asas Islam yang memuat ajaran tentang perjuangan untuk menyerukan Islam kaffah dan menegakkan syareah khilafah bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945?  Wallahu a'lam bis showab. (Abu  (Zahro dari Bumi Pergolakan dan Musibah)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Pasaribu: Disabilitas Kaki yang Ahli Ibadah ini Jadi Incaran Misionaris. Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Pasaribu: Disabilitas Kaki yang Ahli Ibadah ini Jadi Incaran Misionaris. Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Hidup dengan satu kaki, pria asal Sibolga Tapanuli ini tak kenal putus asa. Setelah kakinya diamputasi karena tertabrak truk, ia justru makin rajin beribadah di masjid. Pria Batak ini butuh bantuan...

Nafisa Zahra, Bayi 9 Bulan ini Menderita Kanker Pembuluh Darah. Ayo Bantu..!!!

Nafisa Zahra, Bayi 9 Bulan ini Menderita Kanker Pembuluh Darah. Ayo Bantu..!!!

Baru berusia 9 bulan, bayi ini diuji dengan penyakit Kanker Pembuluh Darah. Kedua pipinya tumbuh dua benjolan sebesar kepal tangan orang dewasa. Ia harus segera dioperasi dan minum susu khusus...

Ismail Abdurrahman: Anak Aktivis Dakwah Opname di RS PKU Solo. Ayo Bantu..!!

Ismail Abdurrahman: Anak Aktivis Dakwah Opname di RS PKU Solo. Ayo Bantu..!!

Musibah muntaber tak henti-hentinya menimpa Ismail, anak aktivis dakwah Solo Raya. Sang ayah, Muhammad Arif adalah pekerja serabutan yang saat ini sedang mendapat ujian yang bertubi-tubi. ...

Sakit Stroke, Muallaf Mantan Hindu ini Hidup Sebatang Kara di Gubuk Lapuk. Ayo Bantu.!!

Sakit Stroke, Muallaf Mantan Hindu ini Hidup Sebatang Kara di Gubuk Lapuk. Ayo Bantu.!!

Nyaris sempurna ujian hidup muallaf Nyoman Kawi. Di usia senja, ia tak bisa mencari nafkah karena stroke telah mematikan separo tubuhnya. Hidup sebatang kara, ia tinggal di gubuk lapuk yang tidak...

Guru SMP Islam & Mahasiswi Bahasa Arab Solo Terlindas Truk Kontainer. Ayo Bantu..!!!

Guru SMP Islam & Mahasiswi Bahasa Arab Solo Terlindas Truk Kontainer. Ayo Bantu..!!!

Musibah dahsyat menimpa Ustadzah Juwariah. Terlindas truk kontainer, ia kritis tak sadarkan diri: tulang panggul remuk, tulang pubis patah, engsel tulang panggul bergeser (dislokasi), engkel...

Latest News
Keluarga Shamima Beghum Akan Lawan Upaya Inggris Cabut Kewarganegaraan Anaknya

Keluarga Shamima Beghum Akan Lawan Upaya Inggris Cabut Kewarganegaraan Anaknya

Sabtu, 23 Feb 2019 14:05

Bagi-bagi Sertifikat di Masjid

Bagi-bagi Sertifikat di Masjid

Sabtu, 23 Feb 2019 11:39

Pasukan Zionis Israel Tembak Mati Remaja Palestina Berusia 12 Tahun di Perbatasan Gaza

Pasukan Zionis Israel Tembak Mati Remaja Palestina Berusia 12 Tahun di Perbatasan Gaza

Sabtu, 23 Feb 2019 11:05

Prancis Klaim Tewaskan Wakil Komandan JINM di Mali Utara

Prancis Klaim Tewaskan Wakil Komandan JINM di Mali Utara

Sabtu, 23 Feb 2019 10:15

Shalat Jum'at dan Politik

Shalat Jum'at dan Politik

Sabtu, 23 Feb 2019 10:07

'Daud' vs 'Jalut'

'Daud' vs 'Jalut'

Sabtu, 23 Feb 2019 09:00

Nak, Adabmu Cerminanku

Nak, Adabmu Cerminanku

Sabtu, 23 Feb 2019 08:40

Soal Wartawan Diintimidasi Saat Liput Malam Munajat 212, Berikut Klarifikasi Panitia

Soal Wartawan Diintimidasi Saat Liput Malam Munajat 212, Berikut Klarifikasi Panitia

Sabtu, 23 Feb 2019 07:39

Prabowo Bukan Lagi Lawan Jokowi

Prabowo Bukan Lagi Lawan Jokowi

Sabtu, 23 Feb 2019 07:02

Soal Politik Uang, Gus Sholah: Ambil Saja, Anggap Sedekah tapi Jangan Pilih Orangnya

Soal Politik Uang, Gus Sholah: Ambil Saja, Anggap Sedekah tapi Jangan Pilih Orangnya

Jum'at, 22 Feb 2019 23:09

Penelitian: Sekolah Islam Tidak Sebar Radikalisme

Penelitian: Sekolah Islam Tidak Sebar Radikalisme

Jum'at, 22 Feb 2019 22:31

Chusnul Mariyah: Masak Suara Tuhan Dihargai Rp100 Ribu?

Chusnul Mariyah: Masak Suara Tuhan Dihargai Rp100 Ribu?

Jum'at, 22 Feb 2019 21:47

Uighur Minta MBS Kecam Perlakuan Brutal Cina pada Jutaan Minoritas Muslim di Xinjiang

Uighur Minta MBS Kecam Perlakuan Brutal Cina pada Jutaan Minoritas Muslim di Xinjiang

Jum'at, 22 Feb 2019 21:35

Polisi Israel Tangkap 60 'Orang Arab' di Al-Quds Yerusalem

Polisi Israel Tangkap 60 'Orang Arab' di Al-Quds Yerusalem

Jum'at, 22 Feb 2019 21:00

200 Tentara AS akan Tinggal di Suriah Setelah Penarikan

200 Tentara AS akan Tinggal di Suriah Setelah Penarikan

Jum'at, 22 Feb 2019 20:55

Di Munajat 212 Habib Rizieq Kecam Penegakan Hukum yang Tidak Adil

Di Munajat 212 Habib Rizieq Kecam Penegakan Hukum yang Tidak Adil

Jum'at, 22 Feb 2019 20:23

Bandung Terbitkan KTP Pertama untuk Penganut Aliran Kepercayaan

Bandung Terbitkan KTP Pertama untuk Penganut Aliran Kepercayaan

Jum'at, 22 Feb 2019 20:04

Jokowi Ditantang Balik Buka Data Pemegang HGU di Indonesia

Jokowi Ditantang Balik Buka Data Pemegang HGU di Indonesia

Jum'at, 22 Feb 2019 19:55

Meski Logo Persis Ditutup Kertas Saat Deklarasi Paslon 01, KKBH Persi Akan Tetap Melaporkan Panitia

Meski Logo Persis Ditutup Kertas Saat Deklarasi Paslon 01, KKBH Persi Akan Tetap Melaporkan Panitia

Jum'at, 22 Feb 2019 17:47

Perdana Menteri Pakistan Setujui Respon Militer Jika India Menyerang

Perdana Menteri Pakistan Setujui Respon Militer Jika India Menyerang

Jum'at, 22 Feb 2019 17:45


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X