Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.794 views

Negara Ini Bukan Milik Jokowi dan Habib Rizieq

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Orde Lama tumbang. Faktornya? Pertama, otoriter. Masyumi dibubarkan, HMI dikebiri, dan kekuatan-kekuatan Islam tak berkutik. Padahal, muslim adalah rakyat mayoritas. Kedua, terlalu dekat dan percaya dengan elit PKI. Klimaksnya, PKI berulah. Berontak dan bantai para jenderal. Orde Lama lalu tumbang di tangan rakyat dan militer.

Orde Baru tampil. Di awal bagus. Dan memang begitu. Setiap rezim sering bagus, tapi hanya di awal. Konsentrasi membangun. Syaratnya? Politik stabil. Lalu, semua dikendalikan dan dikontrol. Lambat laun rakyat sadar, Orde Baru juga otoriter. Mirip Orde Lama. Gaya mengelola kekuasaan dengan cara militeristik. Dwi fungsi ABRI jadi andalan strateginya. Totaliter, dan semua sisi kehidupan bangsa diawasi. Siapapun yang kritis dianggap kelompok anti Pancasila. Orde Baru pun jatuh setelah 32 tahun berkuasa. Dengan meninggalkan warisan budaya korupsi yang masif.

Orde Reformasi lahir sebagai gantinya. Harapan rakyat muncul. Habibie menggantikan Soeharto. Lalu Gus Dur dan Megawati berbagi dalam lima tahun. Lanjut SBY dua periode. Sampai disini, Indonesia jadi negara demokratis. Kebebasan rakyat dan pers terjamin.

SBY selesai, Jokowi jadi presiden. Mengalahkan Prabowo yang dikhawatirkan otoriter. Isunya selalu dikaitkan dengan pelanggaran HAM. Kendati tak ada bukti pengadilan. Karena memang tak ada yang membawanya ke pengadilan.

Isu HAM jadi titik lemah Prabowo. Diadili di jalanan, dan dengan cara preman. Dengan isu HAM, Jokowi diuntungkan. 2014, Prabowo kalah dan Jokowi menang. Lepas kontroversi soal sedot data KPU dan isu kecurangan.

Jokowi rising star, wong ndeso, dipersepsi berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah. Seorang yang lahir dari rakyat kecil. Mengusung ide Mobil Esemka jadi kendaraan ke Jakarta, lalu ke istana. Entah, Esemka sekarang di parkir dimana. Tak ada yang bisa menemukan.

2014, Jokowi jadi presiden. Ekspektasi rakyat besar kepadanya. Janji-janji politiknya memukau. Tak impor bahan pokok. Beli kembali Indosat. 10 juta lapangan kerja disediakan. Tak akan naikkan BBM. Tol laut dibangun. Menteri kabinet diisi para profesional, bukan bancaan parpol. Dolar 10 ribu. Dan janji-janji lain yang memukau hati rakyat. Rakyat percaya, dan Jokowi jadi presiden.

Ketika janji-janji itu tak kunjung datang. Rakyat mulai kecewa. Mempertanyakan integritas dan kapasitas Jokowi.

Dolar naik, BBM dan TDL naik, entah sudah berapa puluh kali. Bagaimana mungkin harga murah? Mustahil! Lapangan kerja? Eksodus para pekerja China membanjiri pabrik-pabrik di Indonesia. Gajinya bahkan lebih besar dari gaji pekerja asli pribumi. Berbagai video di lapangan yang beredar di masyarakat tentang fakta-fakta itu terus dibantah oleh pemerintah.

Bersamaan dengan itu, muncul kasus Ahok. Kasus penistaan agama. Seperti kebetulan. Kendati orang beragama selalu menolak istilah kebetulan. Karena peristiwa hidup bagi mereka tak ada yang kebetulan.

Umat Islam protes. Tuntut keadilan terhadap kasus Ahok. Para ulama tampil. Habib Rizieq berada di depan, menjadi icon. Bersama Bachtiar Nasir.

Jokowi di belakang Ahok. Back up dan ingin selamatkan Ahok. Setidaknya, ini bacaan Gunawan Muhammad dan sejumlah tokoh. Orang-orang yang berada di lingkaran istana dan dekat dengan Ahok.

Ahok gagal dibela. Kalah di Pilgub dan posisinya lemah. Ahok divonis dua tahun. Ada yang bilang, Ahok sekalian dikorbankan. Beda cerita seandainya Ahok menang. Kecil kemungkinan Ahok divonis dua tahun. Jakarta dan Indonesia bisa gaduh. Kok berandai-andai? Begitulah jika politik dan hukum tak bisa dipisahkan.

Ahok dipenjara, lalu masalah selesai? Ternyata tidak! Kenapa? Sejumlah tokoh demonstran 212 ditangkap. Kena pasal ini dan itu. Dan pertarungan bergeser dari Ahok vs 212 ke Jokowi vs 212.

Dugaan adanya kriminalisasi menyiapkan arena pertarungan baru. Bahkan lebih seru. Yaitu antara Jokowi vs 212. Trigger pertarungan Ahok vs 212 adalah kasus penistaan agama. Dan area pertarungannya di Pilgub DKI. Maka, Jokowi vs 212 itu triggernya adalah kasus dugaan kriminalisasi. Arenanya adalah pilpres 2019. Siapa yang menang? Sabar! Bulan April tidak lama lagi.

Jadi, jika ada yang berpikir bahwa Reuni 212 tidak perlu, berarti ia kurang informasi. Tak paham kronologi. 212 gerakan politik dong? Pertanyaan lugu, dan sedikit dungu. Gobl...... Ah, gak tega. Itu gerakan moral bro. Sebuah perlawanan rakyat yang kecewa terhadap kesewenang-wenangan dan ketidakadilan penguasa.

Perlawanan moral kepada penguasa otomatis berefek politik. Karena penguasa ada di lembaga politik. Paham? Mosok kudu diajari. Jika menyangkut soal moral, itu bukan lagi urusan Jokowi dan 212. Tapi, itu urusan seluruh rakyat Indonesia.

Semula ada yang menganggap, itu pertarungan Jokowi vs Habib Rizieq. Ngawur! Negara ini milik 265 juta rakyat. Bukan milik mereka berdua.

Munculnya Habib Rizieq mendorong orang berpikir itu politik identitas. Identitas Islam. Islam ala Habib Rizieq. Sehingga perlawanan rakyat dianggap sebagai upaya untuk mengganti sistem negara. Lalu keluar kata-kata "anti Pancasila". Kok mirip orde Baru ya? Wualah.... Makin ngawur!

212 dan Habib Rizieq hanya salah satu bentuk gerakan dan gerbong moral. Pertarungannya bukan Jokowi vs 212. Apalagi Jokowi vs Habib Rizieq. Tapi, pertarungan yang sesungguhnya adalah Jokowi vs rakyat yang menuntut janji politik Jokowi di 2014. Jokowi vs rakyat yang kecewa terhadap kesewenang-wenangan penguasa. Jokowi vs rakyat yang kecewa terhadap penegakan hukum. Jokowi vs rakyat yang sulit hidup. Jokowi vs rakyat yang menunggu 10 ribu lapangan kerja. Hanya saja, mereka kurang menonjol di media. Yang muncul dan lebih sering disebut media adalah Habib Rizieq. Biasa, media suka sesuatu yang seksi dan ada sensasi.

Tampilnya Habib Rizieq menguntungkan buat lawan Jokowi, tapi juga merugikan. Kok merugikan? Pertama, lawan Jokowi akhirnya dituduh mengusung politik identitas. Kedua, mereka yang gak sepaham dan sejalan dengan Habib Rizieq akhirnya tak mau bergabung. Ketiga, isu pilpres 2019 didominasi oleh isu agama. Soal imam shalat, wudhu, ziarah kubur, bacaan Al-Fatihah. Jauh dari masalah substansial yang sedang dihadapi bangsa ini. Jadi gak mutu.

Narasi pilpres mesti dikeluarkan dari pertarungan Jokowi vs Habib Rizieq. Ini pertarungan antara Jokowi vs rakyat yang tidak puas dan kecewa terhadap Jokowi soal integritas dan kapasitas. Bukan soal agama, apalagi soal Jokowi vs Habib Rizieq. Bukan! [PurWD/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kecelakaan Parah, Yatim Santri Tahfizh Qur’an ini Patah Kaki. Ayo Bantu..!!

Kecelakaan Parah, Yatim Santri Tahfizh Qur’an ini Patah Kaki. Ayo Bantu..!!

Sudah 10 hari Maymunah terbaring menahan perihnya patah tulang paha akibat kecelakaan. Ia harus menjalani pencangkokan dan pengobatan tulang selama 60 hari dengan biaya 9,6 juta. Ayo bantu.!!...

Farhan Syafero: Aktivis Dakwah Gugur Salah Tembak dalam Tragedi Berdarah Jakarta, Ayo Bantu.!!

Farhan Syafero: Aktivis Dakwah Gugur Salah Tembak dalam Tragedi Berdarah Jakarta, Ayo Bantu.!!

Aktivis dakwah ini gugur di bulan suci Ramadhan saat siaga menjaga markas FPI dan rumah Habib Rizieq. Jasadnya terkapar bersimbah darah dengan lubang peluru menembus dada hingga punggung....

Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

Muallaf Evelyn harus berjuang keras menafkahi kelima anaknya, meski fisiknya rapuh mengidap kanker tiroid. Betapapun pahitnya hidup, ia tetap tegar mewujudkan mimpi anaknya yang hafal Al-Quran...

Dibulan Penuh Berkah IDC Kembali Santuni Yatim Dhuafa

Dibulan Penuh Berkah IDC Kembali Santuni Yatim Dhuafa

Dibulan yang penuh berkah ini Infaq Dakwah Center memberikan santunan kepada anak-anak yatim dhuafa. Kegiatan ini digelar bertepatan dengan acara buka bersama anak yatim dhuafa yang diadakan...

IDC Distribusikan Ratusan Kilogram Paket Tebar Kurma Ramadhan

IDC Distribusikan Ratusan Kilogram Paket Tebar Kurma Ramadhan

Alhamdulillah, Relawan IDC telah memulai distribusi Program Tebar Kurma Semarak Ramadhan 1440 H....

Latest News
Habib Rizieq Akan Beri Sambutan pada Aksi PA 212 di Depan Mahkamah Konstitusi

Habib Rizieq Akan Beri Sambutan pada Aksi PA 212 di Depan Mahkamah Konstitusi

Selasa, 25 Jun 2019 12:35

Literasi dan Keislaman

Literasi dan Keislaman

Selasa, 25 Jun 2019 11:37

Muhammadiyah Pasca Pemilu 2019

Muhammadiyah Pasca Pemilu 2019

Selasa, 25 Jun 2019 11:35

Usai Morowali, Relawan FPI Sulteng Bantu Korban Banjir di Konawe Sulawesi Tenggara

Usai Morowali, Relawan FPI Sulteng Bantu Korban Banjir di Konawe Sulawesi Tenggara

Selasa, 25 Jun 2019 11:27

Merajut Mahabbah, Menggapai Sakinah dengan Kembali pada Islam Kaffah

Merajut Mahabbah, Menggapai Sakinah dengan Kembali pada Islam Kaffah

Selasa, 25 Jun 2019 10:04

Jokowi Pernah Teken Peraturan Anak Perusahaan BUMN Sama Dengan BUMN

Jokowi Pernah Teken Peraturan Anak Perusahaan BUMN Sama Dengan BUMN

Selasa, 25 Jun 2019 09:10

Arah Pendidikan Kita, Mau Dibawa Kemana?

Arah Pendidikan Kita, Mau Dibawa Kemana?

Selasa, 25 Jun 2019 08:02

Zonasi

Zonasi

Selasa, 25 Jun 2019 04:21

Bius Game Online Dalam Kacamata Islam

Bius Game Online Dalam Kacamata Islam

Selasa, 25 Jun 2019 00:43

Bola Panas di Ruang RPH MK

Bola Panas di Ruang RPH MK

Senin, 24 Jun 2019 23:19

Pintu Maskapai Asing Dibuka Menambah Derita Maskapai Dalam Negeri

Pintu Maskapai Asing Dibuka Menambah Derita Maskapai Dalam Negeri

Senin, 24 Jun 2019 22:56

Riset Tunjukkan Olahraga di Pagi Hari Lebih Cepat Membakar Lemak

Riset Tunjukkan Olahraga di Pagi Hari Lebih Cepat Membakar Lemak

Senin, 24 Jun 2019 22:30

Polisi Sebut Penangkapan Rahmat Baequni Tidak Ada Hubungannya dengan Desain Masjid 'Iluminati'

Polisi Sebut Penangkapan Rahmat Baequni Tidak Ada Hubungannya dengan Desain Masjid 'Iluminati'

Senin, 24 Jun 2019 22:20

Pengidap Nomophobia Terus Bertambah

Pengidap Nomophobia Terus Bertambah

Senin, 24 Jun 2019 22:20

Konsep Perang

Konsep Perang

Senin, 24 Jun 2019 22:17

Revisi Aturan Kawasan Ekonomi Khusus: Sinyal Impor Tenaga Pendidik Asing?

Revisi Aturan Kawasan Ekonomi Khusus: Sinyal Impor Tenaga Pendidik Asing?

Senin, 24 Jun 2019 21:42

BMKG Jabar Nilai Suhu Dingin di Kota Bandung Masih Wajar

BMKG Jabar Nilai Suhu Dingin di Kota Bandung Masih Wajar

Senin, 24 Jun 2019 21:24

Menkumham Tolak Syarat Napi Khatam Al Quran Baru Bisa Bebas

Menkumham Tolak Syarat Napi Khatam Al Quran Baru Bisa Bebas

Senin, 24 Jun 2019 21:24

Terpilih Sebagai Ketua Pemuda Persis Jabar, Agus Priatna Minta Dukungan Penuh dari Kader

Terpilih Sebagai Ketua Pemuda Persis Jabar, Agus Priatna Minta Dukungan Penuh dari Kader

Senin, 24 Jun 2019 21:20

Kemendagri Evaluasi Berkas Permohonan Perpanjangan Izin FPI

Kemendagri Evaluasi Berkas Permohonan Perpanjangan Izin FPI

Senin, 24 Jun 2019 21:10


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X

Senin, 24/06/2019 22:20

Pengidap Nomophobia Terus Bertambah