Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
15.767 views

Hati- Hati Memberi

"Kamu ini gimana, sih? Sudah dikasih tahu jangan gangguin adik tapi masih juga diganggu. Kamu ngerti enggak, sih, kalau Mama lagi repot? Dasar anak bandel!" Sering, kan, mendengar sang ibu atau ayah berkata demikian kala marah pada buah hatinya. Dalam keadaan "lupa diri" akibat emosi yang meluap kerap terlontar kata-kata yang memberi label pada anak. Entah "anak bandel", "anak penakut", "anak cengeng", dan sebagainya. Menurut ahli, pemberian label/cap atau juga disebut stigma akan memberi bekas dalam diri anak dan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya. Karena bagi anak, label tersebut adalah suatu imej diri bahwa aku seperti itu. Jadi, lama-lama akan terbentuk dalam benaknya, "Oh, aku ini bandel, toh." Apalagi, kata dra. S.Z. Enny Hanum,  bila si pemberi label adalah orang yang mempunyai kedekatan emosi dengan anak semisal orang tua atau pengasuhnya, pengaruhnya akan sangat besar dan cepat buat anak. "Anak akan jadi ragu pada dirinya sendiri, 'Oh, jadi aku seperti itu. Orang tuaku sendiri mengatakan demikian, kok.'"

JADI NGOMPOL LAGI

Sekalipun di usia prasekolah anak belum memahami makna sebenarnya dari kata-kata label itu, namun ia bisa merasakan sesuatu yang tak nyaman dengan dilontarkannya label itu. "Ia seakan-akan tak diterima dengan adanya label itu, ada sesuatu yang ditolak," terang Enny. Jadi, anak tak tahu apa itu label baginya. Ia hanya merasakan sebagai sesuatu yang tak mengenakkan, merasa tak nyaman. Namun bukan berarti ia akan diam saja. Ia akan melampiaskan perasaan tak nyaman itu dengan berbagai cara sebagai bentuk protes. Tapi bentuk protesnya berbeda dengan anak remaja yang kalau dibilang "nakal" malah sengaja dibikin nakal, "Ah, sekalian aja aku nakal karena aku sudah kadung dicap demikian." Melainkan dalam bentuk mengompol (padahal sebelumnya anak sudah tak mengompol), mimpi buruk, menangis, menggigit-gigit kuku, menolak mengerjakan sesuatu, dan sebagainya.

Penting diketahui, perilaku/reaksi demikian juga akan muncul bila anak menemukan suatu situasi yang hampir mirip dengan di rumah. Misalnya, ia diperlakukan tak adil atau tak dimengerti di luar, maka ia akan mengompol lagi, menggigit-gigit kuku lagi, mengambek lagi, dan sebagainya. Tak demikian halnya bila ia menemukan situasi dimana ia merasa dipahami, dimengerti, dan komunikasinya menyenangkan, maka perilaku protesnya tak akan keluar. Nah, bila anak semakin sering protes dan orang tua pun jadi makin sering marah, tentunya label tersebut akan juga semakin sering dilontarkan. Kalau sudah begitu, lambat laun akhirnya anak percaya bahwa dirinya memang nakal, misalnya. Konsep dirinya jadi salah. Kita tentu tak ingin si Upik atau si Buyung memiliki konsep diri yang salah, bukan?

BERLAKUKAN ATURAN

Itulah mengapa, Enny tak setuju orang tua memberi label pada anak. Jikapun memberi label, "sebaiknya dijelaskan dalam hal apa ia nakal atau jeleknya karena bisa saja anak melakukan sesuatu dalam niatan yang lain," terangnya. Misalnya, ia hendak membuatkan minuman sirup untuk ibunya. Selama ini ia sering melihat pembantunya kalau membuat sirup dengan cara menuang botol sirup ke dalam gelas. Nah, ia pun menirunya tapi ia tak tahu berapa takarannya sehingga dituangnya sirup itu segelas penuh. Si ibu yang melihatnya langsung marah-marah dan mengatakannya nakal, main-main dengan sirup. Padahal, si anak, kan, tidak nakal; ia hanya tak tahu berapa takarannya. Tapi akibatnya, anak jadi tak merasa nyaman, "Aku mau bikin sirup buat Ibu, kok, dibilang nakal?"

Jadi, tandas Enny, orang tua harus menyebutkan apa kesalahan anak sehingga ia dikatakan nakal. "Kalau ia mengganggu adik, misalnya, jelaskan bahwa kamu mengganggu adik padahal waktunya adik tidur. Jadi, anak diberi tahu, nakalnya kamu itu karena mengganggu adik." Dengan demikian anak tahu kenapa dirinya dikatakan nakal, sehingga dapat mencegah terjadinya pembentukan konsep diri yang salah. Selain itu, lanjut Enny, sebaiknya orang tua juga memberlakukan berbagai aturan di rumah. Bila aturan dilanggar, ada sangsinya; sebaliknya, bila dikerjakan, ada rewards. Tentu sebelumnya aturan tersebut sudah dibicarakan dengan anak sehingga ia memahaminya. Misalnya, sebelum tidur ada aturan harus gosok gigi. Nah, bila dikerjakan, berilah pujian. Tapi bila dilanggar, jangan buru-buru bilang,

"Dasar kamu anak nakal, sukanya melanggar aturan," melainkan tanyakan dulu, "Kenapa kamu enggak gosok gigi?" Siapa tahu lantaran odolnya terlalu pedas buat anak atau mulutnya lagi sariawan. Kemudian, sebelum memberi sangsi, orang tua juga harus memberitahukan letak kesalahannya. Misalnya, ia mengambil mainan adiknya. "Biasanya anak melakukannya karena spontanitas bermain. Nah, orang tua bisa memberitahukan, 'Kamu mengambil milik adikmu, itu enggak boleh. Kamu harus minta izin dulu. Kalau kamu terus melakukan perbuatan itu, nanti kamu jadi anak nakal.'" Jadi, anak diberi tahu perilaku apa yang menyimpang. Anak usia prasekolah, tutur konsultan psikologi anak dan keluarga ini, sudah bisa mengerti asal diberi tahu dengan bahasanya. "Kalaupun tak mengerti, orang tua harus mengulang-ulang lagi. Bukankah proses mendidik tak bisa sekali jadi melainkan harus terus-menerus?"

LABEL POSITIF

Selain memberikan label negatif, tak jarang orang tua juga memberikan label positif semisal "anak pintar", "anak cantik", "anak manis", dan sebagainya. Dibanding label negatif, pemberian label positif akan berdampak positif pula, yaitu memberi sugesti atau memacu anak untuk berperilaku seperti apa yang disebutkan. Misalnya, label "anak pintar". "Bagi anak, apa yang dilontarkan itu seolah-olah harapan orang lain padanya, sehingga ia pun akan berusaha untuk jadi anak yang pintar," tutur Enny. Jadi, label positif semacam rewards buat anak, "Oh, ternyata aku anak pintar," sehingga motivasinya besar sekali untuk belajar dan menjadi pintar.

Tapi, jangan salah, lo, pemberian label positif tak selamanya akan berdampak positif pula. "Pemberian label positif juga bisa berdampak negatif. Antara lain, anak jadi kehilangan spontanitasnya karena ada dorongan untuk memenuhi harapan orang tua. Padahal, spontanitas inilah yang menjadi ciri anak seusianya." Misalnya, ia selalu dikatakan sebagai anak manis sehingga ia pun mencoba untuk memenuhi harapan tersebut. Dalam berbagai pertemuan, ia harus menahan diri agar berperilaku sebagai anak manis. Bila anak lain berlarian ke sana ke mari dengan bebas, misalnya, ia akan duduk manis bak putri kerajaan. "Hal itu dilakukannya karena ia ingin menyenangkan orang tuanya, memenuhi harapan orang tuanya sebagai anak manis".

Jangan lupa, ingat Enny, pada usia prasekolah konsep diri anak masih kabur. "Ia belum punya kesadaran, aku ini siapa? Konsep dirinya sedang dibentuk sehingga aku ini kekurangannya di mana tak diketahuinya." Oleh karena itu, bila terjadi hal demikian, saran Enny, orang tua harus segera memperbaikinya. "Terangkan pada anak bahwa ia keliru menangkap maksud orang tua." Katakan, misalnya, "Yang Bunda maksud manis itu bukan berperilaku seperti itu."

Lalu jelaskan "manis"nya itu seperti apa dan bahwa ia masih punya hak untuk bermain, "Kalau dalam acara pernikahan, kamu memang boleh bersikap demikian karena itu adalah bagian dari tata krama. Tapi di luar pesta perkawinan, kamu tak harus selalu bersikap demikian. Kamu bebas berlarian dan bermain bersama teman-temanmu." Dengan demikian, anak tahu persis kapan ia harus bersikap manis dan sikap manis seperti apa yang dikehendaki orang tuanya. Label positif juga akan berdampak negatif bila tak sesuai realitasnya. "Bila anak terus menerus ingin memenuhi harapan orang tuanya sementara kemampuannya tak ada, tentu bisa melelahkan dan membuatnya frustrasi," terang Enny. Memang, orang tua bermaksud baik dengan memberikan label positif walupun orang tua tahu tak sesuai realitasnya, yaitu demi mendorong agar anak jadi pintar atau rajin. "Tapi kalau orang tua memberikan label diluar ukurannya, anak jadi kurang kepercayaan dirinya. Misalnya, ia obesitas atau kegemukan tapi orang tuanya bilang ia anak cantik, langsing, dan sebagainya," lanjutnya. Konsep dirinya juga jadi salah, kan! Jadi, Bu-Pak, hati-hati, ya, dalam memberikan label positif dan terlebih lagi label negatif.  

NAMA KESAYANGAN BUKAN LABEL

Seringkali orang tua memanggil anaknya dengan nama kesayangan yang tak ada kaitan sama sekali dengan nama sebenarnya si anak, seperti si Unyil, Cipluk, Gendut, dan sebagainya. Kendati nama-nama tersebut juga tak nyaman didengar, namun menurut Enny Hanum , dampaknya berbeda bagi anak, "karena saat orang tua mengucapkan nama itu, anak menangkap situasi yang berbeda, yaitu dalam kondisi kesayangan. Jadi, anak akan mengasosiasikannya dengan kedekatan dan rasa sayang orang tua, sehingga tak ada perasaan tak nyaman pada diri anak kala nama itu diucapkan." Memang, lanjut Enny, bila anak sudah mempunyai kelompok bermain kerap kali tak mau dipanggil dengan nama tersebut karena ledekan teman-temannya. "Tapi jangan lupa, lo, di rumah kadang anak hanya mau dipanggil dengan nama kesayangannya itu. Bahkan sampai anak besar pun masih suka dipanggil dengan nama kesayangannya karena adanya hubungan yang intim, yang punya arti khusus." Jadi, berbeda dengan label negatif, panggilan kesayangan tak akan mengubah konsep diri anak.

DIBERI LABEL OLEH LINGKUNGAN

Kadang, label diberikan bukan oleh orang tua, melainkan lingkungan. Sepulang bermain, si kecil lantas "mengadu", "Ayah, tadi aku dikatain anak nakal sama ibunya Doni." Nah, bagaimana reaksi Anda? "Sebaiknya orang tua segera menganulirnya, 'Tidak, Nak, kamu tidak nakal, hanya terlalu aktif.'," saran Enny Hanum . Dengan demikian, anak akan berpikir, "Oh, aku enggak nakal, kok." Tapi sebelumnya orang tua harus tanya dulu, "Mengapa kamu dibilang nakal?" Misalnya, karena ia berlari-larian di rumah sang teman. Nah, jelaskan padanya, "Buat keluarga Doni, lari-larian di dalam rumah itu enggak boleh tapi kalau di rumah ini boleh. Kenapa begitu? Ya, karena begitu peraturannya. Di sana rumah Doni, punya aturan yang berbeda." Menurut Enny, label yang diberikan oleh lingkungan atau orang yang tak dekat secara emosi dengan anak tak begitu berpengaruh pada anak. "Toh, ia bisa bilang ke orang tuanya dan orang tua bisa segera menganulirnya." Lain halnya bila label datang dari orang yang kehidupan sehari-harinya dekat dan tiap hari didengarnya, "anak akan berpikiran, 'Oh, aku memang begitu.'"

Jadi, saran Enny, tak usah terlalu dicemaskan bila anak mendapat label dari lingkungan. Juga tak perlu sampai orang tua melarang anak bermain ke luar rumah atau memindahkannya "sekolah" ke lain tempat. "Kalau kita memang ingin anak menjadi pribadi yang kuat, sebaiknya didik anak untuk mengatasi problem di lingkungannya. Kalau tidak, besarnya nanti ia tak akan bisa bermasyarakat. Jadi, lebih baik menguatkan dia agar lebih survive dalam menghadapi masyarakat." Caranya, ya, dengan memberi pemahaman atau menganulirnya bahwa ia tak seperti label yang diberikan tersebut.

Misalnya, "Betul bahwa kamu keliru, tapi keliru itu bisa diperbaiki. Disebut nakal bila kamu sudah diberitahu mana yang boleh dan tak boleh, tapi dengan sengaja melakukannya terus-menerus. Nah, itu yang namanya nakal. Tapi kamu sebenarnya enggak nakal, kok, kamu anak baik. Karena kamu anak baik, maka kamu tahu itu keliru, kan?" Tentunya minta agar ia tak berbuat keliru lagi, sehingga ia tak akan lagi disebut nakal. "Papa-Mama pernah keliru, kamu juga pernah keliru. Tapi karena kamu anak baik, maka kamu tak akan lakukan lagi."

Nah, dengan meng-handle perasaannya terlebih dulu, maka dampak konsep diri yang salah pun tak akan terjadi. Bila anak diberi label negatif oleh lingkungan namun orang tua tak tahu, maka orang tua harus peka. "Anak, kan, pasti merasa tak nyaman dengan diberi label negatif. Nah, ini akan jelas terlihat dari perilakunya walaupun ia tak bilang ke orang tuanya." Misalnya, ia tak mau main lagi ke luar rumah. Orang tua yang peka tentunya akan melihat perubahan tersebut, lalu tanyakan pada si anak. Dari situlah orang tua bisa tahu dan memberikan penjelasan padanya.(rps/nova)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Muslimah lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Bocah SD ini Mengidap Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!!

Bocah SD ini Mengidap Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!!

Digerogoti tumor ganas, tubuh Fatkhur Kurniawan kurus kerontang. Pundaknya terus membesar hingga sekuran bola basket. Kondisi keluarga memprihatinkan, penghasilan keluarga 16 ribu rupiah perhari....

Digerogoti TBC Tulang, Bunda Evi Terancam Lumpuh Total. Butuh Biaya Operasi 60 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!!

Digerogoti TBC Tulang, Bunda Evi Terancam Lumpuh Total. Butuh Biaya Operasi 60 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!!

Virus TBC menggerogoti tulangnya hingga menjalar ke sumsum tulang punggung. Harus segera dioperasi untuk menghindari kelumpuhan total....

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Tinggal 2 Hari Lagi, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Tinggal 2 Hari Lagi, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

IDC siap menerima zakat fitrah senilai Rp 30.000 hingga 52.000 per-jiwa untuk disalurkan kepada Mustahiq dengan prioritas Muallaf dan Fakir Miskin dari kalangan aktivis Islam dan yatim....

Yatim Muallaf ini Mau Masuk Pesantren, Butuh Biaya 24 Juta Rupiah. Ayo Bantu Zakat & Infaq..!!

Yatim Muallaf ini Mau Masuk Pesantren, Butuh Biaya 24 Juta Rupiah. Ayo Bantu Zakat & Infaq..!!

Lahir dalam keluarga Kristen taat, Valentino Nainggolan menjadi muallaf dalam usia SD. Untuk memperdalam Islam, ia dan kakaknya akan melanjutkan pendidikan ke pesantren Ayo Bantu.!!!...

Sudah Satu Bulan Mushalla Kasinoman ini Hancur Diterjang Gempa. Ayo Bantu.!!

Sudah Satu Bulan Mushalla Kasinoman ini Hancur Diterjang Gempa. Ayo Bantu.!!

Sudah 30 hari mushalla korban gempa ini hancur dan belum dibangun lagi. Ramadhan akan tiba, mushalla ini sangat dibutuhkan. Ayo bantu sedekah jariyah, pahala terus mengalir tak terbatas umur....

Latest News
Israel Kirim Surat Ancaman ke Pemimpin Hamas, Siap Serang Gaza jika Balon Pembakar Tidak Dihentikan

Israel Kirim Surat Ancaman ke Pemimpin Hamas, Siap Serang Gaza jika Balon Pembakar Tidak Dihentikan

Kamis, 19 Jul 2018 20:15

Netizen Ejek Tiang Bendera Asian Games, Fahira: Jarum Jatuh di Balaikota Pun Bisa Dipermasalahkan

Netizen Ejek Tiang Bendera Asian Games, Fahira: Jarum Jatuh di Balaikota Pun Bisa Dipermasalahkan

Kamis, 19 Jul 2018 20:09

7000 Lebih Warga Sipil dan Milisi Pro-Assad Dievakuasi dari Desa Fou'a dan Kafraya

7000 Lebih Warga Sipil dan Milisi Pro-Assad Dievakuasi dari Desa Fou'a dan Kafraya

Kamis, 19 Jul 2018 20:00

[Video] Aksi Bela Pertamina, Kisruh PGN dan Pertagas. Marwan Batubara Mengurainya

[Video] Aksi Bela Pertamina, Kisruh PGN dan Pertagas. Marwan Batubara Mengurainya

Kamis, 19 Jul 2018 19:47

Pasukan SDF yang Didukung AS Tahan Hampir 600 Pejuang Asing Islamic State di Suriah

Pasukan SDF yang Didukung AS Tahan Hampir 600 Pejuang Asing Islamic State di Suriah

Kamis, 19 Jul 2018 19:45

Akun @KakekDetektif Sebar Hoax 'Sang Alang' Terjerat Narkoba

Akun @KakekDetektif Sebar Hoax 'Sang Alang' Terjerat Narkoba

Kamis, 19 Jul 2018 19:40

Tak Gentar, Ini Kicau Mardani Ali Sera Usai Rumahnya di Bom Molotov

Tak Gentar, Ini Kicau Mardani Ali Sera Usai Rumahnya di Bom Molotov

Kamis, 19 Jul 2018 19:33

Mirah Sumirat: KSPI akan Gelar Demo 1000 Buruh Perempuan

Mirah Sumirat: KSPI akan Gelar Demo 1000 Buruh Perempuan

Kamis, 19 Jul 2018 19:06

Beredar Seruan untuk Tidak Bergabung dengan Partai Pendukung Penista Agama dari HRS

Beredar Seruan untuk Tidak Bergabung dengan Partai Pendukung Penista Agama dari HRS

Kamis, 19 Jul 2018 18:44

Kapitra Jadi Caleg PDIP, HRS: Jadi Terang Benderang, Mana Kawan Mana Lawan

Kapitra Jadi Caleg PDIP, HRS: Jadi Terang Benderang, Mana Kawan Mana Lawan

Kamis, 19 Jul 2018 18:38

Persaudaraan Alumni 212 Kecam Kapitra Jadi Caleg dari PDIP

Persaudaraan Alumni 212 Kecam Kapitra Jadi Caleg dari PDIP

Kamis, 19 Jul 2018 18:18

Ini Penyebab Nama Mahfud Siddiq dan Kader Lainnya tidak Terdaftar Caleg di PKS

Ini Penyebab Nama Mahfud Siddiq dan Kader Lainnya tidak Terdaftar Caleg di PKS

Kamis, 19 Jul 2018 18:11

Waktu Wajib Pergi Shalat Jum'at dan Haram Jual Beli

Waktu Wajib Pergi Shalat Jum'at dan Haram Jual Beli

Kamis, 19 Jul 2018 17:44

KSPI: Buruh Indonesia Menjerit, Buruh Asing Gajinya 40 Juta/bulan

KSPI: Buruh Indonesia Menjerit, Buruh Asing Gajinya 40 Juta/bulan

Kamis, 19 Jul 2018 17:34

Tidak Masuk Caleg, Mahfudz Siddiq: Saya Maafkan, dan Saya tetap PKS

Tidak Masuk Caleg, Mahfudz Siddiq: Saya Maafkan, dan Saya tetap PKS

Kamis, 19 Jul 2018 17:11

Curigai Masjid, Maka Bersiaplah Berhadapan dengan Ahli Masjid di Yaumil Akhir

Curigai Masjid, Maka Bersiaplah Berhadapan dengan Ahli Masjid di Yaumil Akhir

Kamis, 19 Jul 2018 17:02

PKS Merasa Tersandera oleh Gerindra

PKS Merasa Tersandera oleh Gerindra

Kamis, 19 Jul 2018 16:11

Trainer Jamil Azzaini Lepas 23 Santri Tahfiz Leadership

Trainer Jamil Azzaini Lepas 23 Santri Tahfiz Leadership

Kamis, 19 Jul 2018 15:44

Ini Penyebab Mengapa Banyak yang Lompat Parpol

Ini Penyebab Mengapa Banyak yang Lompat Parpol

Kamis, 19 Jul 2018 15:11

PKS dan Gerindra jangan Ikut-ikutan Kubu Jokowi Ulur Waktu Umumkan Cawapres

PKS dan Gerindra jangan Ikut-ikutan Kubu Jokowi Ulur Waktu Umumkan Cawapres

Kamis, 19 Jul 2018 14:11


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X