Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.124 views

Kebutuhan Parenting Masa Kini, Hambatan dan Tantangannya

Oleh : Widya

Akhir-akhir ini banyak pihak yang berusaha menulis tentang ilmu parenting. Berbagai macam bimbingan dan kelas parenting pun bermunculan. Mereka yang disemati gelar sebagai ayah, bunda, abah, ambu, bahkan ustadz dan ustadzah pun membuat kelas-kelas parenting. Yahudi dan Nasrani pun membuat kelas parenting, tentu dengan sudut pandang mereka. Berbagai konsep ditawarkan, seiring dengan keluarga yang mulai sadar membutuhkan bimbingan. Fenomena banyaknya kegagalan rumah tangga, tidak sesuainya harapan orang tua terhadap anak-anak mereka, dan semakin mandulnya para pendidik melahirkan generasi idaman membuat ilmu parenting semakin dibutuhkan.

Adanya Gap Generasi

Adanya gap generasi di masyarakat saat ini menjadi salah satu alasan untuk mempersiapkan dan melayakkan diri untuk meningkatkan ilmu parenting atau ilmu pengasuhan anak.

Generasi Y adalah generasi transisi antara X dan Z, sedangkan generasi Alpha ialah generasi mendatang, sudah harus beradaptasi dengan era kemajuan teknologi. Ada 4 tantangan utama dalam mengasuh anak yang yaitu:

  1. Gap generasi, Recovery masa kemerdekaan RI membuat sebagian besar orangtua dikala itu (generasi baby boomers dan gen X) memiliki mindset bahwa jika anak mau sukses, maka anaknya harus mengisi pos-pos industri sehingga orientasi target para orangtua ialah akademis tinggi pada anak-anaknya.

Generasi Y yang dibekali dengan pendidikan setinggi-tingginya tapi ternyata tidak dibekali dengan kemampuan mengasuh anak, bahkan mindset yang lazim dimiliki masyarakat hari ini ialah “mengasuh adalah hal natural yang nanti akan juga bisa didapatkan seiring dengan berjalannya waktu” atau ‘learning by doing’ dan ‘trial and error’, menyebabkan bagi generasi Y cita-cita yang terbersit akan ada pada seputar menjadi dokter, pilot, guru, dan insinyur.  Hal ini dibuktikan anak-anak pada zaman ini disibukkan dengan kegiatan akademis.

  1. Ketika tidak memiliki kesiapan mengasuh, kita akan cenderung menggunakan cara pengasuhan hasil observasi dari lingkungan terdekat. Misalnya, kita akan menggunakan kembali cara mengasuh yang digunakan oleh orangtua kita dulu walaupun kadang ada beberapa sisi yang tidak kita sukai, (sering dimarahi, sering dibandingkan, mudah diremehkan, terlalu kolot, pemikiran yang kaku dll). Tapi, rupanya secara tidak sadar kita mengulangi hal tersebut jika kita tidak memiliki pengetahuan bagaimana cara merubahnya.

Bukan bermaksud menyalahkan cara pengasuhan orang tua kita dahulu, tapi itulah cara terbaik yang bisa mereka lakukan di zamannya. Ingat! di zaman orangtua kita ilmu parenting belum marak seperti saat ini. Nah, ketika menggunakan cara pengasuhan orangtua kita dulu terhadap anak kita, ini menjadi masalah tersendiri karena kita akan mengasuh generasi Alpha! yang pola pikirnya, gaya hidupnya, tantangan di zamannya akan sangat berbeda dengan jaman orangtua kita dahulu.

Apa yang terjadi jika gaya pengasuhan Gen X, dipakai untuk mengasuh generasi Alpha?

Tentu saja hal ini akan menyebabkan terjadi kesenjangan generasi yang bisa membuat pola asuh kita tidak optimal.

  1. Generasi Alpha adalah generasi Digital native, yang sejak kecil sudah mengenal teknologi. Sehingga mereka sekarang hidup, belajar, bergaul, bahkan bernafas dengan internet. Tantangan mengasuh menjadi semakin besar dengan terjangan arus bebas informasi yang dapat diakses oleh anak kita kapan pun dan dimanapun. Perlu diketahui, di Indonesia saat ini telah  terjadi satu fenomena 'gegar budaya'  atau cultural shock yaitu suatu kondisi dimana teknologi berkembang sangat cepat namun tidak dibarengi dengan kemampuan para orangtua untuk mendampingi anaknya dalam mengenal teknologi dengan baik.

Akhirnya muncul dua tipe orang tua;

1. Orangtua permisif  yakni orangtua yang membiarkan anaknya mengenal teknologi sendirian tanpa pendampingan. Orang tua dengan tipe ini menyebabkan anak terpapar hal-hal negatif yang ada di internet.

2. Orangtua parno yakni orangtua yang menganggap internet adalah berbahaya dan akhirnya menutup akses anaknya untuk teknologi/internet. Akan tetapi, orang tua tidak menyadari bahwa hal ini lebih berbahaya karena menyebabkan anak akan mencari tahu tentang teknologi sendirian tanpa pendampingan dan menghilangkan kelekatan antara anak dan orangtua.

Bullying

Dilansir dari laman  (detik.com, 10/4/2019), mengenai kasus perundungan terhadap Audrey(14), siswi SMP di Pontianak, oleh 12 siswi SMA dengan latar belakang masalah karena komentar hingga cemburu di Facebook, mendapat perhatian luas di media sosial saat ini dengan hadirnya tagar #JusticeForAudrey, bisa jadi merupakan salah satu akibat dari efek negatif culture shock.

Perlu digarisbawahi, bahwa yang menjadi salah satu pemicunya ialah 'komentar dan cemburu di salah satu media sosial' facebook'.

Apabila kita tidak sigap dengan tantangan mengasuh di era digital, anak-anak hari ini terancam BLAST (Bored, Lonely, Afraid,Angry, Stress, Tired).  Hidup anak akan membosankan dengan kurikulum di sekolah menjadi semakin berat, ditambah lagi dengan tuntutan orangtua harus les misalnya. Anak menjadi kesepian, tidak ada teman untuk bercerita, komunikasi orangtua dengan anak buruk,  sehingga media sosial lah yang akan menjadi pelampiasan. Selain itu anak akan mudah marah, stress dan kelelahan. Anak-anak BLAST sangat rentan terhadap bullying, penuh tekanan, sasaran empuk pebisnis pornografi dan budaya hidup tidak sehat.

Padahal anak-anak yang akan kita besarkan hari ini dan sekian puluh juta anak lainnya akan mengisi semua posisi pemimpin di negeri ini di tahun 2045. Di kemudian hari merekalah yang kelak akan menjadi dokter, guru, peneliti, birokrat, menteri, bahkan presiden. Bisakah kita bayangkan apa yang terjadi di negeri ini jika generasi penerusnya terancam BLAST?

Yuk Belajar Mendidik!

Yuk kita sama-sama belajar mengasuh anak (parenting) dari sekarang. Tidak ada kata terlambat. Sadari bahwa anak kita adalah amanah. Bayangkan jika kita dititipkan satu buah benda berharga oleh seorang presiden, apa yang akan kita lakukan? Pastinya kita akan menjaga barang tersebut dengan sangat hati-hati. Bahkan jangan sampai ada satu gores pun pada benda tersebut. Sekarang kita dititipkan seorang anak oleh yang Maha Segalanya. Berapa kali lipat kita harus berhati-hati menjaga titipan tersebut? Jangan sampai kita mengembalikannya atau mempertanggungjawabkannya dalam keadaan yang rusak.

Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah ialah solusi. Memeluk Islam secara totalitas mutlak harus dilakukan. Karena Islam secara lengkap telah menawarkan keabadian konsep & ilmu. “Seabadi Al Quran, seabadi pribadi Rasulullah saw. Seabadi kebesaran sejarah Islam." Semua sepakat bahwa Rasul Muhammad adalah manusia mulia yang melahirkan keluarga mulia dan generasi yang mulia. Manusia hebat yang melahirkan keluarga dan generasi yang hebat pula.

Mengapa kita tidak memunculkan konsep keluarga yang diusung orang yang mulia. Yang selalu menyesuaikan antara konsep dan aplikasinya dalam rumah tangganya sendiri.

Mengapa tidak kita bangkitkan kembali keluarga yang terbukti telah menghasilkan para pemimpin bumi, pilar peradaban yang membawa cahaya. Bahkan yang dikagumi kawan maupun lawan.

Rasul sebagai Teladan

Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana Ia mendidik Ibnu Abbas ra. Sambil membonceng di atas unta, Rasul SAW berkata kepadanya,“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering’” (HR. Tirmidzi).

Dalam buku Parenting Nabawiyah, ustadz Budi Ashari menyampaikan, "Usia Ibnu Abbas saat itu sekitar 10-11 tahun. Tapi dia sudah mendapat pelajaran sedemikian rupa. Mari perhatikan kalimat Nabi. Kalimatnya berbobot. Namun, disampaikan dalam suasana yang rileks, sambil naik kendaraan. Coba bayangkan anak-anak kita yang seusia saat mendengar kalimat di atas. Mungkin lebih banyak bengongnya sambil nyeletuk, ‘Pak Guru ngomong apa sih? Allah kok dijaga?"

Padahal Ibnu Abbas masih belia saat itu. Artinya, tak ada beda dengan anak-anak kita. Tapi Ibnu Abbas dididik secara intensif. Bahkan dia menjadi penasihat kepala negara saat Umar bin Khattab ra. Kira-kira usianya masih 15-16 tahun. Inilah salah satu model pendidikan Islam yaitu hemat umur.

Begitulah pendidikan di masa silam, menghasilkan tokoh-tokoh yang hafal Al Quran di usia anak-anak. Imam Syafii hafal Al Quran usia 7 tahun, juga Imam Ath Thabari, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Umar bin Abdul Aziz, dll.

Begitu indah Islam dan cahayanya menerangi peradaban. Tak ada yang  bisa menghapus sejarah kebesaran Islam.  Sejarah akan berulang. Mungkin saat ini kaum muslimin sedang diserang di berbagai lini kehidupan namun mereka yang tidak menyukai islam tidak akan mampu mencegah hari dimana Islam akan  bersinar, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu'alam Bish Shawab. (rf/voa-islam.com)

Sumber pustaka:

Shock Culture, Wikipedia

Parenting Nabawiyah, Ustadz Budi Ashari

*Penulis adalah Founder Komunitas Muslimah Menjahit & Bandung Storytellingclub.

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Muslimah lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Bermodal kaki palsu Abu Rahman keliling Kota Solo menjajakan minuman 'es kapal' untuk menafkahi keluarga. Kini ia tak bisa bekerja lagi karena kaki palsunya jebol tak bisa diperbaiki.Ayo Bantu.!!...

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Selain jadi target pemurtadan misionaris, warga kesulitan air bersih untuk wudhu, mandi, minum, memasak, dll. Diperlukan dana 11 juta rupiah untuk pipanisasi penghubung sumber mata air ke masjid,...

Pembangunan Terhenti, Mushalla di Pelosok Sambong ini Terbengkalai. Ayo Bantu.!!

Pembangunan Terhenti, Mushalla di Pelosok Sambong ini Terbengkalai. Ayo Bantu.!!

Kondisi Mushalla Khoirussalam Sambong ini semrawut karena pembangunan berhenti terkendala dana. Dibutuhkan dana 15 juta rupiah untuk menuntaskan mushalla hingga layak dan nyaman. ...

Ingin Jadi Guru dan Penghafal Al-Qur’an, Yatim Nurlia  Butuh Biaya Sekolah, Ayo Bantu!!

Ingin Jadi Guru dan Penghafal Al-Qur’an, Yatim Nurlia Butuh Biaya Sekolah, Ayo Bantu!!

Yatim berprestasi ini putus sekolah. Impian pendidikan pesantren untuk mewujudkan cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an dan guru agama Islam terkubur oleh kendala biaya....

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Nenek renta ahli ibadah ini hidup seorang diri di bilik reyot Bengawan Solo. Bila hujan seisi rumah kebocoran air. Di malam hari, ia menggigil kedinginan diserang angin malam karena dindingnya...

Latest News
Italia Perintahkan TikTok Blokir Akun Pengguna Setelah Kematian Bocah Berusia 10 Tahun

Italia Perintahkan TikTok Blokir Akun Pengguna Setelah Kematian Bocah Berusia 10 Tahun

Sabtu, 23 Jan 2021 21:30

Cina Beri Wewenang Penjaga Pantai Untuk Menembak Dan Menghancurkan Kapal Asing

Cina Beri Wewenang Penjaga Pantai Untuk Menembak Dan Menghancurkan Kapal Asing

Sabtu, 23 Jan 2021 20:15

Putra Pengusaha Suriah Yang Terkait Ledakan Beirut Selamat Dari Upaya Pembunuhan

Putra Pengusaha Suriah Yang Terkait Ledakan Beirut Selamat Dari Upaya Pembunuhan

Sabtu, 23 Jan 2021 19:45

Pemerintahan Biden Akan Tinjau Kesepakatan Perjanjian Dengan Taliban

Pemerintahan Biden Akan Tinjau Kesepakatan Perjanjian Dengan Taliban

Sabtu, 23 Jan 2021 18:15

Ketua Komnas HAM Bagaikan Merangkap Ketua Tim Pembela Polisi

Ketua Komnas HAM Bagaikan Merangkap Ketua Tim Pembela Polisi

Sabtu, 23 Jan 2021 17:55

Cerita Syekh Palestina Selesaikan Hafalan Quran Bersanad di Pengungsian

Cerita Syekh Palestina Selesaikan Hafalan Quran Bersanad di Pengungsian

Sabtu, 23 Jan 2021 17:50

Anis: Indonesia Mengulang Kondisi Krisis Ekonomi 1998

Anis: Indonesia Mengulang Kondisi Krisis Ekonomi 1998

Sabtu, 23 Jan 2021 17:26

Muadzin Baca Shalawat Setelah Adzan Dengan Keras, Bolehkah?

Muadzin Baca Shalawat Setelah Adzan Dengan Keras, Bolehkah?

Sabtu, 23 Jan 2021 14:00

12 Pengungsi Tewas Dibunuh Di Kamp Timur Laut Suriah Tempat Anggota Keluarga IS Ditahan

12 Pengungsi Tewas Dibunuh Di Kamp Timur Laut Suriah Tempat Anggota Keluarga IS Ditahan

Jum'at, 22 Jan 2021 23:16

Tahanan Palestina di Penjara Israel Meninggal Setelah Menerima Vaksin Virus Corona

Tahanan Palestina di Penjara Israel Meninggal Setelah Menerima Vaksin Virus Corona

Jum'at, 22 Jan 2021 22:37

Pantaskah Menuduh Curah Hujan Menjadi Penyebab Bencana Banjir?

Pantaskah Menuduh Curah Hujan Menjadi Penyebab Bencana Banjir?

Jum'at, 22 Jan 2021 19:42

Suami Menyusu ke Istrinya, Ini Pandangan Syaikh Bin Bazz!

Suami Menyusu ke Istrinya, Ini Pandangan Syaikh Bin Bazz!

Jum'at, 22 Jan 2021 17:08

Anggota DPR Ingatkan Penanggungjawab Penanganan Covid-19 Ada Dipundak Presiden Jokowi

Anggota DPR Ingatkan Penanggungjawab Penanganan Covid-19 Ada Dipundak Presiden Jokowi

Jum'at, 22 Jan 2021 12:38

Banjir Kalsel Akibat Kerusakan Lingkungan, Netty: Pemerintah Jangan Lepas Tangan!

Banjir Kalsel Akibat Kerusakan Lingkungan, Netty: Pemerintah Jangan Lepas Tangan!

Jum'at, 22 Jan 2021 08:43

Perintah Halal dan Tayyib Tidak Hanya Untuk Makanan Saja

Perintah Halal dan Tayyib Tidak Hanya Untuk Makanan Saja

Kamis, 21 Jan 2021 23:55

Studi: Penggunaan Masker Bantu Cegah Penularan Covid-19

Studi: Penggunaan Masker Bantu Cegah Penularan Covid-19

Kamis, 21 Jan 2021 22:05

Benyamin Netanyahu Desak Presiden Amerika Joe Biden Perkuat Aliansi AS-Israel

Benyamin Netanyahu Desak Presiden Amerika Joe Biden Perkuat Aliansi AS-Israel

Kamis, 21 Jan 2021 21:51

Serangan Bom Jibaku Kembar Di Baghdad Irak Tewaskan 28 Orang

Serangan Bom Jibaku Kembar Di Baghdad Irak Tewaskan 28 Orang

Kamis, 21 Jan 2021 20:54

Pandemi Covid-19 Belum Mereda, MP Persis Usulkan Muktamar Diundur Lagi

Pandemi Covid-19 Belum Mereda, MP Persis Usulkan Muktamar Diundur Lagi

Kamis, 21 Jan 2021 19:00

Menggantungkan Harapan dan Nasib

Menggantungkan Harapan dan Nasib

Kamis, 21 Jan 2021 16:26


MUI

Must Read!
X