Rabu, 25 Zulqaidah 1447 H / 7 Juli 2010 18:31 wib
1.896 views
Anggota Parlemen Australia: Larang Khotib Ekstrimis!

SIDNEY - Khotib yang menyuarakan ekstremisme Islam harus dilarang di Australia, kata seorang anggota parlemen federal.
Michael Johnson, anggota majelis rendah independen, juga meminta diadakan perdebatan mengenai larangan burqa.
Dia mengatakan Perdana Menteri Julia Gillard dan mantan bosnya, Pemimpin Oposisi Tony Abbott, perlu untuk menolak kepemimpinan Hizbut Tahrir, sebuah kelompok Islam global yang menyerukan Muslim Australia untuk menolak demokrasi.
"Bergabunglah bersama dan tinggalkan ekstremisme dari gerakan global dan ... dan jaminlah bahwa tidak ada pengkhotbah internasional boleh menerima visa ke ke tanah Australia lagi," kata Johnson dalam sebuah pernyataan.
Release dari Johnson ini dikeluarkan untuk menanggapi sebuah artikel di The Australian yang melaporkan pemimpin Hizbut Tahrir mendesak pengikutnya di Sydney barat untuk bergabung dengan memperjuangan sebuah negara Islam transnasional.
Johnson mengatakan, warisan Australia Yahudi-Kristen mempromosikan inklusi, keterbukaan dan transparansi.
"Ini bukan budaya kita untuk dikecualikan, juga bukan salah satu yang bertujuan untuk menekan hak-hak kesetaraan perempuan, keterbukaan dan partisipasi politik penuh," katanya.
"Karena itu, marilah kita adakan perdebatan mengenai apakah wanita diwajibkan untuk memakai pakaian dari kepala sampai kaki, niqab, atau burqa."
Pada bulan Mei, Senator Liberal Cory Bernardi menyerukan larangan mengenakan burqa, dan kemudian meminta kritik dari Victorian Premier John Brumby.
Namun, komentar Mr Johnson membuatnya menjadi Queenslander paling vokal yang mengkritik kelompok minoritas sejak Pauline Hanson mengatakan pada tahun 1996, pidatonya di parlemen bahwa Australia terancam "tenggelam oleh orang-orang Asia".
Nampaknya Australia mulai khawatir akan kebangkitan Islam disana. Dan juga, mulai banyak orang-orang seperti Gert Wilders di Australia.
[muslimdaily.net/SMH]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!