Usth Dr. Atifah Hasan Ajak Umat Islam Putihkan Bekasi dalam Aksi 'Bekasi Bersama Palestina Jilid 6'Jum'at, 24 Apr 2026 14:29 |
|
PIHK Tolak Pengembalian Keuntungan, Ini Dasar Konstitusi dan Syar’inyaJum'at, 24 Apr 2026 10:42 |
|
Dokter Tifa Sebut Wajib Lapor sebagai “Tahanan Kota”, Singgung Kasus Ijazah JokowiKamis, 23 Apr 2026 15:51 |
|
Bekasi Bersama Palestina Jilid 6 Siap Digelar, Ummat Diajak Tunjukkan Solidaritas NyataKamis, 23 Apr 2026 14:53 |
|
Cela Pendosa dan Bangga Diri Dengan Ibadah. BAHAYA!Kamis, 23 Apr 2026 14:20 |
|
Gejolak Hormuz–Malaka: Alarm bagi Ketahanan UmatKamis, 23 Apr 2026 06:30 |
|
Tidak Akan Pernah Bisa Menyenangkan Semua OrangSelasa, 21 Apr 2026 16:30 |
|
Bolehkah Adzan Tanpa Wudhu?Selasa, 21 Apr 2026 12:37 |
|
Kolaborasi Kemenhaj–Polri, Haji Ilegal Kini di Ujung TandukSelasa, 21 Apr 2026 08:40 |


Kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April mendatang bukanlah hal yang tepat. Belajar dari pengalaman di tahun 2005, Pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 130%, dari semula Rp 1.800,- naik menjadi Rp 2.400,-. Kebijakan tersebut memicu kenaikan harga kebutuhan pokok secara umum, dikarenakan BBM merupakan faktor produksi yang dapat dikategorikan sebagai cost atau biaya. Pada tahun 2005 kenaikan BBM meningkatkan laju inflasi sebesar 7% mengakibatkan bertambahnya penduduk miskin sebesar 4,4 juta jiwa.



