Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
145 views

Teman Ribuan Jiwa Kesepian: Potret Kelam Generasi Sekuler

Oleh: Ummu Firly | Aktivis Muslimah

Ada orang yang dikelilingi banyak manusia, tetapi merasa tidak memiliki siapa-siapa. Ada yang setiap hari aktif di media sosial, memiliki ratusan bahkan ribuan koneksi, tetapi tak tahu kepada siapa harus bercerita ketika hatinya sedang runtuh. Ada pula yang tampak baik-baik saja di hadapan keluarga, teman, dan lingkungan, tetapi diam-diam sedang berjuang keras agar tetap bertahan.

Inilah paradoks kehidupan modern: semakin mudah manusia terhubung, semakin banyak pula yang merasa sendirian.

Kesepian Menjadi Alarm Generasi Muda

Kabar tentang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) yang diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari gedung kampus pada 10 September 2026 kembali mengguncang kesadaran publik. RR selamat dan menjalani perawatan, sementara pihak berwenang masih mendalami latar belakang peristiwa tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, publik juga dikejutkan dengan meninggalnya seorang pria berinisial FS di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 6 September 2026. Sebelum ditemukan meninggal, FS diketahui meninggalkan pesan perpisahan dan sempat memberikan donasi senilai Rp40 juta kepada komunitas sosial.

Dua peristiwa ini tentu tidak boleh dibaca secara serampangan sebagai kasus yang memiliki penyebab tunggal. Setiap manusia memiliki pergulatan hidup yang berbeda. Karena itu, tidak tepat menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa seseorang melakukan percobaan bunuh diri semata-mata karena lemahnya iman atau persoalan pribadi.

Namun, ketika kasus serupa terus muncul, kita patut bertanya lebih jauh: mengapa semakin banyak manusia modern merasa begitu berat menjalani hidupnya? Mengapa kesepian dan keputusasaan justru tumbuh di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi?

…Kesepian dan keputusasaan justru tumbuh di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi...

Pertanyaan ini semakin penting jika melihat data di laman Healing119.id. Dalam periode satu tahun hingga Juli 2026, ribuan orang tercatat mengakses layanan tersebut dan lebih dari 3.000 orang dilaporkan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.

Kelompok usia 21–30 tahun menjadi kelompok terbesar, disusul kelompok usia 11–20 tahun. Bahkan layanan tersebut telah diakses anak-anak.

Data ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan lagi isu yang berada di pinggir kehidupan sosial. Ia telah menyentuh generasi muda, generasi yang seharusnya sedang berada pada fase membangun masa depan.

Maka, persoalannya tidak cukup dijawab dengan pertanyaan, “Mengapa mereka tidak kuat?” Kita juga perlu bertanya, “Lingkungan kehidupan seperti apa yang sedang kita bangun hingga begitu banyak anak muda merasa begitu berat menjalani hidup?”

Ketika Hidup Berubah Menjadi Perlombaan

Generasi hari ini tumbuh dalam lingkungan yang semakin menempatkan keberhasilan individual sebagai ukuran utama kehidupan. Pendidikan diarahkan pada prestasi, pekerjaan pada karier, kehidupan sosial pada pencapaian, sementara media sosial terus menyuguhkan gambaran tentang orang-orang yang tampak sukses, bahagia, produktif, dan memiliki kehidupan sempurna.

Manusia akhirnya mudah terjebak dalam perlombaan: siapa paling sukses, paling kaya, paling berprestasi, paling menarik, paling produktif, dan paling diakui.

Budaya semacam ini melahirkan tekanan yang tidak sederhana. Seseorang bisa merasa gagal hanya karena pencapaiannya tidak secepat orang lain. Ia bisa merasa tidak berharga ketika kariernya tertinggal atau merasa hidupnya tidak berarti ketika hubungan sosialnya tidak sesuai harapan.

Di sinilah budaya positivisme dan orientasi hidup yang terlalu berpusat pada pencapaian material ikut mempersempit cara manusia memandang dirinya. Nilai seseorang mudah dikaitkan dengan sesuatu yang tampak dan terukur: prestasi, produktivitas, status, materi, serta pengakuan sosial.

Padahal manusia bukan mesin produksi. Manusia memiliki ruh, hati, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan untuk merasa dicintai, dan kebutuhan paling mendasar untuk mengetahui untuk apa ia hidup. Ketika dimensi ruhani dipinggirkan, manusia mungkin memiliki banyak hal untuk dijalani, tetapi kehilangan alasan mengapa ia harus bertahan.

…Manusia mungkin memiliki banyak hal untuk dijalani, tetapi kehilangan alasan mengapa ia harus bertahan…

Sekularisme dan Hilangnya Kompas Kehidupan

Inilah salah satu persoalan mendasar sekularisme. Ketika agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, agama akhirnya lebih banyak ditempatkan sebagai urusan privat. Akidah tidak lagi menjadi fondasi dalam pendidikan, budaya, ekonomi, maupun kehidupan sosial secara menyeluruh.

Akibatnya, ketika seseorang menghadapi kegagalan, kehilangan, tekanan ekonomi, konflik hubungan, atau masa depan yang terasa gelap, ia bisa kehilangan kompas untuk memahami semua itu dalam perspektif kehidupan yang lebih luas.

Bukan berarti seorang Muslim yang memiliki iman tidak mungkin mengalami depresi, tekanan, atau membutuhkan bantuan profesional. Justru Islam mengajarkan manusia untuk berikhtiar, termasuk mencari pertolongan ketika menghadapi masalah kejiwaan.

Namun, iman memberikan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh materi maupun pencapaian: makna hidup dan harapan kepada Allah.

Masalah berikutnya adalah individualisme. Kapitalisme dengan orientasi material dan kompetisi individual turut membentuk pola kehidupan yang membuat setiap orang sibuk mengejar kepentingannya masing-masing.

Kesuksesan personal menjadi tujuan yang sangat ditekankan, sementara ikatan sosial semakin melemah. Kita hidup berdampingan, tetapi belum tentu hidup bersama. Tetangga bisa tinggal bersebelahan bertahun-tahun tanpa benar-benar mengenal satu sama lain. Teman bisa bertemu setiap hari tetapi tidak pernah mengetahui bahwa sahabatnya sedang mengalami tekanan berat. Bahkan dalam keluarga, komunikasi bisa kalah oleh kesibukan masing-masing.

Ironisnya, seseorang bisa memiliki banyak followers, tetapi tidak memiliki satu orang pun yang benar-benar dapat ia datangi ketika hidup terasa berat.

…Kita hidup berdampingan, tetapi belum tentu benar-benar hidup bersama…

Kasus FS di GBK bahkan memperlihatkan paradoks yang menyentuh: seseorang yang diketahui memiliki kepedulian sosial dan memberikan donasi puluhan juta rupiah kepada komunitas kesehatan mental tetap dapat berada dalam pergulatan pribadi yang sangat berat.

Ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial dan keberlimpahan materi tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kesepian.

Karena itu, penyelesaian persoalan kesehatan mental tidak cukup hanya dengan meminta individu “lebih kuat”. Tidak cukup pula dengan menyediakan layanan konseling tanpa membenahi lingkungan sosial yang membuat manusia semakin terasing. Kita membutuhkan perubahan cara pandang terhadap manusia dan kehidupan.

Islam Tidak Membiarkan Manusia Berjuang Sendirian

Islam memiliki cara pandang yang berbeda. Islam membangun akidah sejak dini sehingga seorang Muslim tidak hanya diajarkan bagaimana meraih keberhasilan dunia, tetapi juga memahami bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian dan kehidupan akhirat adalah tujuan akhir.

Allah berfirman, “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Qs Al-Baqarah 155).

Dengan perspektif ini, kesulitan tidak otomatis dimaknai sebagai akhir kehidupan. Kegagalan bukan berarti manusia kehilangan harga dirinya. Kehilangan bukan berarti hidup tidak lagi bermakna. Ada Allah yang menjadi tempat bergantung.

Islam juga memberikan batas yang tegas bahwa kehidupan manusia adalah amanah dari Allah. Karena itu, bunuh diri merupakan perbuatan yang diharamkan. Larangan tersebut bukan sekadar aturan hukum, tetapi bagian dari penjagaan terhadap jiwa manusia.

Namun Islam tidak berhenti pada nasihat agar seseorang “beriman dan sabar”. Islam membangun keluarga dan masyarakat yang saling menjaga melalui kewajiban berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, memperhatikan tetangga, membantu orang yang membutuhkan, menyantuni fakir miskin, menolong orang yang sedang kesulitan, dan menguatkan ukhuwah di antara kaum Muslim.

Dengan demikian, seseorang tidak dibiarkan menghadapi seluruh persoalannya seorang diri.

Lebih jauh lagi, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengurus urusan rakyat. Negara tidak cukup hadir ketika masalah sudah menjadi berita, tetapi harus menciptakan sistem kehidupan yang memungkinkan manusia tumbuh sebagai pribadi yang kokoh sekaligus hidup dalam masyarakat yang saling menguatkan.

Dalam sistem Islam, pendidikan dibangun di atas akidah. Ilmu tidak dipisahkan dari kesadaran tentang tujuan penciptaan manusia. Peserta didik tidak hanya disiapkan menjadi tenaga kerja yang produktif, tetapi juga menjadi manusia yang memahami tanggung jawabnya kepada Allah dan sesama.

Sistem ekonomi Islam pun memiliki mekanisme untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan mencegah konsentrasi kekayaan hanya pada segelintir pihak. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, tekanan kehidupan akibat kemiskinan struktural dapat diminimalkan, sementara masyarakat dibangun dengan ikatan akidah, bukan semata-mata kepentingan materi.

Inilah karakter Khilafah sebagai institusi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Negara tidak memandang rakyat sekadar sebagai angka statistik ekonomi atau sumber daya manusia, tetapi sebagai amanah yang harus diurus dan dilindungi.

Tentu, penerapan sistem Islam bukan berarti setiap problem psikologis akan hilang. Manusia tetap dapat mengalami sakit, kehilangan, tekanan, dan persoalan kejiwaan. Karena itu, layanan kesehatan jiwa, psikolog, psikiater, pendampingan, dan pencegahan bunuh diri tetap dibutuhkan.

Namun, seluruh ikhtiar tersebut ditempatkan dalam sebuah sistem kehidupan yang memberikan manusia iman, makna, keluarga, masyarakat, sekaligus jaminan kesejahteraan.

…Islam tidak hanya memberikan alasan untuk bertahan, tetapi juga membangun kehidupan agar manusia tidak menanggung bebannya sendirian…

Manusia Membutuhkan Alasan untuk Hidup

Kasus-kasus yang muncul seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Jangan sampai generasi muda hanya diajarkan bagaimana memenangkan persaingan, tetapi tidak diajarkan bagaimana memaknai kegagalan.

Jangan hanya mengajarkan cara mendapatkan pekerjaan, tetapi lupa mengajarkan untuk apa manusia bekerja. Jangan hanya membangun ruang-ruang pendidikan yang megah, tetapi membiarkan anak-anak tumbuh tanpa tempat untuk mencurahkan kegelisahan.

Dan jangan hanya bertanya, “Mengapa dia tidak kuat?” ketika seseorang sudah berada di titik paling rapuh.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: masyarakat seperti apa yang sedang kita bangun hingga begitu banyak orang merasa harus menghadapi hidup seorang diri?

Di tengah gemerlap kota, teknologi yang semakin canggih, dan koneksi digital yang tak mengenal batas, jangan sampai manusia justru kehilangan satu hal yang paling ia butuhkan: seseorang yang hadir ketika ia sedang tidak baik-baik saja.

Islam menawarkan lebih dari sekadar terapi bagi individu yang sedang terluka. Islam menawarkan konstruksi kehidupan yang menjaga manusia dari dalam melalui akidah, menguatkannya melalui keluarga dan masyarakat, serta melindunginya melalui negara.

Sebab manusia tidak cukup hanya diberi alasan untuk sukses. Manusia membutuhkan alasan untuk hidup.

Dan alasan itu akan ditemukan ketika manusia kembali memahami siapa dirinya, untuk apa ia diciptakan, kepada siapa ia akan kembali, serta bagaimana kehidupan harus diatur agar tidak ada seorang pun merasa sendirian menanggung beratnya dunia. [voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Smart Teen lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Nasib masjid di Kampung Cilumbu ini sungguh mengenaskan. Lima tahun mangkrak, kini nyaris tak berbentuk masjid, dipenuhi rumput liar, berlumut, dan menghitam terpapar panas dan hujan....

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Sahabat, Ulurtangan mari kirimkan dukungan terbaikmu untuk warga Palestina di Gaza demi menguatkan mereka menghadapi situasi mencekam ini. Mari dukung mereka dengan berdonasi dengan cara:...

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Saat ini, Ulurtangan bersama Yayasan An Najjahtul Islam Jonggol sedang merintis pembangunan Rumah Qur’an dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) An Najjah dan Gedung Majelis Taklim di Jonggol,...

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Mari bergabung dalam memperkuat jaringan kebaikan di pelosok negeri dengan Wakaf Al-Qur'an. Jangan ragu untuk menjadi bagian dari kebaikan ini. Abadikan harta dengan wakaf Al-Qur'an dan saksikan...

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Hidup Naura Salsabila dipenuhi dengan rintangan yang sangat berat. Meskipun baru berusia sepuluh bulan, bayi yang imut ini harus menghadapi penyakit yang dahsyat, yaitu tumor pembuluh darah berukuran...

Latest News

MUI

Sedekah Al Quran

Sedekah Air untuk Pondok Pesantren

Must Read!
X