Rabu, 17 Zulhijjah 1447 H / 3 Juni 2026 21:10 wib
53 views
Menjadi Manusia Berakal: 5 Objek Renungan Akal yang Menghidupkan Hati
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Setiap manusia dikaruniai akal, namun tidak semua akal digunakan untuk merenungkan hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan. Dalam kitab monumental Al-Jawabul Kafi (atau dikenal juga dengan Ad-Da' wad Dawa'), Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa pikiran orang yang berakal tidak akan keluar dari koridor yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat.
Renungan yang paling tinggi dan mulia adalah renungan yang tertuju kepada Allah dan negeri akhirat. Ibnul Qayyim membaginya ke dalam 5 objek renungan utama yang dapat mengubah kualitas iman dan hidup seorang Muslim.
1. Merenungkan Ayat-Ayat Al-Qur'an (Tadabbur)
Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca -apalagi diperlombakan suaranya-, melainkan untuk dipahami maknanya dan ditangkap maksudnya. Membaca adalah sarana, sedangkan memahami dan mengamalkan adalah tujuan utamanya.
Sebagian ulama salaf pernah menyentil fenomena ini dengan mengatakan:
أُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذُوا تِلَاوَتَهُ عَمَلًا
"Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, tetapi manusia justru menjadikan membacanya semata sebagai amal."
2. Merenungkan Tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta (Tafakkur)
Tanda-tanda kekuasaan Allah yang terhampar di jagat raya adalah khazanah pelajaran yang tak terbatas. Dengan memikirkan penciptaan langit, bumi, dan seisinya, kita dapat melihat dalil nyata atas nama-nama, sifat, hikmah, serta kasih sayang-Nya. Allah sangat mencela orang-orang yang abai dan lalai dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya ini.
3. Merenungkan Nikmat dan Karunia Allah
Akal yang digunakan untuk memikirkan banyaknya nikmat, ampunan dan kebaikan Allah yang kita terima setiap hari akan menumbuhkan empat pilar utama dalam hati kita:
- Makrifat (pengenalan yang baik kepada Allah)
- Mahabbah (cinta yang tulus)
- Khauf (rasa takut akan kemurkaan-Nya)
- Raja' (harapan yang besar pada rahmat-Nya)
Jika ketiga jenis renungan di atas (Al-Qur'an, alam semesta, dan nikmat) dilakukan secara konsisten dan diiringi dengan zikir, maka hati akan terwarnai secara sempurna oleh makrifat dan cinta kepada Allah.
4. Merenungkan Kekurangan Diri dan Penyakit dalam Jiwa
Orang yang berakal akan sibuk memikirkan cacat pada amal perbuatannya sendiri dan penyakit yang ada di dalam jiwanya.
Renungan ini sangat besar manfaatnya dan merupakan pintu menuju segala kebaikan. Pengaruhnya sangat kuat dalam menundukkan jiwa yang selalu mendorong kepada keburukan (nafsu amarah). Ketika jiwa tersebut berhasil ditaklukkan, bangkitlah jiwa yang tenang (nafs muthma'innah), lalu ia memegang kendali, menghidupkan hati, dan menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk melakukan ketaatan.
5. Merenungkan Waktu dan Kewajiban Saat Ini
Orang yang bijak adalah "anak zamannya". Ia fokus pada apa kewajiban yang harus ia lakukan saat ini, detik ini. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan seluruh kemaslahatan hidup, sebab waktu yang hilang tidak akan pernah bisa kembali.
Imam Muhammad bin Idris al-Shafi'i berkata: "Aku bergaul dengan kaum sufi, dan aku tidak mengambil manfaat dari mereka kecuali dua kalimat. Yang pertama adalah ucapan mereka:
الْوَقْتُ سَيْفٌ، فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ
"Waktu itu bagaikan pedang. Jika engkau tidak memotongnya, ia akan memotongmu."
Kalimat kedua adalah:
وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ وَإِلَّا شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ
"Jiwamu, jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan."
Berapa Banyak "Umur Nyata" Kita?
Hakikat umur manusia adalah waktu yang ia miliki. Waktu adalah modal utama untuk meraih kenikmatan kekal di akhirat, atau justru bisa menjadi bahan bakar azab yang pedih jika disia-siakan.
Maka bagian waktu yang digunakan untuk Allah dan dengan pertolongan Allah itulah kehidupan dan umur yang sesungguhnya. Adapun selain itu, pada hakikatnya tidak terhitung sebagai kehidupan. Meskipun seseorang hidup di dalamnya, ia hidup sebagaimana kehidupan hewan.
Apabila waktunya dihabiskan dalam kelalaian, kealpaan, angan-angan kosong, sementara bagian terbaik dari waktunya hanya digunakan untuk tidur dan bermalas-malasan, maka kematian orang seperti ini lebih baik daripada kehidupannya.
Sebagaimana seorang hamba yang sedang shalat tidak memperoleh bagian dari shalatnya kecuali sebesar yang ia sadari dan hayati, demikian pula ia tidak memperoleh bagian dari umurnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah dan karena Allah.
Semoga kita termasuk orang-orang berakal yang mampu mengarahkan pikiran kita pada kelima hal di atas, sehingga setiap detik yang berlalu tercatat sebagai umur yang berkah. Wallahu a'lam. [purWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!