Selasa, 21 Muharram 1448 H / 7 Juli 2026 14:57 wib
96 views
Jangan Mencela Orang yang Telah Meninggal Dunia!!!
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Islam adalah agama yang mengajarkan kebaikan dalam setiap keadaan. Kebaikan itu tidak hanya ditujukan kepada mereka yang masih hidup, tetapi juga kepada mereka yang telah meninggal dunia. Jika kepada orang yang hidup kita diperintahkan untuk menjaga lisan, menghormati, dan tidak menyakiti perasaannya, maka kepada orang yang telah wafat pun Islam mengajarkan adab yang sama.
Salah satu bentuk kebaikan kepada orang yang telah meninggal adalah tidak mengungkit-ungkit keburukan dan kesalahan mereka. Sebab, ketika seseorang telah kembali kepada Allah, lembaran amalnya telah tertutup. Yang tersisa bagi kita bukanlah mencela, melainkan mengambil pelajaran, mendoakan kebaikannya, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
"Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah sampai kepada balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."(HR. al-Bukhari, no. 1393)
Hadits ini menunjukkan bahwa mencela orang yang telah meninggal adalah perbuatan yang dilarang. Mereka telah menghadap Allah dan menerima balasan sesuai dengan amal yang pernah mereka lakukan, baik amal yang baik maupun yang buruk. Urusan mereka kini berada di hadapan Rabb Yang Maha Adil.
Karena itu, mencela mereka tidak akan mengubah keadaan mereka sedikit pun. Celaan kita tidak lagi memberi manfaat ataupun menambah mudarat bagi mereka. Sebaliknya, perkataan buruk itu justru melukai hati orang-orang yang masih hidup, terutama keluarga, anak-anak, dan kerabat yang ditinggalkan. Betapa pedihnya ketika seseorang harus mendengar ayah, ibu, suami, istri, atau saudaranya yang telah wafat menjadi bahan celaan dan gunjingan.
Islam tidak menginginkan lisan seorang Muslim menjadi sebab lahirnya permusuhan dan kebencian. Menjaga diri dari mencela orang yang telah meninggal merupakan salah satu cara menjaga persaudaraan, memelihara keharmonisan masyarakat, dan menghormati perasaan sesama.
Di sisi lain, hadits ini juga mengajarkan agar seorang Muslim tidak mengucapkan sesuatu yang tidak membawa manfaat. Jika sebuah ucapan tidak menghasilkan kebaikan, bahkan hanya membuka luka dan menimbulkan kebencian, maka meninggalkannya adalah pilihan yang lebih mulia.
Bukan berarti Islam menutup mata terhadap kesalahan orang yang telah meninggal. Apabila ada pelajaran yang perlu disampaikan agar orang lain tidak meniru kesalahan tersebut, maka hal itu dilakukan dengan cara yang bijaksana, tanpa menjadikannya sebagai ajang mencela, merendahkan, atau melampiaskan kebencian.
Sebagai seorang Muslim, sudah sepatutnya kita membiasakan lisan untuk berkata baik. Jika seseorang telah meninggal dan kita mengenang kebaikannya, maka sebutkanlah kebaikan itu. Jika kita mengetahui keburukannya, maka lebih baik kita diam, kecuali ada maslahat syar'i yang jelas untuk menyebutkannya. Sebab, pada akhirnya setiap manusia akan menyusul perjalanan yang sama: menghadap Allah membawa amalnya masing-masing.
Semoga Allah menjaga lisan kita dari ucapan yang menyakiti, menghiasi kita dengan akhlak yang mulia, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu berkata baik, baik kepada mereka yang masih hidup maupun kepada mereka yang telah kembali kepada-Nya. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!