Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.360 views

VIDEO : Utang Hampir Rp. 4.000 Triliun, How High Can You Go?

Oleh Edy Mulyadi

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor 5, 10, dan 30 tahun.

Dengan kurs tengah Bank Indonesia hari ini (12/11/17) Rp13.546/US$, maka nilai utang baru itu mencapai Rp54,2 triliun. Begitulah yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani, awal Desember silam. Padahal, sampai akhir Oktober 2017, utang Indonesia sudah mencapai US$287,2 miliar atau setara dengan Rp3.898 tirliun.

Artinya, sampai awal bulan ini, total utang Indonesia setidaknya mencapai Rp3.952 triliun. Hampir Rp4.000 triliun! Luar biasa... Bicara soal Menkeu yang satu ini, sepertinya nyaris tidak mungkin tidak bicara soal utang. Seolah-olah, Sri identik dangan utang.

Ini seolah-olah, lho... Dengan kewenangan yang dimiliki, dia terlampau rajin membuat utang baru.

Lagi dan lagi. Padahal, peringatan tentang bahaya utang yang terus menjulang sudah datang dari segala penjuru. Mulai dari para ekonom, dunia usaha, DPR, bahkan kalangan grass root.

 

Kekhawatiran terhadap utang yang menggunung juga menjadi obrolan yang ngeri-ngeri sedap di segala tempat. Mulai diskusi para aktivis dan seminar-seminar bergengsi di hotel bintang, sampai di warung-warung kopi, tempat kawulo alit kongkow.

Tukang bubur ayam langganan saya biasa sarapan yang mangkal di belakang pasar trasidional dekat rumah pun sempat ngomong soal utang ini. Tapi sepertinya perempuan kelahiran Lampung ini menganut prinsip biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Tidak terbuka Dalam perkara utang, Pemerintah memang cenderung tidak terbuka.

Maksud saya begini. Nyanyian yang terus diulang-ulang ke hadapan publik adalah, bahwa utang sangat diperlukan untuk menambal defisit APBN.

Maklum, belanja negara lebih besar ketimbang pendapatan. Utang juga dibutuhkan membiayai pendidikan, membangun infrastruktur, membiayai birokrasi, untuk transfer ke daerah, dan lain-lainnya.  

Pemerintah (nyaris) tidak pernah mengatakan, bahwa utang baru dibuat untuk membayar utang lama. Jangan lagi berharap Menkeu dan jajarannya bakal menjelaskan, bahwa alokasi pembayaran utang kita jauh lebih besar daripada anggaran untuk pendidikan, pembangunan infrastruktur, belanja birokrasi, dan lainnya.

Pada APBN 2017, misalnya, alokasi anggaran terbesar ditempati untuk pembayaran bunga, pokok, dan cicilan utang. Jumlahnya mencapai Rp486 triliun. Tempat kedua dan ketiga masing-masing, belanja pendidikan Rp416 triliun dan infrastruktur sebesar Rp387,3 triliun. 

Di APBN 2018, pemerintah menganggarkan pembayaran bunga utang mencapai Rp238,6 triliun. Sedangkan alokasi untuk membayar cicilan pokok utang  sebesar Rp399,2 triliun.

Dengan demikian, total anggaran pembayaran utang tahun depan mencapai Rp637,8 triliun. sungguh suatu jumlah yang amat sangat besar! Di sinilah tidak terbukanya pemerintah.

Pertama, pemerintah tidak pernah menyebutkan apalagi menjelaskan, bahwa alokasi anggaran terbesar dalam APBN adalah untuk membayar utang.

Kedua, pemerintah sengaja menyamarkan nomenklatur alokasi pembayaran cicilan pokok utang, dan menggantinya dengan frasa pembiayaan utang.

Apa maksudnya? Stop utang Kembali soal utang, mantra sihir yang selalu dihembuskan Sri dan jajarannya adalah, utang mutlak diperlukan untuk membiayai APBN, untuk membangun dan membiayai birokrasi agar bisa melayani rakyat.

Benarkah demikian? Mungkinkah kita membangun dan mengelola negeri serta melayani rakyat tanpa harus berutang? Jawabnya, bisa! Atau, setidaknya bisa tanpa membuat utang baru. Ini bukan dongeng, bukan juga lamunan utopis. Ini benar-benar pernah terjadi.  

Dulu, ketika Pak Harto berkuasa, dia membuat utang senilai US$48,8 miliar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi rata-rata positif 6% selama 32 tahun. Di awal-awal pemerintahannya bahkan sempat tumbuh di kisaran 8%.

Pemerintahan Habibie memerlukan US$19,6 miliar gna mengangkat perekonomian dari -9% ke minus -4,5%.

Di era Gus Dur, mampu mengurangi  utang US$4,15 miliar dan mendongkrak ekonomi minus dari -4,5% jadi 4%.  Presiden Megawati berutang US$64,39 miliar agar ekonomi tumbuh di kisaran 4% selama tiga tahun. 

Pemerintahan SBY memerlukan US$158,8 miliar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 4% hingga 6% selama 10 tahun.

Dan terakhir, pemerintahan Jokowi butuh US$133 miliar hanya dalam tempo tiga tahun. Hasilnya, ekonomi hanya berkutat di angka 5%.

Berbekal data tersebut, kinerja terbaik terjadi pada era Presiden Gus Dur.

Ekonomi tumbuh dari -4,5% menjadi 4% alias 8,5%. Pada saat yang sama, utang pemerintah justru berkurang.

Ternyata, Indonesia pernah bisa membangun tanpa menambah utang, bahkan berkurang. Hebatnya lagi, _growth_tadi sangat berkualitas. Pertumbuhan ekonomi dibagi dengan adil bagi seluruh masyarakat. Indikatornya, koofisien rasio Gini turun ke 0,31.

Ini adalah rekor terendah Indonesia sepanjang 50 tahun terakhir. Dulu, Soeharto pada 1993 pernah menekan Gini Ratio ke titik 0,32. Bedanya, rezim Suharto perlu 26 tahun (1967-1993) untuk menurunkannya dari 0,37ke 0,32.

Sedangkan tim ekonomi Gus Dur cuma perlu waktu kurang dari dua tahun (1999-2001) untuk menurunkan dari 0,37 ke 0,31.

Ada sejumlah langkah yang ditempuh tim ekonomi  Gus Dur dalam mengelola utang dan membangun negeri. Antara lain melalui teknik debt swapt dan restrukturisasi. 

Strategi lain, melakukan revalusasi aset dan sekuritisasi aset. Khusus dua teknik terkakhir sebenarnya sudah sering disampaikan Presiden Jokowi. Sebagian kalangan bahkan menyebut revaluasi aset dan sekuritisasi aset sebagai bagian dari Jokowinomics.

Sayangnya, tim ekonomi Presiden lebih asyik dengan program dan agendanya masing-masing.

Sebaliknya, apa hasil dari hobi utang yang terus digenjot oleh Sri bagi negeri ini? Secara makro, pertumbuhan ekonomi enggan beringsut dari 5%. Ini jauh dari kebutuhan yang seharusnya. Lapangan kerja tetap saja terbatas.

Memang ada bahkan banyak, tapi sebagian besar diisi oleh pekerja impor dari Cina. Daya beli masyarakat terus terjun, impor barang konsumsi melonjak-lonjak sehingga industri lokal sempoyongan, dan  jumlah penduduk miskin bertambah.

BPS mencatat, jumlah jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang pada Maret 2017, atau naik sekitar 10.000 orang dibanding September 2016 yang 27,76 juta orang.

Dengan fakta-fakta seperti ini, akankah Indonesia terus berutang? How high can you go? Ingat, jumlahnya terus dan kian menjulang dan makin mengerikan.

Atau, kalau boleh ganti pertanyaan, masih perlukah Menkeu seperti ini terus dipertahankan?

(*) Jakarta, 11 Desember 2017

Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Dana Terkumpul Rp 536 Juta, Masih Dibutuhkan Dana 214 Juta Lagi untuk Wakaf Produktif Muallaf

Dana Terkumpul Rp 536 Juta, Masih Dibutuhkan Dana 214 Juta Lagi untuk Wakaf Produktif Muallaf

Untuk pembelian tanah program wakaf produktif muallaf Bolaang Mongondow Sulawesi Utara masih dibutuhkan dana 214 juta rupiah. Ayo berwakaf Rp 15.000 per meter, agar harta kekal dan pahala terus...

Yuk Wakaf Tanah Rp 15.000 per Meter untuk Muallaf. Harta Kekal Abadi, Pahala Terus Mengalir

Yuk Wakaf Tanah Rp 15.000 per Meter untuk Muallaf. Harta Kekal Abadi, Pahala Terus Mengalir

Dalam satu desa terdapat 53 muallaf hidup prihatin pra-sejahtera. Hanya dengan 15.000 rupiah kita bisa berwakaf tanah satu meter untuk rumah dan pekerjaan mereka. Total kebutuhan 70 rupiah....

Qurrota Ayyuni: Yatim Pelajar Teladan Terlilit Tagihan Sekolah 8 Juta Rupiah. Ayo Bantu..!!!

Qurrota Ayyuni: Yatim Pelajar Teladan Terlilit Tagihan Sekolah 8 Juta Rupiah. Ayo Bantu..!!!

Anak yatim berprestasi ini selalu jadi juara sejak SD. Sang ayah hilang 9 tahun silam saat berdakwah ke luar kota. Terbelit kesulitan ekonomi, Ayu terbebani tagihan sekolah 8 juta rupiah....

Yuhendra-Yuliani: Keluarga Muallaf dan Yatim Dhuafa Butuh Modal Usaha, Ayo Bantu!!!

Yuhendra-Yuliani: Keluarga Muallaf dan Yatim Dhuafa Butuh Modal Usaha, Ayo Bantu!!!

Dalam iman, rumah tangga muallaf ini sangat bahagia. Namun dalam hal ekonomi, pasangan pengamen dan tukang ojek yang memiliki 3 yatim ini sangat dhuafa dan memprihatinkan....

Ayo Waqaf: Harta Kekal Dibawa Mati, Pahala Terus Mengalir Jadi Investasi Abadi

Ayo Waqaf: Harta Kekal Dibawa Mati, Pahala Terus Mengalir Jadi Investasi Abadi

Wakaf tidak menghabiskan harta, justru mengekalkan harta. Pahalanya terus mengalir tak terbatas usia, manfaatnya dirasakan umat seluas-luasnya dari generasi ke generasi...

Latest News
Marak Penistaan Agama, Pakar Hukum: Terlihat Dilakukan Sistematis

Marak Penistaan Agama, Pakar Hukum: Terlihat Dilakukan Sistematis

Kamis, 18 Jan 2018 02:38

[VIDEO] Pawai Umat Islam Klaten Ingatkan Pentingnya Pemimping yang Berpihak kepada Islam

[VIDEO] Pawai Umat Islam Klaten Ingatkan Pentingnya Pemimping yang Berpihak kepada Islam

Rabu, 17 Jan 2018 23:18

Musim Dingin, Dewan Dakwah Bantu Pengungsi Suriah

Musim Dingin, Dewan Dakwah Bantu Pengungsi Suriah

Rabu, 17 Jan 2018 22:57

Felix Siaw dan Toko Roti, Mengapa Dibidik?

Felix Siaw dan Toko Roti, Mengapa Dibidik?

Rabu, 17 Jan 2018 22:26

Karyawan ESQ Belum Terima Gaji Tiga Tahun

Karyawan ESQ Belum Terima Gaji Tiga Tahun

Rabu, 17 Jan 2018 22:09

Jembatan Beton yang Dinanti Selama 100 Tahun

Jembatan Beton yang Dinanti Selama 100 Tahun

Rabu, 17 Jan 2018 21:54

Pemimpin HTS Desak Pejuang Oposisi Suriah Rapatkan Barisan Menghadapi Serangan Rezim

Pemimpin HTS Desak Pejuang Oposisi Suriah Rapatkan Barisan Menghadapi Serangan Rezim

Rabu, 17 Jan 2018 21:28

Doa Ustaz Abdul Somad untuk Ustaz Zulkifli Ali yang Dijadikan Tersangka oleh Polri

Doa Ustaz Abdul Somad untuk Ustaz Zulkifli Ali yang Dijadikan Tersangka oleh Polri

Rabu, 17 Jan 2018 21:19

Menelusuri Polemik Zina dan LGBT di MK

Menelusuri Polemik Zina dan LGBT di MK

Rabu, 17 Jan 2018 20:55

Kurang Berdayakan Bulog, Krisis Beras Buat Rakyat Berontak dan Jatuhkan Pemerintahan

Kurang Berdayakan Bulog, Krisis Beras Buat Rakyat Berontak dan Jatuhkan Pemerintahan

Rabu, 17 Jan 2018 20:21

[VIDEO-3] SOLUSI UI: Cerita Eep Dituduh Jatuhkan Jokowi Dengan Video Editan

[VIDEO-3] SOLUSI UI: Cerita Eep Dituduh Jatuhkan Jokowi Dengan Video Editan

Rabu, 17 Jan 2018 19:22

Terkait Impor Pangan, Prof. Tjipta: Mohon Maaf, Otak Kita Ini Dimana?

Terkait Impor Pangan, Prof. Tjipta: Mohon Maaf, Otak Kita Ini Dimana?

Rabu, 17 Jan 2018 19:21

Aleg DPR Pertanyakan Urgensi Impor Beras

Aleg DPR Pertanyakan Urgensi Impor Beras

Rabu, 17 Jan 2018 18:15

Pemuda Muhammadiyah: Impor Beras Simbol Matinya Kedaulatan

Pemuda Muhammadiyah: Impor Beras Simbol Matinya Kedaulatan

Rabu, 17 Jan 2018 18:11

[VIDEO-2] Diskusi SOLUSI UI: Survei Cuma 30%, Tingkatkan Kualitas Parpol Islam

[VIDEO-2] Diskusi SOLUSI UI: Survei Cuma 30%, Tingkatkan Kualitas Parpol Islam

Rabu, 17 Jan 2018 18:08

Laporan: Israel Siapkan Rencana Pembangunan Jalur Kereta Api dari Negara itu ke Arab Saudi

Laporan: Israel Siapkan Rencana Pembangunan Jalur Kereta Api dari Negara itu ke Arab Saudi

Rabu, 17 Jan 2018 17:15

[VIDEO-1] Diskusi SOLUSI UI 2018: Menakar Kekuatan Politik Islam 2018-2019

[VIDEO-1] Diskusi SOLUSI UI 2018: Menakar Kekuatan Politik Islam 2018-2019

Rabu, 17 Jan 2018 15:53

Prof Dr Tono: Indonesia Sholat Subuh Terlalu awal 26 Menit, Isya Lambat 26 menit

Prof Dr Tono: Indonesia Sholat Subuh Terlalu awal 26 Menit, Isya Lambat 26 menit

Rabu, 17 Jan 2018 15:21

Al-Shabaab Ancam Bunuh Mantan Jubir Mereka yang Membelot ke Pemerintah Somalia

Al-Shabaab Ancam Bunuh Mantan Jubir Mereka yang Membelot ke Pemerintah Somalia

Rabu, 17 Jan 2018 14:00

Lebih 3 Juta Anak Lahir di Yaman Sejak Konflik Bersenjata Meningkat Tahun 2015

Lebih 3 Juta Anak Lahir di Yaman Sejak Konflik Bersenjata Meningkat Tahun 2015

Rabu, 17 Jan 2018 13:00


Mukena bordir mewar harga murah

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X