Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
5.102 views

Pemilu 2019, Pilpres Tercurang: Hanya Pada Rezim Jokowi TPS Bisa Menghilang

 

Oleh:

Hersubeno Arief, Konsultan media dan politik

 

PILPRES 2019 sudah selesai. Prabowo Subianto mengklaim menang dengan perolehan suara 62 persen. Sejumlah lembaga survei melalui hitung cepat ( quick count ) menyatakan Jokowi menang dengan selisih 8 persen.

Pendapat publik terbelah. Di media mainstream, apalagi media sosial, perang opini berlangsung sangat seru. Semua pendukung paslon 02 haqul yakin kandidatnya menang.

Sikap pendukung 01 sama, tapi masih ada semacam keraguan. Mereka masih wait and see. Bahkan Jokowi dalam pidato “kemenangan” kemarin tidak berani mengklaim telah memenangkan pilpres.

Inilah sebuah era post truth yang sudah menjadi pandemi (wabah) global di seluruh dunia. Kamus Oxford mendifinisikan kata ini sebagai situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif.

Mengapa itu semua bisa terjadi? Khusus di Indonesia disebabkan adanya public distrust (ketidakpercayaan publik) yang sangat akut terhadap lembaga survei dan pemerintah.

Apapun yang disampaikan mereka tidak akan dipercaya publik. Situasi ini mengingatkan kita kepada pepatah lama “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya.”

Masalahnya lembaga-lembaga survei ini —tentu tidak semua—khususnya LSI (lembaga survei istana) atau Surtana tidak hanya sekali lancung. Namun kedapatan berkali-kali lancung. Jadi bagaimana mungkin publik bisa percaya.

Kalau toh benar hasilnya seperti yang mereka umumkan —Jokowi menang dengan selisih 8 persen— kita patut bertanya. Bagaimana dengan hasil survei sebelumnya yang pernah mereka umumkan, Jokowi unggul dengan selisih angka di atas 25 persen?

Silahkan buka jejak digital mereka. Masih basah. Beberapa hari sebelum pencoblosan, semua lembaga survei istana memberi angka Jokowi 57 persen lebih. Sementara Prabowo hanya 30an persen.

Jarak elektabilitas kandidat yang mereka dukung di atas 20 persen ini bukan pertama kali. Pada Pilkada Serentak 2018 di Jabar dan Jateng mereka juga melakukan hal yang sama.

Para pollster bayaran ini pasti akan berkelit bahwa dinamika pemilih dengan berbagai variabelnya memungkinkan terjadinya perubahan elektabilitas. Terjadi migrasi. Angka yang belum menentukan sangat berpengaruh, dan segala macam argumentasi lainnya.

Itu semua hanya dalih untuk menutupi fakta bahwa publikasi survei digunakan untuk menggiring opini publik. Memperkuat keyakinan Inkumben dan para pendukungnya, sekaligus melemahkan semangat dan daya juang oposisi.

Polemik antara peneliti senior Litbang Kompas Bambang Setiawan dengan Denny JA membongkar fakta yang disembunyikan. Denny seperti disebut oleh Bambang menyembunyikan “angsa hitam.” Menggelembungkan elektabilitas Jokowi.

Bisa dibayangkan kalau Litbang Kompas yang selama ini diidentifikasi berada di barisan pendukung inkumben pun mempertanyakan kelakuan lancung Denny JA. Apalagi publik secara luas.

Dengan perilaku lancung lembaga survei istana ini, sangat wajar bila publik tidak meyakini hasil QC. Mereka mencurigai ada konspirasi mencurangi hasil pilpres. Ini adalah bisnis kotor kartel survei.

Lembaga survei istana mematok angka kemenangan. Hasil penghitungan suara KPU tinggal disesuaikan. Apa boleh buat, keyakinan itu begitu kuat dibenak publik.

Independensi dan integritas KPU menjadi taruhannya. Namun melihat proses pemilihan para komisioner KPU yang melibatkan DPR, sulit berharap mereka independen.

Partai politik di DPR sangat berkepentingan menempatkan orang-orangnya di KPU. Dan saat ini komposisi DPR dikuasai oleh parpol pendukung inkumben.

Sebagai sebuah metode ilmiah dengan basis statistik, QC harusnya sangat akurat. Margin errornya plus minus 1 persen. Kalau proses dan tahapannya benar hasil real count KPU tidak akan jauh berbeda.

Dugaan adanya proses kecurangan yang terencana, terstruktur dan masif makin kuat, ketika sedang berlangsung QC, handphone- tokoh penting pendukung Prabowo yang bertanggung jawab atas penghitungan suara mendapat serangan robo call.

Hp mereka tak dapat digunakan karena mendapat telefon terus menerus, dengan jeda tak sampai satu menit dari nomor-nomor luar negeri. Kebanyakan nomor iru berasal dari negara di Amerika Selatan.

Telefon-telefon tersebut berasal dari robot mesin terhadap nomor-nomor yang telah menjadi target.

Sebelumnya beberapa akun medsos dan no hp para pendukung paslon 02 dan tokoh oposisi juga menjadi korban pembajakan.

Dengan kontestan hanya dua kandidat, mudah diduga siapa pelakunya. Mereka adalah tim paslon 01, atau setidaknya kelompok yang mendukung mereka.

Bukan hasil, tapi proses

Lepas dari kontroversi hasil perhitungan antara kedua kubu, satu hal yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah proses pilpres kali ini.

Memperdebatkan hasil pilpres berdasar klaim, membuat kita hanya berorientasi pada hasil, tanpa peduli bagaimana prosesnya. Situasi ini sangat menyedihkan. Tak peduli bagaimana prosesnya. Halal, haram, hantam. Yang penting menang.

Sangat jelas bahwa sejak jauh-jauh hari kita menyaksikan dengan mata telanjang, rezim penguasa harus menang, sekalipun dengan cara curang.

Para pengamat asing juga sudah sejak jauh-jauh hari menengarai rezim Jokowi menggunakan cara-cara otoriter dan anti demokrasi untuk menang.

Kriminalisasi para ulama dan tokoh oposisi, hukum yang berat sebelah dan berpihak. Kooptasi dan tekanan terhadap media massa. Pengerahan aparat keamanan menekan dan menggiring pemilih. Penyalahgunaan anggaran bansos di kementerian. Dana-dana di BUMN dikuras habis untuk money politics.

Para pejabat tinggi negara mendatangi para ulama membawa amplop-amplop tebal. Sementara jutaan amplop uang dalam pecahan kecil disiapkan untuk menyuap rakyat. KPK misalnya berhasil menangkap pelaku dan menyita ratusan ribu amplop itu. Pelakunya adalah pendukung rezim ini.

Mendekati pilpres jurus kecurangan kian kencang. Di Malaysia surat-surat suara sudah tercoblos atas nama paslon 01. Salah seorang komisioner KPU menganggap itu hanya sampah.

Di seluruh Indonesia kecurangan serupa banyak ditemukan. Banyak pemilih yang diidentifikasi sebagai pendukung paslon 02 tidak mendapat undangan. Yang lebih ajaib ada TPS yang tiba-tiba menghilang.

Fenomena hilangnya TPS ini tidak pernah kita temukan sepanjang sejarah pemilu di Indonesia, bahkan pada masa Orde Baru sekalipun yang sering disebut-sebut penuh kecurangan. Yang hilang atau dilarikan paling-paling hanya kotak suara. Level kecurangan rezim Orde Baru masih kalah jauh bila dibandingkan dengan rezim Jokowi.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sendiri mengakui pemilu kali ini sangat banyak kecurangan. Laporan yang masuk dari 121.993 TPS, Bawaslu mendapati petugas KPPS di 4.589 tidak netral. Padahal total jumlah TPS sebanyak 809 ribu.

Kita sepakat —lepas dari kecurigaan terhadap independensi terhadap KPU— kita harus bersabar menanti proses penghitungan suara hingga selesai. Kawal ketat dan jangan beri celah sedikitpun ruang atas kecurangan.

Demokrasi kita tidak boleh dibajak oleh tangan-tangan kotor yang bersembunyi di balik kekuasaan.

Tugas besar kita bersama untuk menyatukan bangsa yang terpecah belah, terkotak-kotak dalam dua kubu besar yang saling mengintai, mencari-cari kesalahan dan saling menjatuhkan.

Setelah berjuang keras, kalah menang adalah konskuensi dari takdir. Kita tinggal menjalaninya. Jangan lupakan bahwa kita tetap satu bangsa. Bangsa Indonesia yang besar.

Agama mengajarkan kepada kita harus berikhtiar sekeras mungkin, setelah itu berserah diri, bertawakal pada Allah. Harus berprasangka baik, ber-khusnudzon pada skenario Allah. Yang terbaik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah.

Jabatan tinggi atau kelimpahan rezeki bisa jadi bukan berkah, tapi malah musibah ( istidraj) kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Mari kita berdoa untuk kebaikan bangsa dan negara. Diberi pemimpin yang adil. Pemimpin yang mengayomi semua golongan. Bukan pemimpin yang hanya mementingkan sekelompok orang. Apalagi elit pemilik modal dan elit partai yang mendukungnya.*

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Bebas dari penjara ia taubat dan hijrah, tapi kesulitan pekerjaan. Saat ekonomi terjepit, datang tawaran bisnis haram dari sesama mantan napi. Ia butuh dana 7,5 juta rupiah untuk modal usaha...

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Latest News
Kalau Bukan PKI Nyatakan PKI Jahat dan Penghianat

Kalau Bukan PKI Nyatakan PKI Jahat dan Penghianat

Sabtu, 26 Sep 2020 23:36

Kanada Tangkap 'Mantan' Anggota IS Karena Diduga Berbohong Tentang Membunuh Orang di Podcast NYT

Kanada Tangkap 'Mantan' Anggota IS Karena Diduga Berbohong Tentang Membunuh Orang di Podcast NYT

Sabtu, 26 Sep 2020 21:45

7 Orang Ditahan di Prancis Setelah Penikaman Terkait Surat Kabar Satir Charlie Hebdo

7 Orang Ditahan di Prancis Setelah Penikaman Terkait Surat Kabar Satir Charlie Hebdo

Sabtu, 26 Sep 2020 21:05

AS Lipat Gandakan Hadiah Untuk Penangkapan Pemimpin Tertinggi Islamic State

AS Lipat Gandakan Hadiah Untuk Penangkapan Pemimpin Tertinggi Islamic State

Sabtu, 26 Sep 2020 20:35

Dokter: Saat Ini yang Terbaik Tetap Belajar dari Rumah

Dokter: Saat Ini yang Terbaik Tetap Belajar dari Rumah

Sabtu, 26 Sep 2020 20:35

Tragedi 21-22 Mei Jangan Dilupakan

Tragedi 21-22 Mei Jangan Dilupakan

Sabtu, 26 Sep 2020 20:20

Laporan: Oman dan Sudan Akan Umumkan Kesepakatan Normalisasi dengan Israel Pekan Depan

Laporan: Oman dan Sudan Akan Umumkan Kesepakatan Normalisasi dengan Israel Pekan Depan

Sabtu, 26 Sep 2020 19:30

Menkeu Gelontorkan Rp20 Triliun untuk Jiwasraya, Anis: Pencederaan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Menkeu Gelontorkan Rp20 Triliun untuk Jiwasraya, Anis: Pencederaan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sabtu, 26 Sep 2020 11:43

Korean Wave Inspirasi Halu

Korean Wave Inspirasi Halu

Sabtu, 26 Sep 2020 09:37

Pengabaian Keselamatan Jiwa Rakyat dalam Pilkada 2020

Pengabaian Keselamatan Jiwa Rakyat dalam Pilkada 2020

Sabtu, 26 Sep 2020 08:49

Covid-19: Antara Bunuh Diri dan Membunuh

Covid-19: Antara Bunuh Diri dan Membunuh

Sabtu, 26 Sep 2020 05:37

Rezim Nekad dan Tuli

Rezim Nekad dan Tuli

Jum'at, 25 Sep 2020 23:34

WhatsApp Akan Bisa Digunakan di 4 Perangkat

WhatsApp Akan Bisa Digunakan di 4 Perangkat

Jum'at, 25 Sep 2020 22:33

Inggris Dan Prancis Catat Jumlah Kasus Harian COVID-19 Tertinggi

Inggris Dan Prancis Catat Jumlah Kasus Harian COVID-19 Tertinggi

Jum'at, 25 Sep 2020 22:00

Jejak Perempuan dalam Membangun Peradaban

Jejak Perempuan dalam Membangun Peradaban

Jum'at, 25 Sep 2020 21:54

GERAK Jabar Sampaikan Ikrar Siap Berjuang Membela Agama, Bangsa dan Negara

GERAK Jabar Sampaikan Ikrar Siap Berjuang Membela Agama, Bangsa dan Negara

Jum'at, 25 Sep 2020 21:43

Korean Wave, Layakkah Jadi Panutan?

Korean Wave, Layakkah Jadi Panutan?

Jum'at, 25 Sep 2020 21:18

Palestina Akan Adakan Pemilu Pertama Dalam 15 Tahun Menyusul Kesepakatan Antara Hamas dan Fatah

Palestina Akan Adakan Pemilu Pertama Dalam 15 Tahun Menyusul Kesepakatan Antara Hamas dan Fatah

Jum'at, 25 Sep 2020 21:15

Rezim Mesir Rencanakan Demo Tandingan Untuk Melawan Protes Anti-Sisi

Rezim Mesir Rencanakan Demo Tandingan Untuk Melawan Protes Anti-Sisi

Jum'at, 25 Sep 2020 20:55

Dipaksa Teken Pakta Integritas, Mahasiswa di Persimpangan Jalan?

Dipaksa Teken Pakta Integritas, Mahasiswa di Persimpangan Jalan?

Jum'at, 25 Sep 2020 20:51


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X

Jum'at, 25/09/2020 23:34

Rezim Nekad dan Tuli