Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.619 views

Tuduhan Pencucian Uang ke UBN Tindakan Berlebihan dan Mengada-ada

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
(Ketua MIUMI Aceh, pengurus Dewan Dakwah Aceh, anggota Ikatan Ulama dan Da'i Asia Tenggara).

Pemanggilan Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) oleh Bereskrim Polri untuk diperiksa sebagai tersangka Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) pada hari Rabu 8 Mei 2019 merupakan tindakan berlebihan dan mengada-ada. Pemeriksaan tersebut berdasarkan surat panggilan Bareskrim Polri tertanggal 3 Mei 2019. Perlakuan pemerintah rezim Jokowi terhadap UBN ini merupakan tindakan persekusi dan kriminalisasi ulama serta kezaliman yang sedang dipertontonkan kepada rakyat di tengah kegaduhan pilpres 2019. Upaya persekusi dan kriminalisasi ulama oleh rezim tidak hanya menimpa UBN, namun sebelumnya juga menimpa beberapa ulama lainnya seperti Habib Riziq Syihab (HRS), sekjen FUI ustaz Muhammad al-Khaththath, Ustaz Abdul Shomad (UAS), Adnin Armas dan lainnya.

Tuduhan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terhadap UBN sangat bernuansa politis. Terkesan mengada-ada dan mencari-cari kesalahan UBN. Tujuannya untuk menekan dan membungkam UBN dan orang-orang yang bersikap kritis terhadap rezim selama ini.

Sikap kritis UBN sangat meresahkan dan menakutkan rezim sehingga dianggap berbahaya bagi rezim ini. Mengingat UBN selama ini dengan suara lantang berani membela Islam dan kebenaran serta keadilan lewat ceramah-ceramahnya dan Aksi Bela Islam 411 dan 212. Dalam Aksi bela Islam 212 UBN dan HRS mampu menyatukan umat dan menghadirkan jutaan umat Islam dari berbagai daerah ke Jakarta. Puncaknya, dukungan UBN terhadap Prabowo-Sandi secara terang-terangan menjelang pilpres 17 April 2019 telah membuat panik rezim. Tentu saja dukungan ini menjadi "magnit" sangat kuat bagi umat sehingga menambah besar dukungan umat kepada Prabowo-Sandi. Selain itu, dukungan dan keikutsertaan UBN dalam Ijtima' Ulama III pasca pilpres semakin menambah kepanikan dan ketakutan rezim. Oleh karena itu, rezim berusaha mencari celah hukum untuk mengkriminalkan UBN dengan tuduhan pencucian uang. Jadi kasus hukum yang menjerat UBN ini sangat bernuansa politis.

Tuduhan kriminal pencucian uang terhadap UBN ini sebenarnya kasus lama tahun 2017 yang sudah selesai, terkait dengan dana yang dipakai oleh panitia dalam Aksi Bela Islam 411 dan 212 di mana UBN sebagai ketua GNPF MUI selaku penyelenggara aksi tersebut menggunakan rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS) dalam menerima infak dari umat Islam. Aksi 411 dan 212 tahun 2016 ini merupakan Aksi Bela Islam terhadap penistaan agama Islam (penistaan Alqur'an surat Al-Maidah ayat 51) yg dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pada tahun 2016.

Padahal dana itu berasal dari infak sukarela dari umat Islam untuk keperluan aksi tersebut. Ini infak yg ikhlas dari umat Islam untuk acara Aksi Bela Islam tersebut. Ini bukan uang pemerintah dan bukan uang rakyat yang harus dipertanggung jawabkan kepada negara. Selain itu, penggunaanpun jelas yaitu untuk keperluan Aksi Bela Islam seperti yang dimaksudkan oleh panitia dan para donatur itu sendiri. Bukan untuk memperkaya pribadi, kelompok atau pengurus yayasan. Jadi di mana salah UBN?

Menurut pakar ahli pidana, tindak pidana pencucian uang itu harus ada suatu kejahatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok. Lalu kejahatan itu menghasilkan uang. Ini baru namanya kriminal pencucian uang atau Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Aksi Bela Islam bertujuan untuk membela agama Islam dari penistaan agama yg dilakukan Ahok dan menuntut keadilan agar Ahok si penista agama Islam dihukum dengan hukuman yang tegas. Jadi aksi ini menuntut pemerintah untuk menegakkan hukum dan keadilan. Apakah UBN telah melakukan kejahatan dengan melakukan Aksi Bela Islam? Apakah mendapat dana infak dari umat Islam itu bisa dikatakan kriminal pencucian uang?

Yang anehnya lagi, pemerintah ikut intervensi dalam pengolalaan dana infak yang dikelola oleh suatu yayasan atau LSM? Padahal pengelolaan keuangan suatu yayasan atau LSM itu independen dan tidak boleh ada campur pemerintah. Tidak perlu pertanggung jawaban kepada pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah sepatutnya tidak boleh campur tangan dalam persoalan dana yayasan atau LSM ini. Apalagi sampai membuat tuduhan pencucian uang. Tentu ini sangat politis.

Posisi UBN sebagai ulama dan tokoh umat Islam yang mempunyai pengikut dan massa yg banyak di seluruh Indonesia itu tentu sangat mengkhawatirkan rezim. Terlebih lagi UBN mempunyai jaringan dengan seluruh ormas-ormas Islam di seluruh Indonesia dan mempunyai massa yang banyak. Sikap UBN mendukung pasangan capres dan cawapres no 02 Prabowo-Sandi dengan terang-terangan membuat rezim menjadi semakin panik dan khawatir dengan banyaknya orang yang akan mengikuti langkah UBN tersebut. Jokowi merasa khawatir kalah dalam pilpres 2019 yang dilaksananakan tgl 17 April baru-baru ini.

Puncak kepanikan dan kemarahan rezim adalah adanya Ijtima' Ulama III yang diadakan pasca pilpres pada Rabu (1/5/2019) di Bogor yang mengkritisi kecurangan pilpres yang dilakukan oleh rezim Jokowi dan meminta KPU dan Bawaslu untuk mendiskualifikasikan capres dan cawapres no 01 Jokowi-Ma'ruf Amin. Dalam Ijtima' Ulama ini, UBN ikut hadir dan menandatangani hasil keputusan ijtima'.

Terkait dengan Ijtima' Ulama ini, rezim jangan salah alamat. Sebab Ijtima' Ulama dihadiri lebih seribu ulama lebih. Kalau mau kaitkan dengan Ijtima' Ulama dan dukungan UBN ke aksi Ijtima' Ulama tersebut, maka layaknya polisi segera tangkap seribu ulama yang ikut ijtima' ulama tersebut saja sekalian.

Jadi polisi jangan mengada-ada tuduhan TPPU kepada UBN. Ijtima' Ulama itu legal dan terhormat. Polisi tidak boleh beralasan kehadiran UBN di Ijtima' Ulama III menjadi sebab melakukan kriminalisasi terhadap dirinya atau mencoba mengungkit-ungkit kasus lama yang sudah selesai. Ini bisa menimbulkan rasa ketidakadilan hukum. Jelas ini suatu kezhaliman.

Sikap polisi yang menetapkan UBN sebagai tersangka menjadikan suasana gaduh dan ricuh di seluruh Indonesia. Tindakan ini menimbulkan kecaman, penentangan dan perlawanan dari rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Maka tidak salah kalau rakyat menduga kasus ini ada kaitannya dengan sikap UBN yang ikut mendukung Prabowo-Sandi dan hadir di Ijtima' Ulama. Jadi kasus ini sangat politis.

Secara pribadi, saya mengenal sosok UBN. Beliau adalah seorang ulama yang istiqamah dalam membela Islam, kebenaran, dan keadilan. Beliau seorang da’i yang berani menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, meskipun terhadap penguasa. Beliau seorang yang amanah, jujur, dan berakhlak mulia. Beliau seorang mujahid yang berjuang untuk kepentingan Islam, umat dan bangsa. Beliau juga seorang Pancasialis dan setia terhadap negara NKRI.Tidak mungkin beliau melakukan kriminal seperti yang dituduhkan. Umat Islam juga tahu sosok figur UBN dan UBN tidak bersalah.

Bagaimanapun, kasus ini telah dirasakan masyarakat dan bisa menimbulkan rasa ketidakadilan hukum. Ujungnya nanti dirasakan sebagai kezaliman hukum dan ketidakadilan. Maka akan timbul timbul aksi dari rakyat untuk menuntut keadilan. Di samping itu, pilpres 2019 menyisakan banyak kecurangan yang merugikan pasangan cawapres dan cawapres no 02 Prabowo-Sandi sehingga menimbulkan kegaduhan dan keributan rakyat yang berpotensi terjadinya konflik. Tentu saja kita tidak berharap demikian. Maka hasil pilpres 2019 ini harus dilakukan dengan kejujuran dan keadilan. Agar semua pihak dapat menerima keputusan KPU pada tanggal 22 Mei nanti mengenai hasil pilpres 2019 dan berlapang dada terhadap keputusan tersebut, baik yang menang maupun yang kalah.

Sebagai penutup, saya bersama rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, meminta kepada Polri untuk membebaskan segera UBN dari tuduhan ini, karena beliau tidak bersalah dan tidak pula melangggar hukum. Saya khawatir, tindakan persekusi dan kriminalisasi ulama oleh rezim ini semakin menimbulkan kegaduhan bangsa dan perlawanan rakyat terhadap rezim ditengah kegaduhan pilpres 2019 yang penuh kecurangan ini. Saya harap rezim ini menyadari kesalahannya dan segera membebaskan UBN dari tuduhan yang menjeratnya. Semoga Allah Swt menjaga UBN. Amin...

Banda Aceh, Jum'at 5 Ramadhan 1440 H / 10 Mei 2019

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Bebas dari penjara ia taubat dan hijrah, tapi kesulitan pekerjaan. Saat ekonomi terjepit, datang tawaran bisnis haram dari sesama mantan napi. Ia butuh dana 7,5 juta rupiah untuk modal usaha...

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Latest News
Hasil Survei: 40% Gen-Z Inginkan Jaringan Stabil

Hasil Survei: 40% Gen-Z Inginkan Jaringan Stabil

Selasa, 20 Oct 2020 09:33

Mau Tanya, Video Kawal Jogging dan Helikopter Itu Hoax Apa Tidak?

Mau Tanya, Video Kawal Jogging dan Helikopter Itu Hoax Apa Tidak?

Selasa, 20 Oct 2020 07:02

Menteri Toleransi UEA Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Inggris

Menteri Toleransi UEA Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Inggris

Senin, 19 Oct 2020 21:43

Ayah, Sosok Tegar yang Layak Mendapatkan Surga

Ayah, Sosok Tegar yang Layak Mendapatkan Surga

Senin, 19 Oct 2020 21:32

Islamic State Bidik Negara Teluk, Serukan Serang Kepentingan Ekonomi Saudi

Islamic State Bidik Negara Teluk, Serukan Serang Kepentingan Ekonomi Saudi

Senin, 19 Oct 2020 21:18

Penghargaan sebagai Negara Pengutang, Malu atau Bangga?

Penghargaan sebagai Negara Pengutang, Malu atau Bangga?

Senin, 19 Oct 2020 21:09

Falsafah: Hikmah yang Terbatas

Falsafah: Hikmah yang Terbatas

Senin, 19 Oct 2020 20:05

Masjid-masjid di Gaza Kembali Dibuka Setelah Ditutup Beberapa Pekan karena Pandemi Corona

Masjid-masjid di Gaza Kembali Dibuka Setelah Ditutup Beberapa Pekan karena Pandemi Corona

Senin, 19 Oct 2020 16:45

Ngabalin Ditunggangi ISIS

Ngabalin Ditunggangi ISIS

Senin, 19 Oct 2020 15:35

PP Hima Persis Kecam Penangkapan Serampangan Aktivis Pemuda dan Mahasiswa

PP Hima Persis Kecam Penangkapan Serampangan Aktivis Pemuda dan Mahasiswa

Senin, 19 Oct 2020 14:20

Presiden Ilham Aliyev: Militer Azerbaijan Bebaskan 13 Desa Lagi dari Pasukan Pendudukan Armenia

Presiden Ilham Aliyev: Militer Azerbaijan Bebaskan 13 Desa Lagi dari Pasukan Pendudukan Armenia

Senin, 19 Oct 2020 14:15

Pengurus Baru Dewan Dakwah Gelar Raker

Pengurus Baru Dewan Dakwah Gelar Raker

Senin, 19 Oct 2020 12:10

Legislator Sebut UU Omnibus Law Tak Jadi Solusi Persoalan Ekonomi Nasional

Legislator Sebut UU Omnibus Law Tak Jadi Solusi Persoalan Ekonomi Nasional

Senin, 19 Oct 2020 10:36

PKM Unpam Berikan Pelatihan Skil kepada Guru TPQ

PKM Unpam Berikan Pelatihan Skil kepada Guru TPQ

Senin, 19 Oct 2020 09:35

Bagaimana Meminta Maaf kepada Orang Telah Wafat

Bagaimana Meminta Maaf kepada Orang Telah Wafat

Senin, 19 Oct 2020 09:23

PA 212 Gelar Musyawarah Provinsi Jawa Tengah

PA 212 Gelar Musyawarah Provinsi Jawa Tengah

Senin, 19 Oct 2020 09:17

Empati Berlebihan Syafiq Hasyim kepada Umat Kristen

Empati Berlebihan Syafiq Hasyim kepada Umat Kristen

Senin, 19 Oct 2020 08:44

Komisi VI DPR Aceh Gelar Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Anggota Badan Baitul Mal Aceh

Komisi VI DPR Aceh Gelar Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Anggota Badan Baitul Mal Aceh

Ahad, 18 Oct 2020 23:55

Analisis: Demokrat dan PKS Tuai Citra Positif

Analisis: Demokrat dan PKS Tuai Citra Positif

Ahad, 18 Oct 2020 22:49

Legislator PKS Sebut UU Cipta Kerja Rusak Esensi Sertifikasi Halal

Legislator PKS Sebut UU Cipta Kerja Rusak Esensi Sertifikasi Halal

Ahad, 18 Oct 2020 22:38


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X