Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
1.975 views

Pahlawan: Pahala dan Berhala

 

Oleh:

Faris Ibrahim

Mahasiswa Akidah- Falasafah Universitas al- Azhar, Kairo

                                                       

BELAJAR dari Liverpool. Ketika Suarez hengkang pasca kontroversinya menggigit Ivanovic, Brendan Rodgers tidak ambil pusing. Komentarnya santai saja: “no one bigger than Liverpool.” Sepak bola Liverpool memang sepak bola tim, bukan sepak bola bintang. Suarez hanyalah satu di antara bintang yang kemunculannya bisa saja tergantikan oleh bintang- bintang di malam yang kemudian. Nilai kebersamaan yang tersimpul dalam filosofi “we never walk alone” lebih besar dari sekedar ketenaran perorangan.   

Benar saja. Bintang- bintang yang lama redup pergi. Bersinarlah bintang- bintang baru yang berhasil mengantarkan Liverpool jadi jawara Eropa. Bahkan prosesinya dengan menyingkirkan Suarez, dan tanpa Brendan Rodgers.“We never walk alone” sebagai filosofi memang sudah seharusnya melebur dalam kerja sama tim. Tidak ada yang lebih besar daripada Liverpool. Tidak boleh ada yang menyanyikan filosofi itu seorang diri.

Begitupun pemikiran para pemikir, filsafat para filsuf, semangat perjuangan para pahlawan. Itu semua, perlahan- lahan, mesti terlepas dari diri mereka para empunya‒ bersenyawa dalam diri masyarakat. Prosesi itulah yang kemudian Mālik bin Nabī sebut sebagai peralihan dari model pemikiran yang sentrisnya berada dalam diri pemikir (afkār mujassadah), kemudian pemikiran itu jadi terpisah melingkupi kesadaran masyarakat secara menyeluruh (afkār mujarradah).

Proses itu harus ditempuh dengan membangun kesadaran bahwa tidak ada yang lebih besar dari kemaslahatan bersama. Pahlawan, pemikir, tokoh, harus sekuat tenaga merawat semangat juangnya agar mengakar dalam kesadaran masyarakat. Jangan sampai kedirian mereka lebih menonjol daripada perjuangan; agar mereka tidak berubah menjadi berhala nantinya. Jadilah seperti Ashābul Kahfi, yang meninggalkan kesan, tanpa perlu mengumbar nama.

Mengutamakan Pahala di atas Pahlawan

Tak bisa dipungkiri, kematian para filsuf besar seperti Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Bājah di masa Muwahhidun (1133- 1269 M), bagi Mālik bin Nabī memang adalah suatu pertanda kemunduran peradaban Islam untuk pertama kali. Karena di masa itulah untuk pertama kali pemikiran sudah kehilangan kesakralannya (qadāsah). Umat Islam lebih suka membesarkan nama- nama filsufnya ketimbang memahami kecanggihan filsafat mereka.

Ketika membaca permulaan Syurut an- Nahdhah (syarat-syarat kebangkitan), sebenarnya intisari itulah yang kita temukan. Mālik bin Nabī ingin mengajak kita untuk menaruhpikiran (fikroh) selalu selangkah berada di depan pemikirnya (mufakkir). Semangat tokoh di depan tokoh. Sepertimana adagium yang tertulis di poster para mahasiswa di Aljazair yang berhasil menamatkan riwayat panjang rezimnya: “manusia datang dan pergi yang menetap adalah pikiran (pikiran).” itulah alasannya.

Kesadaran yang sama, mesti kita carap dalam memandang pahlawan. Para pahlawan rasanya juga tidak menginginkan foto- fotonya sekedar menggelantung di dinding. Sebaliknya, yang mereka inginkan malah mungkin foto- foto anak- cucu kita yang menghiasi meja- meja kerja kita. Saat mengambil keputusan- keputusan kritis, para pahlawan ingin agar kita mengingat- ingat wajah anak- cucu kita agar keputusan yang kita ambil benar- benar mutakhir, maksimal, terukur sebab- akibatnya.

Benar, para pahlawan kita bukan berhala. Sesuai namanya, yang dekat dengan kata pahala, para pahlawan adalah insan- insan tulus yang tidak mengharap dari perjuangannya kecuali pahala. Ketika pahlawan menjadi sekedar foto- foto yang tergantung, nir- perenungan terhadap semangat juangnya, ketika itulah pahlawan sebenarnya jadi berhala. Dan perlu kita ketahui, bahwa ketika berhala terbit, sudahlah barang pasti bahwa kita sebenarnya sedang hidup dalam suasana tenggelamnya pikiran.

Kita sedang tidak berpikir, ketika mengkultuskan tokoh. Makanya dalam Islam, masa paganisme disebut masa jāhiliyyah; karena pikiran tidak tumbuh di masa itu. Ketika wajah Soekarno hanya jadi sekadar hiasan- hiasan berbingkai di dinding, poster- poster di kamar, lukisan- lukisan di bak truk, tanpa ada penghayatan terhadap semangat juangnya, pidato- pidatonya yang menggelegar, marhaenisme-nya, lantas apa bedanya Soekarno dengan berhala? 

Apakah hari ini kita sedang kembali ke masa- masa itu, masa jahiliah? Ketika kita malas berpikir, lebih suka menggantungkan nasib kita pada berhala- berhala yang terbarukan. Belakangan ini boleh jadi pada mereka yang berada di sebilah kertas dalam kardus lima tahunan. Simsalabim, Kita berharap keajaiban akan keluar dari kotak itu. kita gantungkan segalanya pada mereka: dalil- dalil kita kita senjatakan untuk menyerang mereka yang bersebrangan, harta kita limpahkan demi kemenangan (kelompok) mereka.

Sampai tiba saatnya yang kita harap- harapkan tidak kesampaiaan. Akhirnya kita merajuk. Pengorbanan kita hanya membentur kehampaan saja. Sambil meratap, kita meracau membabi buta menyalahkan mereka yang mematahkan harapan kita. Mereka yang berperang dalam kardus, tiba- tiba saling berpelukkan mesra di rangkaian. Makanya, jangan terlalu berharap. Perubahan itu datangnya dari diri, bukan digantungkan pada sekelompok orang (apalagi pada mereka yang di dalam kardus).

Itulah ekspresi keputusasaan kita. Dari peristiwa itu kita belajar, bahwa pahlawan itu bukan ditunggu- tunggu kedatangannya. Setiap kita punya potensi menjadi pahlawan. Bangun perubahan dari dalam diri, jangan menggantungkannya pada perorangan. Karena kaidahnya jelas sudah sebagaimana al- Qur’ān gariskan: “inna Allāha lā yughayyiru mā bi qawmin hatta yughayyiru ma bi anfushim.” Jika memang ada perubahan, kitalah yang mesti jadi pahlawannya, sebelum dan sesudah segala- galanya.

Ketergantungan yang tidak boleh Terulang

Kita, umat Islam pernah melalui masa- masa itu. Ketika tidur kita terlalu lelap sampai- sampai sejarah enggan menoleh pada kita. Untungnya, Jamāluddīn al- Afghani dari negeri Afghan lantang kumandang azannya. Seruannya: “hayya alal falāh” membangungkan kita dari lelap. Kita terjaga, lalu saling bertanya: sudah berapa lama kita tidur? Apa saja yang sudah kita lewatkan?. Monolog al- Afghani, seketika jadi percakapan. 

Agar tidak terulang lagi masa- masa panjang menunggu tukang azan, makanya Syaikh Yūsuf al- Qardhāwi di bukunya Aina al- Kholal menekankan pentingnya ketidakbergantungan pada tokoh.  Pemikiran tokoh adalah milik bersama. Kritik- mengkritik mereka biasa saja. Tak perlu sungkan. Apalagi ada rasa- rasa menghinakan. Kaidahnya kan jelas. Sebagaimana imam Mālik intisarikan: “setiap orang diambil perkataannya dan ditolak kecuali penghuni kuburan ini (Rosūlullāh ).”

Secara mendasar Islam memang menyeru kita untuk menghindari segala bentuk pengkultusan. Al- Qur’ān mengariskan itu dengan jelas: “wa mā Muammadun illa rosūlun qad Kholat min qablihi ar- rusul. Hatta Nabi Muhammad ﷺ ‒ insan paling mulia di muka bumi‒ Allāh mengingatkan kita untuk tidak bergantung padanya. Karena benar apa yang  dikatakan Abū Bakar: “barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allāh, ketahuilah bahwa Ialah yang kekal abadi.”

Di momen hari pahlawan yang mulia ini kita sama- sama belajar tentang itu: mengenang mereka para pahlawan dengan cara mencerabut diri mereka dari ketenaran, dengan menghayati dan meneruskan perjuangan mereka saja. Nyatakan ketulusan mereka yang ingin dikenang sebagai insan yang banyak pahala bagi agama, bangsa dan negara, bukan sebagai berhala. Berhenti bergantung pada manusia, karena yang satu- satunya pantas menyandang sifat homad (tempat bergantung) hanya Allāh semata.Allāhu a’lam.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Di hari raya Idul Fitri yang ceria, Ibrahim justru merintih perih di bangsal Rumah Sakit. Tubuh mungil balita anak aktivis dakwah media ini melepuh tercebur air mendidih di halaman tetangganya....

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Semakin Berkah, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Semakin Berkah, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

IDC menerima zakat fitrah Rp 40.000 hingga 51.000 per-jiwa, disalurkan kepada Mustahiq dengan prioritas Muallaf dan Fakir Miskin dari kalangan yatim, aktivis Islam, dan dhuafa terdampak pandemi...

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Kini mereka tinggal di rumah triplek yang reyot dan doyong terancam roboh. Ayo Bantu bedah rumah yatim.!!...

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

Latest News
Negara Lebay (Lebay State)

Negara Lebay (Lebay State)

Ahad, 05 Jul 2020 09:23

Menelisik Sarung RUU HIP Diganti Menjadi RUU PIP

Menelisik Sarung RUU HIP Diganti Menjadi RUU PIP

Ahad, 05 Jul 2020 09:19

Denny Siregar Teror Santri Penghafal Alqur’an

Denny Siregar Teror Santri Penghafal Alqur’an

Sabtu, 04 Jul 2020 23:11

Lebih dari 40 Petempur Tewas dalam Bentrokan Antara Pasukan Suriah dan Pejuang IS di Homs

Lebih dari 40 Petempur Tewas dalam Bentrokan Antara Pasukan Suriah dan Pejuang IS di Homs

Sabtu, 04 Jul 2020 22:35

Menlu Pakistan  Shah Mahmood Qureshi Dinyatakan Positif Terinfeksi Virus Corona

Menlu Pakistan Shah Mahmood Qureshi Dinyatakan Positif Terinfeksi Virus Corona

Sabtu, 04 Jul 2020 22:18

Turki: UEA Sedang Lakukan Kampanye Untuk Mendominasi Timur Tengah dan Afrika Utara

Turki: UEA Sedang Lakukan Kampanye Untuk Mendominasi Timur Tengah dan Afrika Utara

Sabtu, 04 Jul 2020 21:45

Jihadis Prancis Divonis 30 Tahun Penjara Karena Mengawasi Eksekusi 2 Tahanan di Suriah

Jihadis Prancis Divonis 30 Tahun Penjara Karena Mengawasi Eksekusi 2 Tahanan di Suriah

Sabtu, 04 Jul 2020 21:28

Wakil Ketua FPKS: Penerimaan Negara dari Freeport Jeblok

Wakil Ketua FPKS: Penerimaan Negara dari Freeport Jeblok

Sabtu, 04 Jul 2020 21:26

Jangan Terjebak Isu Reshuffle

Jangan Terjebak Isu Reshuffle

Sabtu, 04 Jul 2020 21:09

Tidak Ada Negara Lain Selain AS yang Mendukung Rencana Pencaplokan Wilayah Palestina

Tidak Ada Negara Lain Selain AS yang Mendukung Rencana Pencaplokan Wilayah Palestina

Sabtu, 04 Jul 2020 18:20

Kasus Kematian Akibat Virus Corona Melonjak di Oman, Bahrain, Sudan dan Kuwait

Kasus Kematian Akibat Virus Corona Melonjak di Oman, Bahrain, Sudan dan Kuwait

Sabtu, 04 Jul 2020 18:00

[VIDEO] Bagaimana Cara Mendakwahi Pemerintah?

[VIDEO] Bagaimana Cara Mendakwahi Pemerintah?

Sabtu, 04 Jul 2020 10:52

Ada Apa dengan Big Data?

Ada Apa dengan Big Data?

Sabtu, 04 Jul 2020 10:37

Ribuan Massa di Bogor Hadiri Apel Siaga Tolak RUU HIP

Ribuan Massa di Bogor Hadiri Apel Siaga Tolak RUU HIP

Jum'at, 03 Jul 2020 20:35

Sabtu – Senin ini, Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Dzulqo’dah 1441 H

Sabtu – Senin ini, Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Dzulqo’dah 1441 H

Jum'at, 03 Jul 2020 20:13

Abdulmanap Nurmagomedov, Ayah dari Juara UFC Khabib, Meninggal Karena komplikasi COVID-19

Abdulmanap Nurmagomedov, Ayah dari Juara UFC Khabib, Meninggal Karena komplikasi COVID-19

Jum'at, 03 Jul 2020 19:46

Turki Sebut Prancis Harus Meminta Maaf Terkait Insiden Angkatan Laut di Mediterania

Turki Sebut Prancis Harus Meminta Maaf Terkait Insiden Angkatan Laut di Mediterania

Jum'at, 03 Jul 2020 18:00

Fatah dan Hamas Berjanji Untuk Bersatu Melawan Rencana Aneksasi Tepi Barat Oleh Israel

Fatah dan Hamas Berjanji Untuk Bersatu Melawan Rencana Aneksasi Tepi Barat Oleh Israel

Jum'at, 03 Jul 2020 17:05

Dari New Normal ke New Indonesia

Dari New Normal ke New Indonesia

Jum'at, 03 Jul 2020 16:47

Virus Corona Diduga Menyebar di Kedutaan Besar AS di Riyadh Saudi, Lusinan Karyawan Jatuh Sakit

Virus Corona Diduga Menyebar di Kedutaan Besar AS di Riyadh Saudi, Lusinan Karyawan Jatuh Sakit

Jum'at, 03 Jul 2020 15:00


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X

Kamis, 02/07/2020 16:56

Lupa Baca Basmalah saat Mandi Besar