Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
11.305 views

Mengapa Kok Nggak Malu Mengatakan Indonesia Negara Hukum?

Jakarta (voa-islam.com) Dengan menggalang opini yang dahsyat media kristen dan sekuler seperti Kompas, Tempo dan lainnya, sukses menekuk TNI,  Angkatan Darat dan Kopassus, yang diduga menyerang Lapas Cebongan, yang menewaskan empat tahanan dari Ambon dan NTT.

Mereka yang tewas diserang oleh sejumlah anggota Kopassus itu, adalah para preman dan oknum polisi yang sudah membunuh dengan sangat sadis Sersan Santoso di Hugo's Cafe, Yogyakarta.

Media-media yang ada itu, menggalang opini yang sistematis, dan mewancarai sejumlah tokoh, yang tujuannya melakukan pressure politik, termasuk terhadap Presiden SBY, yang belakangan sudah gagap, menghadapi gempuran media massa.

Hasilnya sudah dapat ditebak. Pasti Presiden SBY akan menyerah, dan memerintahkan TNI, Angkatan Darat, dan Kopassus mengaku, dan memerintahkan  sebagai fihak pelaku ekskekusi terhadap empat tahanan itu.

Media-media itu secara konsisten menggunakan  idiom kata-kata yang sangat mujarab, dan merupakan bagian dari isu, "civil society" (masyarakat sipil), yaitu hukum dan hak-hak asasi manusia.

Tindakan oknum-oknum Kopassus itu dinilai sudah merupakan tindakan yang melawan hukum, menghancurkan sendi-sendi hukum, menghancurkan simbol negara, dan bertujuan menciptakan "civil disorder" (kekacauan sipil), karena tidak lagi menggunakan kaidah-kaidah hukum, ketika menyelesaikan kasus-kasus kriminal yang terjadi.

Tindak menyerang Lapas Cebongan itu, dianggap melawan negara, melawan simbol-simbol negara, merusak hukum, mengabaikan hak-hak dasar manusia, tindakan kekerasan dan sebuah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Tetapi, perhatikan  fakta-fakta yang ada selama ini, sekurang-kurangnya di era Reformasi. Mengapa media-media itu berteriak tentang negara hukum? Bukan selama ini hukum telah diinjak. Hukum telah diabaikan.

Hukum bukan menjadi pilar negara. Indonesia bukan lagi negara hukum. Indonesia sudah menganut hukum rimba. Siapa yang kuat, mereka yang menang. Bukan keadilan yang menng, sebaliknya mereka yang kuat yang menang.

Sangat gamblang faktanya. Termasuk kasus-kasus pelanggaran hukum yang besar, seperti BLBI dan Century dan lainnya, tak pernah selesai secara hukum. Tidak ada media yang konsisten melakukan pressure opini terhadap kasus-kasus itu.

Di sisi lain, sudah berapa lama Lapas (Lembaga Permasyarakan) menjadi pusat bisnis narkoba? Berapa banyak eleemen-elemen dan institusi dan pejabat yang terlibat dalam bisnis narkoba di Lapas?

Bagaimana gembong narkoba yang sudah dijatuhi hukuman mati  bisa mengendalikan bisnis narkoba terbesar di Indonesia? Gembong narkoba bisa mengatur dan mengendalikan jaringan bisnis narkoba?

Bahkan, jaringan bisnis narkoba sudah masuk dan menyusup ke Istana, secara diam-diam. Buktinya jaringan kartel narkoba tidak pernah bisa diberantas tuntas, dan bahkn Presiden SBY, secara sangat dramatis, memberikan grasi kepada gembong narkoba, yang dikenal "Ratu Marijuana" asal Australia, Corby. Sangat luar biasa. Mereka ini berhasil melumpuhkan sistem negara Indonesia.

Tetapi, adakah media-media kristen dan sekuler yang berteriak dengan lantang menggalang opini, melakukan wawancara terhadap para tokoh,guna melakukan pressurer politik. Sampai menekan pemerintah dan membuat kebijakan yang keras terhadap pelaku dan para gembong narkoba?

Adakah media-media massa yang menggalang kekuatan guna  melakukan pressure kepada  Presiden SBY, guna membuat keputusan politik, dan menegakkan hukum dengan memberikan hukuman yang lebih keras, seperti di Malaysia yang menghukum gantung setiap pelaku narkoba (dadah).

Pelanggaran hukum  di negeri ini sudah sangat kompleks dan sistmatis, dan melibatkan hampir semua institusi dan pejabat, dan para pemimpin partai politik. Tidak ada institusi dan pejabat yang tidak melakukan pelanggaran hukum di negeri ini. Hukum hanya menjadi sebuah "retorika" belaka.

Tidak ada yang sungguh-sungguh mematuhi hukum. Hukum dimanipulasi dan keadilan hanya bagi mereka yang lemah. Seperti sekarang yang dialami para prajurit Kopassus, yang membunuh para preman dari Ambon dan NTT.

Mereka membela temannya Sersan Satu Santoso yang dibunuh oleh preman dan oknum polisi. Kemudian mereka membalasnya. Mengharapkan keadilan dari polisi dan aparat penegak hukum itu, hanyalah nonsense belaka di Indonesia.

Mestinya media massa yang ada menggalang opini dan melakukan pressure politik yang hebat, ketika SBY memberikan grasi kepada "Ratu Marijuana" Corby, dan adanya pembiaran raja narkoba yang sudah di vonis hukum mati, tetapi masih bisa mengendalikan bisnis narkoba dari balik jeruji besi, dan belum diekskusi sampai hari ini.

Padahal, narkoba sudah menjadi ancaman nasional bagai masa depan Indonesia, karena sudah jutaan anak mudah yang  terkena narkoba. Tetapi, pemerintah menjadi sangat lemah, dan tidak sungguh menjalankan fungsinya dalam melindungi warga negara, dan bahkan membiarkan kejahatan yang sangat mengancam jiwa dan masa depan generasi muda Indonesia.

Tetapi, hanya empat tahanan dari Ambon dan  NTT, begitu luar biasa opini dan pressure yang dibangun oleh media massa, dan memaksa TNI, Angkatan Darat, dan Kopassus harus bertekuk lutut.

TNI, Angkatan Darat, dan Kopassus menyerah kepada media massa, dan dengan menghadapi opini dengan tuduhan sebagai gerombolan  yang mengancam integritas negara,dan bahkan disebut mengancaman pilar negara, dan merusak kewibawaan negara.

Media-media massa itu begitu fasih berbicara tentang penegakkan hukum, hak asasi manusia, menolak hukum rimba, bahkan tindakan anggota Kopassus yang membunuh empat tahanan dari Ambon  dan NTT, dimasukkan sebagai pelanggaran HAM berat. Padahal, mereka sudah menciptakan situasi "fears"(ketakutan) dikalangan rakyat.

Tetapi, tidak pernah tindakan polisi yang melakukan pembunuhan dan penembakan terhadpa aktivis Islam, yang terduga sebagai teroris sebagai tindakan yang sewenang-wenang, dan tidak melanggaran hukum dan melanggaran HAM. Inilah sebuah paradoks. Ketika aparat TNI membunuh orang-orang Ambon dan NTT, kemudian diangkat sebagai pelanggaran HAM.

Presiden SBY turun tangan, Wakil Menkumham turun tangan, DPR turun tangan, LSM turun tangan, Komnas HAM turun tangan, dan LPSK (lembaga perlindungan saksi) juga turun tangan.

Sebuah paradoks yang sangat telanjang hari ini. Berbicara penegakkan hukum dalam kontek kasus terbunuhnya empat orang tahanan di Cebongan oleh Kopassus.

Tetapi, tidak memiliki kepedulian terhadap pelanggaran hukum lainnya yang terjadi, dan kasusnya melebihi yang dialami oleh empat tahanan Ambon dan NTT. Peristiwa ini menjadi sangat luar biasa, hanya karena mereka di bunuh di tempat tahanan. Wallahu'alam.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Opini Redaksi lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla ini ambruk tak kuat menahan gempuran hujan deras. Kegiatan ibadah dan syiar mushalla pun terhenti. Ayo bantu renovasi supaya pada bulan Ramadhan warga bisa shalat jamaah, tarawih dan...

Kisah Pilu Abdurrahman, Balita Pejuang Tumor Mata Menangis Bercucuran Darah. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Abdurrahman, Balita Pejuang Tumor Mata Menangis Bercucuran Darah. Ayo Bantu.!!

Belum genap berusia 2 tahun, bocah imut mungil ini harus menjalani hidup dengan dahsyatnya penyakit tumor ganas di. Hari-harinya dipenuhi tangis bersimbah darah yang mengucur dari luka matanya...

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Sungguh prihatin kondisi rumah Ustadz Ahmad Sukarman ini. Rumah tinggal yang difungsikan sebagai markas pengajian ini sangat tidak layak, rapuh dan reyot terancam roboh....

Latest News
KontraS Berharap PKS Bisa Lanjutkan Aspirasi Korban HAM Berat Masa Lalu

KontraS Berharap PKS Bisa Lanjutkan Aspirasi Korban HAM Berat Masa Lalu

Rabu, 14 Apr 2021 20:31

Hak Bunuh Diri Bikin Ngeri!

Hak Bunuh Diri Bikin Ngeri!

Rabu, 14 Apr 2021 19:56

Antisipasi Utang BUMN Karya Demi Kepentingan Nasional, Ini Saran Partai Gelora

Antisipasi Utang BUMN Karya Demi Kepentingan Nasional, Ini Saran Partai Gelora

Rabu, 14 Apr 2021 19:27

Pemimpin Oposisi Rusia Alexei Navalny Gugat Penjaranya Karena Larang Dia Pelajari Al-Qur'an

Pemimpin Oposisi Rusia Alexei Navalny Gugat Penjaranya Karena Larang Dia Pelajari Al-Qur'an

Rabu, 14 Apr 2021 18:30

Taliban Tidak Akan Hadiri Pertemuan Puncak Tentang Afghanistan Sampai Pasukan Asing Ditarik

Taliban Tidak Akan Hadiri Pertemuan Puncak Tentang Afghanistan Sampai Pasukan Asing Ditarik

Rabu, 14 Apr 2021 17:45

Mesut Ozil Sumbangkan 101.000 Euro Untuk Pengungsi Rohingya, Suriah Serta Somalia

Mesut Ozil Sumbangkan 101.000 Euro Untuk Pengungsi Rohingya, Suriah Serta Somalia

Rabu, 14 Apr 2021 16:44

Mensos Tak Usulkan Perpanjangan Bansos Tunai, HNW: Harusnya Berpihak pada Rakyat!

Mensos Tak Usulkan Perpanjangan Bansos Tunai, HNW: Harusnya Berpihak pada Rakyat!

Rabu, 14 Apr 2021 15:56

Hukum Puasa Ramadhan Bagian I

Hukum Puasa Ramadhan Bagian I

Rabu, 14 Apr 2021 14:59

Ramadhan, Momen Bonding Bersama Buah Hati

Ramadhan, Momen Bonding Bersama Buah Hati

Rabu, 14 Apr 2021 14:43

Membela Saudara Seiman, Butuh Pengetahuan

Membela Saudara Seiman, Butuh Pengetahuan

Rabu, 14 Apr 2021 14:27

Tips 5 M, Bijak Sosmed Kala Ramadhan

Tips 5 M, Bijak Sosmed Kala Ramadhan

Rabu, 14 Apr 2021 13:10

Ramadhan#1 Persiapan Hadapi Ramadhan

Ramadhan#1 Persiapan Hadapi Ramadhan

Rabu, 14 Apr 2021 12:39

INDONESIA NGERTI, GAK SIH?

INDONESIA NGERTI, GAK SIH?

Rabu, 14 Apr 2021 11:04

Potret Tercabutnya Akar Kehidupan yang Hakiki

Potret Tercabutnya Akar Kehidupan yang Hakiki

Rabu, 14 Apr 2021 08:16

Tuduhan Radikalisme, Kotori Nuansa Sambut Ramadan

Tuduhan Radikalisme, Kotori Nuansa Sambut Ramadan

Rabu, 14 Apr 2021 03:44

Jokowi Masuk Surga?

Jokowi Masuk Surga?

Selasa, 13 Apr 2021 23:31

Resensi Novel Pembuka Hidayah: Biografi Kh. Choer Affandi

Resensi Novel Pembuka Hidayah: Biografi Kh. Choer Affandi

Selasa, 13 Apr 2021 22:49

Ini Fatwa MUI tentang Panduan Ibadah Ramadhan 1442 H

Ini Fatwa MUI tentang Panduan Ibadah Ramadhan 1442 H

Selasa, 13 Apr 2021 22:30

Kesalahan Fatal Komnas HAM

Kesalahan Fatal Komnas HAM

Selasa, 13 Apr 2021 22:25

ADI dan FDP Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan

ADI dan FDP Kirim Kafilah Dakwah Ke Daerah Perbatasan

Selasa, 13 Apr 2021 21:25


MUI

Must Read!
X

Rabu, 14/04/2021 19:56

Hak Bunuh Diri Bikin Ngeri!