Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.694 views

Pembakaran Bendera Tauhid, Persekusi HTI, dan Pilpres 2019

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

HTI diorbitkan jadi musuh bersama. Dicabut ijinnya oleh Kemenkumham dan distigmakan sebagai ormas terlarang, anti Pancasila dan mengancam NKRI. Oknum Banser dijadikan sebagai barisan terdepan untuk mempersekusinya.

Masalah utamanya bukan pada HTI dan Banser. HTI dicabut ijinnya, semua kantornya tutup, tak lagi ada gerakan dan semua identitasnya tak lagi muncul ke publik. Tahu diri. Begitu juga dengan Banser, tak ada masalah organisasional dengan HTI. Banser adalah aset umat dan bangsa. Kecuali sejumlah elit yang sengaja memanfaatkan kepolosan sebagian anggota Banser dan menjadikannya oknum. Tujuannya? Tak jauh-jauh dari agenda pilpres 2019.

Kenapa HTI dan Banser yang dibenturkan? Pertama, karena HTI dengan "mimpi khilafahnya" paling potensial dibenturkan dengan Pancasila dan NKRI. Di Indonesia, ide khilafah itu ahistoris. Dianggap melawan kesepakatan keberagamaan umat Islam secara umum. Maka, mudah distigmakan negatif. Kedua, HTI adalah ormas kecil. Sementara Ansor dengan Bansernya adalah bagian dari organisasi NU. Ormas terbesar di Indonesia. Jika perang opini, HTI pasti nyungsep. Dan NU-lah pemenangnya. Ini faktor mayoritas melawan minoritas. Ketiga, HTI diidentifikasi sebagai bagian dari pendukung oposisi. Dalam konteks ini adalah Paslon no 2. Jadi, memperburuk citra HTI akan berimbas pada buruknya citra Paslon no 2.

Point yang ketiga ini salah dan fatal. HTI menolak demokrasi. Tidak pernah ikut dalam pemilu. Bagi HTI, demokrasi itu haram. Mereka selama ini golput. Mengidentifikasi HTI bagian dari pendukung Paslon No 2, itu menggelikan. Opini menyesatkan. Bahasa agamanya "fitnah'. HTI tidak mendukung Paslon manapun. Itulah opini. Adu kuat isu di media.

HTI berhasil didesign jadi "target antara". Target utamanya adalah Paslon No 2. Dan Banser, oleh "pihak tertentu" dimanfaatkan untuk menjadi penahan arus gelombang massa oposisi, dengan isu HTI mengancam NKRI. Sejumlah oknum Banser marah, HTI dihajar.

Publik perlu tahu, umumnya ormas di Indonesia menolak paham khilafah ala HTI. Bagi sejumlah ormas, ide khilafah di Indonesia tak lebih dari "impian langit" yang sulit dibayangkan punya kesempatan berjejak di bumi Nusantara. Hanya saja, ormas-ormas itu bersikap lebih soft. Cenderung mengutamakan persaudaraan dan menghargai potensi dakwah yang dilakukan kader HTI.

Jika ingin proporsional, kita perlu buka kembali sejarah. Drama ini dimulai sejak kasus Ahok. Jokowi harus menghadapi gelombang oposisi umat Islam yang kecewa. Lalu, Jokowi merapat ke pimpinan PBNU dan Ansor. Ini bagian dari strategi untuk mengimbangi kekuatan massa oposisi. Bahkan mengambil Ma'ruf Amin sebagai cawapres adalah bagian dari langkah strategis ini. Dengan segala dinamika yang sangat  dramatis. Hubungan Jokowi-PBNU plus Ansor adalah hubungan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Jokowi butuh massa Nahdliyyin (termasuk Ansor dan Banser) semata-mata sebagai penyeimbang gerakan massa umat Islam yang berada di kubu oposisi. PBNU dan Ansor, bagaimanapun akan sangat menguntungkan jika dekat dengan pemerintah.

Hubungan pimpinan PBNU dan Ansor dengan Jokowi adalah hubungan politis, bukan ideologis. Ungkapan Mahfudz MD, jika Jokowi tidak ambil Ma'ruf Amin, NU akan tarik dukungan. Ungkapan ini clear sekaligus menegaskan bahwa hubungan Pimpinan PBNU-Jokowi itu politis, bukan ideologis. Begitu juga dengan pimpinan Ansor. Karena hubungannya yang bersifat politis, maka ajakan ketum PBNU kepada Nahdliyyin untuk dukung Jokowi tak sepenuhnya berhasil. Bahkan mendapat teguran dan protes keras dari "dhurriyat" K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahab Hasbullah, para pendiri NU. Karena dianggap merusak khittah, dan terlalu jauh menyeret NU dalam politik praktis.

Hubungan Jokowi PBNU dan Ansor itu ada pada level pemimpin, bukan NU, Ansor (dan Banser) secara organisatoris. Sebab, NU, Ansor dan Banser adalah ormas, bukan organ politik. Sesuai AD/ARTnya, NU dan semua underbownya punya khittah non partisan. Hal ini ditegaskan oleh para "dzurriyat" pendiri NU.

Menyoal kasus bendera, meski sangat disesalkan karena menyinggung "perasaan keberagamaan umat', tetap saja tak lepas dari komoditas politik. Banyak yang menduga itu bagian dari simbiosis mutualisme elit.

Dalam kasus ini telah terjadi adu jumlah massa dan benturan opini. Kemana gelombang opini bertiup, maka akan jadi pertimbangan utama untuk mengkalkulasi elektabilitas capres-cawapres. Kalau sinyalnya bagus, pembelaan terhadap pelaku pembakaran bendera diteruskan. Kalau tak menguntungkan, pembelaan dihentikan.

Nampaknya gelombang protes menguat, opini makin memburuk untuk pelaku dan para pendukungnya. Inilah yang dibaca oleh Jusuf Kalla (JK). Dalam konteks ini, JK netral atau punya agenda? Sebagai wapres atau  penasehat timses Jokowi? Allahu A'lam.

[Baca: Benci Kalimat Tauhid Batalkan Iman]

JK melihat situasinya mulai tidak kondusif. Lalu, langkah sigap dan cepat ia ambil. Kumpulkan semua pimpinan ormas, dan membuat pernyataan bersama. Diantara pernyataan itu adalah bahwa pimpinan Ansor dan PBNU menyesalkan peristiwa pembakaran itu. Oh ya?

Kok JK yang mewakili NU dan Ansor ya? Publik mulai mempertanyakan. Kenapa JK yang membacakan pernyataan itu. Kenapa bukan ketua PBNU atau ketua Muhammadiyah yang hadir di konferensi pers itu?

Tersisa keraguan publik: apakah betul pimpinan Ansor dan PBNU menyesalkan pembakaran bendera itu? Mengingat beberapa hari sebelumnya, pimpinan Ansor dan PBNU justru seolah memberi pembelaan, terkesan melindungi dan menjustifikasi kebenaran yang sedemikian tegas dan tegar terhadap pelaku. Apakah publik salah paham terhadap pernyataan ketua Ansor dan PBNU? Atau ketua Ansor dan ketua PBNU sudah berubah pendapatnya? Qaul qadim dinasakh qaul Jadid? Atau JK yang salah kutip? Masih perlu diklarifikasi.

Sikap cepat JK dianggap reaktif. Kemana JK pada saat para ulama dipersekusi? Kemana JK saat terjadinya ujaran kebencian di Surabaya yang bebas dari tuntutan hukum? Tidakkah itu semua berpotensi jadi pemicu konflik dan kegaduhan nasional? Kenapa baru sekarang JK muncul ketika terjadi gelombang protes? Kenapa pemerintah, termasuk JK tidak melakukan langkah-langkah pro-aktif?

Kita akan lihat, apakah reaksi cepat JK efektif, atau sudah terlambat? Apapun jawabannya, pembakaran bendera hanya salah satu dari sekian banyak letupan emosional yang remote controlnya terhubung dengan pilpres 2019. Tidak ada urusannya dengan HTI dan Banser. [PurWD/voa-islam.com]

Jakarta, 30/10/2018

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Opini Redaksi lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Sejak balita Astrid Nuraini sudah hidup sebatang kara tanpa ayah, ibu dan saudara. Diasuh ibu angkat yang sudah lanjut usia, ia tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA Islam karena terbentur biaya....

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Di hari raya Idul Fitri yang ceria, Ibrahim justru merintih perih di bangsal Rumah Sakit. Tubuh mungil balita anak aktivis dakwah media ini melepuh tercebur air mendidih di halaman tetangganya....

Biaya Cessar Dilunasi, Bayi Fauziah Pulang ke Ciamis. Semoga Jadi Wanita Shalihah Mujahidah Dakwah

Biaya Cessar Dilunasi, Bayi Fauziah Pulang ke Ciamis. Semoga Jadi Wanita Shalihah Mujahidah Dakwah

Biaya persalinan cessar dilunasi, Ummi Nurhayati dan bayinya bisa pulang dari rumah sakit. Semoga para donatur berlimpah rizki, dan dede bayi ini kelak menjadi generasi mujahidah dakwah untuk...

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Kini mereka tinggal di rumah triplek yang reyot dan doyong terancam roboh. Ayo Bantu bedah rumah yatim.!!...

Latest News
Angka Pernikahan Dini Melejit saat Pandemi; Akar Masalah dan Solusi

Angka Pernikahan Dini Melejit saat Pandemi; Akar Masalah dan Solusi

Senin, 03 Aug 2020 22:09

Ujicoba Vaksin Asal China, Netty Aher: Pastikan Vaksin Aman

Ujicoba Vaksin Asal China, Netty Aher: Pastikan Vaksin Aman

Senin, 03 Aug 2020 20:31

Cegah Nikah Dini atau Legalkan Seks Bebas?

Cegah Nikah Dini atau Legalkan Seks Bebas?

Senin, 03 Aug 2020 19:59

Investasi Bodong, Berharap Untung Malah Buntung

Investasi Bodong, Berharap Untung Malah Buntung

Senin, 03 Aug 2020 19:49

Setelah 9 Tokoh Oposisi, Kini Lahir Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Setelah 9 Tokoh Oposisi, Kini Lahir Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Senin, 03 Aug 2020 19:36

Izinkan Aku menjadi Sahabat Jannahmu

Izinkan Aku menjadi Sahabat Jannahmu

Senin, 03 Aug 2020 19:26

Sejumlah Pria Bersenjata Bersenjata Serang Penjara di Jalalabad Afghanistan Timur

Sejumlah Pria Bersenjata Bersenjata Serang Penjara di Jalalabad Afghanistan Timur

Senin, 03 Aug 2020 16:00

Jet-jet Tempur Israel Serang Jalur Gaza

Jet-jet Tempur Israel Serang Jalur Gaza

Senin, 03 Aug 2020 15:15

Kuwait Larang Penerbangan dari 31 Negara Yang Dianggap 'Berisiko Tinggi' Virus Corona

Kuwait Larang Penerbangan dari 31 Negara Yang Dianggap 'Berisiko Tinggi' Virus Corona

Senin, 03 Aug 2020 14:28

Pengangguran 10 Juta! Ikuti Training & Praktek 5 hari di RM Padang Express

Pengangguran 10 Juta! Ikuti Training & Praktek 5 hari di RM Padang Express

Senin, 03 Aug 2020 09:46

Djoko S Tjandra Tertangkap Setelah 3 Jenderal Dicopot

Djoko S Tjandra Tertangkap Setelah 3 Jenderal Dicopot

Senin, 03 Aug 2020 08:32

AS Usulkan Agar Para Pejuang Taliban Berbahaya Ditempatkan Dalam Tahanan Rumah

AS Usulkan Agar Para Pejuang Taliban Berbahaya Ditempatkan Dalam Tahanan Rumah

Ahad, 02 Aug 2020 23:15

Warga Israel Lakukan Demonstrasi Anti-Netanyahu Terbesar di Al-Quds Yerusalem

Warga Israel Lakukan Demonstrasi Anti-Netanyahu Terbesar di Al-Quds Yerusalem

Ahad, 02 Aug 2020 22:55

Arti Cinta

Arti Cinta

Ahad, 02 Aug 2020 21:52

Menjaga yang Berharga

Menjaga yang Berharga

Ahad, 02 Aug 2020 21:46

Bumi Pertiwi Disapa Resesi

Bumi Pertiwi Disapa Resesi

Ahad, 02 Aug 2020 21:46

7 Tentara Suriah Tewas 9 Lainnya Terluka Dalam Bentrokan Dengan Pejuang Oposisi Suriah di Idlib

7 Tentara Suriah Tewas 9 Lainnya Terluka Dalam Bentrokan Dengan Pejuang Oposisi Suriah di Idlib

Ahad, 02 Aug 2020 21:44

Terimakasih Nak, Kau Ajarkan Ibumu Beretika

Terimakasih Nak, Kau Ajarkan Ibumu Beretika

Ahad, 02 Aug 2020 21:39

Idul Adha: Refleksi Pengorbanan dan Ketaatan Berbuah Keridhaan

Idul Adha: Refleksi Pengorbanan dan Ketaatan Berbuah Keridhaan

Ahad, 02 Aug 2020 21:32

Badan Intelijen Afghanistan Klaim Tewaskan Seorang Pemimpin Senior Islamic State

Badan Intelijen Afghanistan Klaim Tewaskan Seorang Pemimpin Senior Islamic State

Ahad, 02 Aug 2020 21:30


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X