Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.916 views

Klaim "Pancasilais" yang Bertindak Tidak Agamis

Oleh: Ulfiatul Khomariah

(Mahasiswi Sastra Indonesia FIB Universitas Jember, Pemerhati Sosial dan Politik)

Beberapa hari yang lalu, tepat pada hari Sabtu (04 November 2017) pengajian yang menghadirkan Felix Siauw sebagai pembicara kembali dibubarkan oleh sekelompok ormas di Masjid Manarul Islam Bangil. Hal ini mengundang banyak perhatian di tengah masyarakat. Bukan hanya sekali ataupun dua kali, namun kejadian ini terjadi berkali-kali, ada sekelompok ormas yang rajin membubarkan kajian Islam.

Berdasarkan klarifikasi Ust. Felix Siauw mengenai dibubarkannya kajiannya di Bangil, Ormas yang melabeli dirinya paling toleran dan paling NKRI ini menolak Felix Siauw dikarenakan Felix Siauw merupakan pentolan dari HTI. Padahal perlu kita ketahui bahwasanya HTI telah dibubarkan oleh penguasa melalui senjata UU Ormas no.02 tahun 2017. Maka bukan alasan yang logis menolak kajian hanya dikarenakan pengisi kajian adalah seorang ustadz yang mengikuti ormas tertentu.

Yang lebih lucu lagi,  Ternyata polisi mengatakan bahwa ia ditekan ormas tertentu, yang meminta 3 pernyataan dari Felix Siauw, salah satunya adalah mengakui ideologi Pancasila sebagai ideologi tunggal NKRI. Sungguh aneh bin ajaib, memberikan kajian di Masjid saat ini perlu syarat semacam itu, standarnya bukan benar dalam menyiarkan Islam, bukan lagi sesuai dengan al-Qur’an dan As-Sunnah, melainkan cukup dengan kata-kata “Saya Pancasila, Saya NKRI” mungkin sudah diperbolehkan mengisi kajian meski kajian yang disampaikan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Begitu pun dengan pihak berwenang yang seharusnya melindungi yang haq, nyatanya malah pilih kasih. Saat ummat Islam didemo, yang disalahkan adalah ummat Islam. Bila ummat Islam yang melakukan aksi, yang disalahkan juga ummat Islam. Sampai saat ini pun polisi masih mati-matian pada kasus fake chatsex, ulama dan aktivis ditahan tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya dimana fungsi polisi sebagai pihak yang memihak pada kebenaran?

Ironisnya, atas dasar Pancasilais sekelompok ormas membubarkan kajian Felix Siauw tanpa berpikir kritis. Atas dasar Pancasilais mereka mengobrak-abrik kajian Islam ideologis tanpa diskusi secara intelek, namun dengan makian, membuat rusuh, dan mengandalkan kekuatan fisik. Naudzubillah, seperti inikah ormas yang mengklaim dirinya sebagai Pancasilais?

Bukan ingin membela Felix Siauw atau siapapun, tapi ini berbicara tentang kebenaran. Haruskah sesama saudara muslim saling menjatuhkan dan memaki satu sama lain hanya karena embel-embel “Saya Pancasila”? Sebenarnya, sudah pahamkah kita tentang apa itu Pancasila? dan Benarkah Pancasila adalah sebuah Ideologi bangsa? Mari kita telusuri lebih mendalam lagi. Buka pikiran, lapangkan hati!

 

Mendudukkan Pancasila pada Tempatnya

Semua mengakui, bahwa pasca runtuhnya Orde Baru, gelombang keterbukaan mendorong masyarakat memaknai ulang apa itu “Pancasila”. Wacana apakah Pancasila merupakan sebuah ideologi atau bukan, berkembang selama rezim reformasi. Sejumlah pihak menerjemahkan Pancasila bukan sebagai ideologi, melainkan kontrak sosial yang dirumuskan para founding fathers saat mendirikan negara ini.

Onghokham adalah salah satu sejarawan dan cendekiawan Indonesia yang menyatakan Pancasila bukanlah falsafah atau ideologi. Menurutnya, Pancasila adalah dokumen politik dalam proses pembentukan negara baru, yakni kontrak sosial yang merupakan persetujuan atau kompromi di antara sesama warga negara tentang asas negara baru. Ia menyamakan Pancasila dengan dokumen penting beberapa negara lain, seperti Magna Carta di Inggris, Bill of Right di AS, atau Droit de l’homme di Perancis. (Kompas, 6/12/2001).

Dalam sebuah acara Bedah Buku “Pancasila dan Syariat Islam” di Megawati Center, Jakarta, pada bulan Agustus 2011. Salah seorang pembicara, Ismail Yusanto, menjelaskan dengan cermat dan detail, bahwa Pancasila hanya set of philosophy, Pancasila tidaklah mencukupi (not aufficient) untuk mengatur negara ini (to govern this country).

Buktinya, di sepanjang Indonesia merdeka, dalam mengatur negara ini, rezim yang berkuasa, meski semua selalu mengaku dalam rangka menggunakan sistem dari ideologi Pancasila, nyatanya menggunakan sistem dari ideologi yang berbeda-beda. Rezim Orde Lama misalnya, menggunakan Sosialisme. Rezim Orde Baru menggunakan Kapitalisme. Rezim sekarang oleh banyak pengamat disebut menggunakan sistem neo-liberal.

Jadi, meski pada level filosofis semua mengaku melaksanakan Pancasila, underlying system atau sistem yang digunakan ternyata lahir dari ideologi sekularisme baik bercorak sosialis, kapitalis ataupun liberalis.

Mengapa hal itu bisa terjadi? karena pada realitanya yang diberikan oleh Pancasila hanyalah berupa gagasan-gagasan filosofis. Padahal untuk mengatur sebuah negara tidak hanya diperlukan gagasan filosofis semata, melainkan juga butuh pengaturan yuridis yang mencakup apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Bila ideologi (mabda’), sebagaimana diungkap oleh Ismail Yusanto dalam al-Fikr al-Islami (1958), didefinisikan sebagai ‘aqidah ‘aqliyah yang memancarkan sistem peraturan (nizham) untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya, maka Pancasila bukanlah sebuah Ideologi. Itulah sebabnya hingga sekarang, misalnya, tidak pernah lahir rumusan tentang Ekonomi Pancasila. Yang berjalan hingga sekarang tetap saja ekonomi kapitalis.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan dalam tataran praktis banyak sekali peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah yang layak dipertanyakan kesesuaiannya dengan Pancasila. Misalnya, apakah UU Penanaman Modal (yang memberi peluang kekuatan asing melakukan investasi di segala bidang nyaris tanpa hambatan), UU Migas (yang merugikan peran Pertamina sebagai BUMN yang notabene milik rakyat dalam pengelolaan migas), UU Ormas (yang merugikan ormas Islam dan masyarakat yang kritis), dan banyak lagi UU yang sangat berbau neo-liberal, apakah semua itu adalah Pancasilais?

Apakah kebijakan pemerintah yang membiarkan separatisme bebas, seperti OPM (Organisasi papua Merdeka), pemberontak RMS (Republik Maluku Selatan), serta Freeport (perusahaan asal AS) yang merampas emas di Papua adalah sebuah kebijakan yang Pancasilais? Apakah dengan membiarkan kemaksiatan merajalela dan membubarkan kajian-kajian Islam adalah tindakan yang Pancasilais?

Maka sudah saatnya stigmatisasi yang selama ini ada, bahwa masyarakat yang berjuang demi tegaknya Syariah di klaim sebagai masyarakat yang tidak memiliki wawasan kebangsaan bahkan anti Pancasila wajib dihilangkan. Semestinya tudingan itu diarahkan kepada mereka yang menolak Syariah, yang mendukung sekulerisme, liberalisme dan menjadi komprador negara Barat, korup serta gemar menjual aset negara kepada pihak asing, yang semua itu jelas-jelas telah menimbulkan kerugian besar pada bangsa dan negara ini!

Dan yang mengaku dirinya Pancasilais harusnya sadar bahwa musuh bangsa ini bukanlah Islam, melainkan kebatilan sekulerisme, liberalisme, dan penjajahan asing! Wallahu a’lam bish shawwab. [syahid/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Bocah SD ini Mengidap Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!!

Bocah SD ini Mengidap Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!!

Digerogoti tumor ganas, tubuh Fatkhur Kurniawan kurus kerontang. Pundaknya terus membesar hingga sekuran bola basket. Kondisi keluarga memprihatinkan, penghasilan keluarga 16 ribu rupiah perhari....

Digerogoti TBC Tulang, Bunda Evi Terancam Lumpuh Total. Butuh Biaya Operasi 60 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!!

Digerogoti TBC Tulang, Bunda Evi Terancam Lumpuh Total. Butuh Biaya Operasi 60 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!!

Virus TBC menggerogoti tulangnya hingga menjalar ke sumsum tulang punggung. Harus segera dioperasi untuk menghindari kelumpuhan total....

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Tinggal 2 Hari Lagi, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Tinggal 2 Hari Lagi, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

IDC siap menerima zakat fitrah senilai Rp 30.000 hingga 52.000 per-jiwa untuk disalurkan kepada Mustahiq dengan prioritas Muallaf dan Fakir Miskin dari kalangan aktivis Islam dan yatim....

Yatim Muallaf ini Mau Masuk Pesantren, Butuh Biaya 24 Juta Rupiah. Ayo Bantu Zakat & Infaq..!!

Yatim Muallaf ini Mau Masuk Pesantren, Butuh Biaya 24 Juta Rupiah. Ayo Bantu Zakat & Infaq..!!

Lahir dalam keluarga Kristen taat, Valentino Nainggolan menjadi muallaf dalam usia SD. Untuk memperdalam Islam, ia dan kakaknya akan melanjutkan pendidikan ke pesantren Ayo Bantu.!!!...

Sudah Satu Bulan Mushalla Kasinoman ini Hancur Diterjang Gempa. Ayo Bantu.!!

Sudah Satu Bulan Mushalla Kasinoman ini Hancur Diterjang Gempa. Ayo Bantu.!!

Sudah 30 hari mushalla korban gempa ini hancur dan belum dibangun lagi. Ramadhan akan tiba, mushalla ini sangat dibutuhkan. Ayo bantu sedekah jariyah, pahala terus mengalir tak terbatas umur....

Latest News
Afrika Selatan Tolak tekanan Saudi dan UEA untuk Blokade Qatar

Afrika Selatan Tolak tekanan Saudi dan UEA untuk Blokade Qatar

Sabtu, 21 Jul 2018 21:30

Rusia Bunuh 1.771 Anak-anak di Suriah Sejak Tahun 2015

Rusia Bunuh 1.771 Anak-anak di Suriah Sejak Tahun 2015

Sabtu, 21 Jul 2018 21:20

Zionis Israel Kembali Serang Gaza, Langgar Gencatan Senjata dengan Hamas

Zionis Israel Kembali Serang Gaza, Langgar Gencatan Senjata dengan Hamas

Sabtu, 21 Jul 2018 21:10

Jihadis Suriah Serang Pangkalan Udara Hmeimim Milik Rusia untuk Kali ke-4 Bulan Ini

Jihadis Suriah Serang Pangkalan Udara Hmeimim Milik Rusia untuk Kali ke-4 Bulan Ini

Sabtu, 21 Jul 2018 21:00

Pizza Diva Halal dan Pikulbareng Donasikan 80 Porsi Pizza dan Teh Poci

Pizza Diva Halal dan Pikulbareng Donasikan 80 Porsi Pizza dan Teh Poci

Sabtu, 21 Jul 2018 11:37

Polling: Aher Bakal Cawapres yang Paling Dekat dengan Umat Islam

Polling: Aher Bakal Cawapres yang Paling Dekat dengan Umat Islam

Sabtu, 21 Jul 2018 07:16

Pendiri Insist: Yang Lebih Tepat Bukan Islam Nusantara tapi Fiqh Nusantara

Pendiri Insist: Yang Lebih Tepat Bukan Islam Nusantara tapi Fiqh Nusantara

Sabtu, 21 Jul 2018 06:37

Bunda, Jangan Jadikan Ananda Penghalang Kewajiban

Bunda, Jangan Jadikan Ananda Penghalang Kewajiban

Jum'at, 20 Jul 2018 23:15

Menjaga Keluarga dari Ancaman Liberalisasi, Mungkinkah?

Menjaga Keluarga dari Ancaman Liberalisasi, Mungkinkah?

Jum'at, 20 Jul 2018 22:54

Utang yang Dimiliki BUMN 5.000 T

Utang yang Dimiliki BUMN 5.000 T

Jum'at, 20 Jul 2018 22:53

Aturan hanya tinggalah Aturan, Banyak Fakta Pemerintah Abaikan Pasal Ini

Aturan hanya tinggalah Aturan, Banyak Fakta Pemerintah Abaikan Pasal Ini

Jum'at, 20 Jul 2018 21:53

1500 Tahanan Dibebaskan dari Penjara Assad Menyusul Kesepakatan Evakuasi Fou'a dan Kafraya

1500 Tahanan Dibebaskan dari Penjara Assad Menyusul Kesepakatan Evakuasi Fou'a dan Kafraya

Jum'at, 20 Jul 2018 21:50

Gaza Kehabisan Gas Untuk Memasak setelah Penutupan Perlintasan Karem Shalom oleh Israel

Gaza Kehabisan Gas Untuk Memasak setelah Penutupan Perlintasan Karem Shalom oleh Israel

Jum'at, 20 Jul 2018 21:40

Mesir Tunda Persidangan Mantan Presiden Mursi

Mesir Tunda Persidangan Mantan Presiden Mursi

Jum'at, 20 Jul 2018 21:25

Turki Tidak Akan Ekstradisi Jihadis Paling Dicari Australia Neil Prakash

Turki Tidak Akan Ekstradisi Jihadis Paling Dicari Australia Neil Prakash

Jum'at, 20 Jul 2018 21:07

Fahri Khawatir BUMN jadi Tempat Mangkal Tim Sukses

Fahri Khawatir BUMN jadi Tempat Mangkal Tim Sukses

Jum'at, 20 Jul 2018 20:53

Apakah Boleh Jual Aset BUMN tanpa Diketahui DPR?

Apakah Boleh Jual Aset BUMN tanpa Diketahui DPR?

Jum'at, 20 Jul 2018 19:53

Salafi Sejati Menyeru Kepada Allah, Bukan Kepada Gurunya

Salafi Sejati Menyeru Kepada Allah, Bukan Kepada Gurunya

Jum'at, 20 Jul 2018 15:24

Yusril Minta Pahami PT dengan Logika Hukum, bukan dengan Logika Politik

Yusril Minta Pahami PT dengan Logika Hukum, bukan dengan Logika Politik

Jum'at, 20 Jul 2018 13:59

GAN: Menteri Yang Ikut Caleg Harus Mundur

GAN: Menteri Yang Ikut Caleg Harus Mundur

Jum'at, 20 Jul 2018 13:24


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X