Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.084 views

Survei Litbang Kompas: Jokowi Dalam Bahaya?

Oleh:

Hersubeno Arief, Konsultan media dan politik

 

LITBANG Harian Kompas Rabu (20/3) mempublikasikan hasil jajak pendapat. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 49,7 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. 13,4 persen responden menyatakan rahasia. 

Kompas Data

@KompasData

 

Hasil survei #LitbangKompas terbaru memperlihatkan jarak keterpilihan yang semakin sempit antara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.#SurveiKompas2019 #MudaMemilih #Pemilu 2019
Baca selengkapnya di: https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/03/20/persaingan-di-ruang-yang-menyempit/?utm_source=medsos_twitter&utm_medium=kompasdata …

 

Bagaimana kita membaca data ini? 

Pertama, survei Litbang Kompas mengkonfirmasi data yang sebelumnya dipublikasikan oleh Rico Marbun dari Median dan Eep Saefulloh Fatah dari Polmark. Elektabilitas Jokowi sudah berada di bawah angka 50 persen. Rico menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 47,9 persen. Eep menyatakan lebih rendah, hanya 40.4 persen.

Artinya ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak menghendaki lagi Jokowi, atau setidaknya belum memutuskan memilihnya kembali. 

Jelas ini merupakan kabar buruk bagi seorang petahana seperti Jokowi. Seorang petahana dapat dikatakan aman, jika setidaknya elektabilitasnya di atas 60 persen.

Angka ini juga menjelaskan mengapa Jokowi dan kubu TKN terlihat sangat panik. Segala macam cara dilakukan. Segala macam sumber daya dikerahkan. Pokoknya halal haram, hantam!

Siapa yang tidak panik coba. Sebagai petahana yang sudah berkampanye selama hampir lima tahun, punya semua akses sumber daya keuangan dan kekuasaan, kok elektabilitasnya masih di bawah 50 persen?

Kedua, survei Litbang Kompas ini mendelegitimasi dan sekaligus memporak porandakan publikasi lembaga survei yang menjadi tim sukses Jokowi, antara lain LSI Denny JA, dan SMRC.

LSI Denny JA pada Selasa (5/3) menyebutkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi 30,9 persen. Yang belum memutuskan 9,9 persen.

SMRC pada Ahad (10/3) merilis survei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,1 persen. Sepekan kemudian kembali merilis survei, elektabilitas Jokowi dinyatakan naik. 

Pada hari pelaksanaan debat antar-cawapres Ahad (17/3) SMRC menyatakan elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berada di angka 57,6 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 31,8 persen. Adapun 10,6 persen responden menyatakan tidak tahu/rahasia.

Dengan elektabilitas seperti itu Denny JA sudah dapat memastikan Jokowiakan memenangkan Pilpres 2019. Sementara SMRC juga menyatakan hal yang sama. Hanya bahasanya berbeda. Butuh keajaiban bagi Prabowo untuk memenangkan Pilpres.

Kesimpulan mereka tidak salah. Dengan rentang elektabiltas di atas 25 persen, dan angka yang belum memutuskan lebih kecil, secara matematis tidak ada peluang bagi Prabowo untuk memenangkan pilpres. 

Itu kalau data yang mereka sampaikan benar. Tidak memainkan margin of errors. Desain surveinya benar, pengambilan sampelnya benar. Dan yang paling penting, benar ada surveinya. 

Lembaga-lembaga survei ini sesungguhnya nama lain dari tim sukses. Tugas mereka bukan memetakan opini publik, tapi mempengaruhi opini publik. Publikasi hasil survei adalah tugas utama mereka dan menjadi instrumen paling penting.

Coba perhatikan elektabilitas Jokowi yang disebutkan oleh LSI Denny JA dan SMRC. Semua mendekati angka keramat 60 persen. Angka psikologis yang menjadi batas seorang petahana akan memenangkan kembali kursi kepresidenan. 

Publikasi Litbang Kompas menjadi penting, karena mengubah konstelasi. Meski dinyatakan independen, Litbang Kompas sebenarnya berada dalam satu kelompok bersama belasan lembaga survei yang menjadi pendukung Jokowi. 

Selisih elektabilitasnya kok bisa sangat jauh? Litbang Kompas hanya menyebut sekitar 12 persen. Sementara SMRC 25.8 persen, dan yang paling fantastis LSI Denny JA 27.8 persen.

Berkembang kabar ada tarik menarik di internal Kompas dengan istana sebelum sampai pada keputusan mempublikasikan survei itu. Dipublikasikan apa tidak? Kalau dipublikasikan berapa angka elektabilitas yang harus dimunculkan, dan berapa angka yang belum memutuskan untuk memilih?

Sebuah informasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan, pengusaha Sofyan Wanandi sudah membocorkan hasil survei itu.

Dalam pertemuan dengan pengusaha yang tergabung dalam APINDO Senin malam (18/3), Sofyan menyebutkan survei Kompas tidak akan dipublikasikan. Elektabilitas di bawah 50 persen dengan selisih hanya 11 %, membuat Jokowi sangat takut. 

Sofyan mengingatkan para pengusaha untuk mengerahkan semua sumber daya memenangkan Jokowi. “ Jokowi belum tentu menang, kita tidak boleh lengah,” ujarnya mewanti-wanti.

Soal tidak mempublikasikan survei karena jagoannya bakal kalah pernah dilakukan Kompas.

Pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua, Kompas tidak mempublikasikan hasil survei. Data yang mereka miliki pasangan Ahok-Djarot kalah telak. Kalau dipublikasikan semangat Ahok-Djarot dan pendukungnya bisa langsung runtuh. 

Survei Litbang Kompas terbukti “akurat”. Ahok-Djarot kalah dari Anies-Sandi dengan selisih  suara 15, 92 persen. 

Coba bandingkan dengan hasil survei SMRC. Hanya sepekan sebelum pelaksanaan pilkada putaran dua, SMRC menyatakan selisih suara Anies-Sandi dengan Ahok-Djarot hanya 1 persen. 

Dengan trend Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan dukungan untuk Anies-Sandi turun sekitar 2,8%. Dengan begitu SMRC ingin menyampaikan pesan bahwa Ahok-Djarot akan memenangkan piligub.

LSI Denny JA malah sudah lebih dahulu tereliminasi pada putaran pertama. Sebagai konsultan pasangan Agus-Silvy, survei LSI selalu menempatkan kliennya di posisi teratas. Anies-Sandi mereka nyatakan akan tersingkir di putaran pertama. Hasilnya terbalik, justru Agus-Silvy yang tersingkir.

 

Main aman dan pintu darurat

Keputusan Litbang Kompas tetap mempublikasikan hasil survei, tampaknya merupakan jalan aman yang harus mereka tempuh. Litbang Kompas tetap ingin menjaga reputasinya, sekaligus  tetap dapat mempublikasikan angka elektabilitas yang tidak terlalu “mengganggu” suasana hati Jokowi.

Namun bila kita perhatikan penjelasan hasil survei, Litbang Kompas sudah memberi kisi-kisi yang sangat jelas.

Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin bisa disebabkan adanya perubahan pandangan atas kinerja pemerintahan, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah, dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Pertama, sebulan menjelang pemungutan suara muncul pandangan-pandangan yang makin kritis terhadap hasil kerja pemerintahan. Kinerja selama lebih dari empat tahun, yang sebetulnya bisa dipakai sebagai modal petahana memperbesar pengaruh politiknya, mendapat perlawanan makin sengit. 

Kedua, penurunan kepuasan masyarakat terhadap kinerja bidang politik-keamanan, hukum, dan sosial mengindikasikan sulitnya pemerintah menahan serangan terhadap tiga sektor itu.

Ketiga, bertambahnya pemilih ragu, terutama di masyarakat kelas bawah, bisa berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas Jokowi-Amin. 

Keempat, pasangan Jokowi-Amin juga menghadapi persoalan militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan pendukung Prabowo-Sandi.

Bagaimana dengan LSI Denny JA? Mereka justru sudah melangkah lebih jauh. Secara cerdik mereka sudah menyiapkan pintu darurat ( emergency exit ) bila sampai Jokowi kalah.

LSI Denny JA menyatakan, Jokowi akan kalah jika angka yang tidak memilih (Golput) membesar. Padahal berdasarkan survei mereka, angka Golput pada pilares kali ini diprediksi akan lebih besar dibanding Pilpres sebelumnya.

Pada Pilpres 2014 angka Golput sebesar 30.42 persen. Sementara pada pilpres kali ini hanya 49,4 persen pemilih yang bisa menjawab dengan benar kapan pilpres akan dilaksanakan. Dengan kata lain ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak tahu kapan hari pencoblosan.

Dengan begitu logika yang ingin dibangun LSI Denny JA, kalau sampai Jokowi kalah, bukan mereka yang salah. Tapi KPU yang salah karena kurang melakukan sosialisasi…..

Lembaga survei tidak pernah salah. Salah Anda sendiri mengapa tetap percaya! end.**

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Bermodal kaki palsu Abu Rahman keliling Kota Solo menjajakan minuman 'es kapal' untuk menafkahi keluarga. Kini ia tak bisa bekerja lagi karena kaki palsunya jebol tak bisa diperbaiki.Ayo Bantu.!!...

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Selain jadi target pemurtadan misionaris, warga kesulitan air bersih untuk wudhu, mandi, minum, memasak, dll. Diperlukan dana 11 juta rupiah untuk pipanisasi penghubung sumber mata air ke masjid,...

Pembangunan Terhenti, Mushalla di Pelosok Sambong ini Terbengkalai. Ayo Bantu.!!

Pembangunan Terhenti, Mushalla di Pelosok Sambong ini Terbengkalai. Ayo Bantu.!!

Kondisi Mushalla Khoirussalam Sambong ini semrawut karena pembangunan berhenti terkendala dana. Dibutuhkan dana 15 juta rupiah untuk menuntaskan mushalla hingga layak dan nyaman. ...

Ingin Jadi Guru dan Penghafal Al-Qur’an, Yatim Nurlia  Butuh Biaya Sekolah, Ayo Bantu!!

Ingin Jadi Guru dan Penghafal Al-Qur’an, Yatim Nurlia Butuh Biaya Sekolah, Ayo Bantu!!

Yatim berprestasi ini putus sekolah. Impian pendidikan pesantren untuk mewujudkan cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an dan guru agama Islam terkubur oleh kendala biaya....

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Nenek renta ahli ibadah ini hidup seorang diri di bilik reyot Bengawan Solo. Bila hujan seisi rumah kebocoran air. Di malam hari, ia menggigil kedinginan diserang angin malam karena dindingnya...

Latest News
Jakarta Dinobatkan Kota Bebas Macet

Jakarta Dinobatkan Kota Bebas Macet

Kamis, 21 Jan 2021 00:04

Italia Penjarakan Tersangka Jihadis Asing Afiliasi Al-Qaidah Yang Ditangkap di Turki

Italia Penjarakan Tersangka Jihadis Asing Afiliasi Al-Qaidah Yang Ditangkap di Turki

Rabu, 20 Jan 2021 22:28

Aplikasi Perpesanan Turki BiP Peroleh Lebih Dari 8 juta Pengguna Baru Secara Global

Aplikasi Perpesanan Turki BiP Peroleh Lebih Dari 8 juta Pengguna Baru Secara Global

Rabu, 20 Jan 2021 20:35

Pemerintah Afghanistan Salahkan Taliban Karena Hentikan Pembicaraan Damai

Pemerintah Afghanistan Salahkan Taliban Karena Hentikan Pembicaraan Damai

Rabu, 20 Jan 2021 20:01

Pemerintah Harus Turun Tangan Soal Gugatan Rp 39,5 Triliun dari Perusahaan Asing ke Pertamina

Pemerintah Harus Turun Tangan Soal Gugatan Rp 39,5 Triliun dari Perusahaan Asing ke Pertamina

Rabu, 20 Jan 2021 15:59

Signal Terus Tumbuh di Tengah Kontroversi WhatsApp

Signal Terus Tumbuh di Tengah Kontroversi WhatsApp

Rabu, 20 Jan 2021 14:08

PP Muhammadiyah: Kasus Penembakan 6 FPI Pelanggaran HAM Berat

PP Muhammadiyah: Kasus Penembakan 6 FPI Pelanggaran HAM Berat

Rabu, 20 Jan 2021 12:54

PW Hima Persis Banten Masa Jihad 2020-2022 Usung Tagline Kolaborasi Karya Kita

PW Hima Persis Banten Masa Jihad 2020-2022 Usung Tagline Kolaborasi Karya Kita

Rabu, 20 Jan 2021 12:42

Studi: Minum Cokelat Terbukti Tingkatkan Fungsi Otak

Studi: Minum Cokelat Terbukti Tingkatkan Fungsi Otak

Rabu, 20 Jan 2021 12:30

Membentuk Generasi Muslim yang Bertakwa

Membentuk Generasi Muslim yang Bertakwa

Rabu, 20 Jan 2021 10:55

Jokowi Teken Perpres 7/2021, Pengamat: Parameter apa yang Digunakan untuk Menilai Ekstrimisme?

Jokowi Teken Perpres 7/2021, Pengamat: Parameter apa yang Digunakan untuk Menilai Ekstrimisme?

Selasa, 19 Jan 2021 22:52

Penelitian Oxford: Inggris Miliki Tingkat Kematian Virus Corona Harian Tertinggi di Dunia

Penelitian Oxford: Inggris Miliki Tingkat Kematian Virus Corona Harian Tertinggi di Dunia

Selasa, 19 Jan 2021 22:30

Tingkatkan Imun Hadapi Covid-19, Ustaz Fadlan Kenalkan Terapi Ala Raja Papua

Tingkatkan Imun Hadapi Covid-19, Ustaz Fadlan Kenalkan Terapi Ala Raja Papua

Selasa, 19 Jan 2021 22:11

AS Tarik Pasukan Terakhir Dari Somalia

AS Tarik Pasukan Terakhir Dari Somalia

Selasa, 19 Jan 2021 22:00

Hillary Clinton dan Nancy Pelosi Serukan Penyelidikan Atas Peran Putin Dalam Penyerbuan Capitol AS

Hillary Clinton dan Nancy Pelosi Serukan Penyelidikan Atas Peran Putin Dalam Penyerbuan Capitol AS

Selasa, 19 Jan 2021 20:45

Bangladesh Bantah Tuduhan Ada Sel Al-Qaidah Di Negaranya

Bangladesh Bantah Tuduhan Ada Sel Al-Qaidah Di Negaranya

Selasa, 19 Jan 2021 18:15

Risma, Tahun Depan Pilgub DKI

Risma, Tahun Depan Pilgub DKI

Selasa, 19 Jan 2021 17:00

Gubernur Anies Baswedan Hadiri Peluncuran Pengajian Warga Jakarta Secara Daring

Gubernur Anies Baswedan Hadiri Peluncuran Pengajian Warga Jakarta Secara Daring

Selasa, 19 Jan 2021 15:34

Mimpi Mati, Wanita Suka Dugem Ini Akhirnya Taubat

Mimpi Mati, Wanita Suka Dugem Ini Akhirnya Taubat

Selasa, 19 Jan 2021 14:43

Ikhwanul Muslimin Kecam Penyitaan Aset Para Pemimpin Mereka Oleh Pemerintah Mesir

Ikhwanul Muslimin Kecam Penyitaan Aset Para Pemimpin Mereka Oleh Pemerintah Mesir

Selasa, 19 Jan 2021 14:35


MUI

Must Read!
X