Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.817 views

Survei Litbang Kompas: Jokowi Dalam Bahaya?

Oleh:

Hersubeno Arief, Konsultan media dan politik

 

LITBANG Harian Kompas Rabu (20/3) mempublikasikan hasil jajak pendapat. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 49,7 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. 13,4 persen responden menyatakan rahasia. 

Kompas Data

@KompasData

 

Hasil survei #LitbangKompas terbaru memperlihatkan jarak keterpilihan yang semakin sempit antara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.#SurveiKompas2019 #MudaMemilih #Pemilu 2019
Baca selengkapnya di: https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/03/20/persaingan-di-ruang-yang-menyempit/?utm_source=medsos_twitter&utm_medium=kompasdata …

 

Bagaimana kita membaca data ini? 

Pertama, survei Litbang Kompas mengkonfirmasi data yang sebelumnya dipublikasikan oleh Rico Marbun dari Median dan Eep Saefulloh Fatah dari Polmark. Elektabilitas Jokowi sudah berada di bawah angka 50 persen. Rico menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 47,9 persen. Eep menyatakan lebih rendah, hanya 40.4 persen.

Artinya ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak menghendaki lagi Jokowi, atau setidaknya belum memutuskan memilihnya kembali. 

Jelas ini merupakan kabar buruk bagi seorang petahana seperti Jokowi. Seorang petahana dapat dikatakan aman, jika setidaknya elektabilitasnya di atas 60 persen.

Angka ini juga menjelaskan mengapa Jokowi dan kubu TKN terlihat sangat panik. Segala macam cara dilakukan. Segala macam sumber daya dikerahkan. Pokoknya halal haram, hantam!

Siapa yang tidak panik coba. Sebagai petahana yang sudah berkampanye selama hampir lima tahun, punya semua akses sumber daya keuangan dan kekuasaan, kok elektabilitasnya masih di bawah 50 persen?

Kedua, survei Litbang Kompas ini mendelegitimasi dan sekaligus memporak porandakan publikasi lembaga survei yang menjadi tim sukses Jokowi, antara lain LSI Denny JA, dan SMRC.

LSI Denny JA pada Selasa (5/3) menyebutkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi 30,9 persen. Yang belum memutuskan 9,9 persen.

SMRC pada Ahad (10/3) merilis survei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,1 persen. Sepekan kemudian kembali merilis survei, elektabilitas Jokowi dinyatakan naik. 

Pada hari pelaksanaan debat antar-cawapres Ahad (17/3) SMRC menyatakan elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berada di angka 57,6 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 31,8 persen. Adapun 10,6 persen responden menyatakan tidak tahu/rahasia.

Dengan elektabilitas seperti itu Denny JA sudah dapat memastikan Jokowiakan memenangkan Pilpres 2019. Sementara SMRC juga menyatakan hal yang sama. Hanya bahasanya berbeda. Butuh keajaiban bagi Prabowo untuk memenangkan Pilpres.

Kesimpulan mereka tidak salah. Dengan rentang elektabiltas di atas 25 persen, dan angka yang belum memutuskan lebih kecil, secara matematis tidak ada peluang bagi Prabowo untuk memenangkan pilpres. 

Itu kalau data yang mereka sampaikan benar. Tidak memainkan margin of errors. Desain surveinya benar, pengambilan sampelnya benar. Dan yang paling penting, benar ada surveinya. 

Lembaga-lembaga survei ini sesungguhnya nama lain dari tim sukses. Tugas mereka bukan memetakan opini publik, tapi mempengaruhi opini publik. Publikasi hasil survei adalah tugas utama mereka dan menjadi instrumen paling penting.

Coba perhatikan elektabilitas Jokowi yang disebutkan oleh LSI Denny JA dan SMRC. Semua mendekati angka keramat 60 persen. Angka psikologis yang menjadi batas seorang petahana akan memenangkan kembali kursi kepresidenan. 

Publikasi Litbang Kompas menjadi penting, karena mengubah konstelasi. Meski dinyatakan independen, Litbang Kompas sebenarnya berada dalam satu kelompok bersama belasan lembaga survei yang menjadi pendukung Jokowi. 

Selisih elektabilitasnya kok bisa sangat jauh? Litbang Kompas hanya menyebut sekitar 12 persen. Sementara SMRC 25.8 persen, dan yang paling fantastis LSI Denny JA 27.8 persen.

Berkembang kabar ada tarik menarik di internal Kompas dengan istana sebelum sampai pada keputusan mempublikasikan survei itu. Dipublikasikan apa tidak? Kalau dipublikasikan berapa angka elektabilitas yang harus dimunculkan, dan berapa angka yang belum memutuskan untuk memilih?

Sebuah informasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan, pengusaha Sofyan Wanandi sudah membocorkan hasil survei itu.

Dalam pertemuan dengan pengusaha yang tergabung dalam APINDO Senin malam (18/3), Sofyan menyebutkan survei Kompas tidak akan dipublikasikan. Elektabilitas di bawah 50 persen dengan selisih hanya 11 %, membuat Jokowi sangat takut. 

Sofyan mengingatkan para pengusaha untuk mengerahkan semua sumber daya memenangkan Jokowi. “ Jokowi belum tentu menang, kita tidak boleh lengah,” ujarnya mewanti-wanti.

Soal tidak mempublikasikan survei karena jagoannya bakal kalah pernah dilakukan Kompas.

Pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua, Kompas tidak mempublikasikan hasil survei. Data yang mereka miliki pasangan Ahok-Djarot kalah telak. Kalau dipublikasikan semangat Ahok-Djarot dan pendukungnya bisa langsung runtuh. 

Survei Litbang Kompas terbukti “akurat”. Ahok-Djarot kalah dari Anies-Sandi dengan selisih  suara 15, 92 persen. 

Coba bandingkan dengan hasil survei SMRC. Hanya sepekan sebelum pelaksanaan pilkada putaran dua, SMRC menyatakan selisih suara Anies-Sandi dengan Ahok-Djarot hanya 1 persen. 

Dengan trend Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan dukungan untuk Anies-Sandi turun sekitar 2,8%. Dengan begitu SMRC ingin menyampaikan pesan bahwa Ahok-Djarot akan memenangkan piligub.

LSI Denny JA malah sudah lebih dahulu tereliminasi pada putaran pertama. Sebagai konsultan pasangan Agus-Silvy, survei LSI selalu menempatkan kliennya di posisi teratas. Anies-Sandi mereka nyatakan akan tersingkir di putaran pertama. Hasilnya terbalik, justru Agus-Silvy yang tersingkir.

 

Main aman dan pintu darurat

Keputusan Litbang Kompas tetap mempublikasikan hasil survei, tampaknya merupakan jalan aman yang harus mereka tempuh. Litbang Kompas tetap ingin menjaga reputasinya, sekaligus  tetap dapat mempublikasikan angka elektabilitas yang tidak terlalu “mengganggu” suasana hati Jokowi.

Namun bila kita perhatikan penjelasan hasil survei, Litbang Kompas sudah memberi kisi-kisi yang sangat jelas.

Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin bisa disebabkan adanya perubahan pandangan atas kinerja pemerintahan, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah, dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Pertama, sebulan menjelang pemungutan suara muncul pandangan-pandangan yang makin kritis terhadap hasil kerja pemerintahan. Kinerja selama lebih dari empat tahun, yang sebetulnya bisa dipakai sebagai modal petahana memperbesar pengaruh politiknya, mendapat perlawanan makin sengit. 

Kedua, penurunan kepuasan masyarakat terhadap kinerja bidang politik-keamanan, hukum, dan sosial mengindikasikan sulitnya pemerintah menahan serangan terhadap tiga sektor itu.

Ketiga, bertambahnya pemilih ragu, terutama di masyarakat kelas bawah, bisa berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas Jokowi-Amin. 

Keempat, pasangan Jokowi-Amin juga menghadapi persoalan militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan pendukung Prabowo-Sandi.

Bagaimana dengan LSI Denny JA? Mereka justru sudah melangkah lebih jauh. Secara cerdik mereka sudah menyiapkan pintu darurat ( emergency exit ) bila sampai Jokowi kalah.

LSI Denny JA menyatakan, Jokowi akan kalah jika angka yang tidak memilih (Golput) membesar. Padahal berdasarkan survei mereka, angka Golput pada pilares kali ini diprediksi akan lebih besar dibanding Pilpres sebelumnya.

Pada Pilpres 2014 angka Golput sebesar 30.42 persen. Sementara pada pilpres kali ini hanya 49,4 persen pemilih yang bisa menjawab dengan benar kapan pilpres akan dilaksanakan. Dengan kata lain ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak tahu kapan hari pencoblosan.

Dengan begitu logika yang ingin dibangun LSI Denny JA, kalau sampai Jokowi kalah, bukan mereka yang salah. Tapi KPU yang salah karena kurang melakukan sosialisasi…..

Lembaga survei tidak pernah salah. Salah Anda sendiri mengapa tetap percaya! end.**

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Semakin Berkah, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Semakin Berkah, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

IDC menerima zakat fitrah Rp 40.000 hingga 51.000 per-jiwa, disalurkan kepada Mustahiq dengan prioritas Muallaf dan Fakir Miskin dari kalangan yatim, aktivis Islam, dan dhuafa terdampak pandemi...

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Kini mereka tinggal di rumah triplek yang reyot dan doyong terancam roboh. Ayo Bantu bedah rumah yatim.!!...

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Latest News
Soal Pembukaan Sekolah, Fahira Idris: Selama Belum Aman Jangan Coba-coba

Soal Pembukaan Sekolah, Fahira Idris: Selama Belum Aman Jangan Coba-coba

Jum'at, 29 May 2020 21:03

Tuntaskan PSBB ataukah Ngebet New Normal?

Tuntaskan PSBB ataukah Ngebet New Normal?

Jum'at, 29 May 2020 20:21

Ketua DPR Libya Timur Bertemu Para Pemimpin Milisi Pemberontak, Kecualikan Khalifa Haftar

Ketua DPR Libya Timur Bertemu Para Pemimpin Milisi Pemberontak, Kecualikan Khalifa Haftar

Jum'at, 29 May 2020 18:30

Update 29 Mei 2020 Infografis Covid-19

Update 29 Mei 2020 Infografis Covid-19

Jum'at, 29 May 2020 16:23

Helmy Yahya Dipecat karena Liga Inggris Bukan Budaya Bangsa, Warganet: Playboy Budaya Bangsa?

Helmy Yahya Dipecat karena Liga Inggris Bukan Budaya Bangsa, Warganet: Playboy Budaya Bangsa?

Jum'at, 29 May 2020 16:10

New Normal, PKS Kritik Keras Rencana Pembukaan Sekolah di Tengah Pandemi

New Normal, PKS Kritik Keras Rencana Pembukaan Sekolah di Tengah Pandemi

Jum'at, 29 May 2020 15:06

AS Tawarkan 3 Juta USD untuk Penangkapan Pemimpin Senior IS Abu Bakr Al-Gharib

AS Tawarkan 3 Juta USD untuk Penangkapan Pemimpin Senior IS Abu Bakr Al-Gharib

Jum'at, 29 May 2020 15:00

Kemenag Susun Protokol Kesehatan di Pesantren

Kemenag Susun Protokol Kesehatan di Pesantren

Jum'at, 29 May 2020 14:25

Mantan Presiden Sudan Omar Al-Bashir Dirawat di Rumah Sakit, Diduga Terinfeksi Virus Corona

Mantan Presiden Sudan Omar Al-Bashir Dirawat di Rumah Sakit, Diduga Terinfeksi Virus Corona

Jum'at, 29 May 2020 14:00

Angkat Bekas Kontributor Playboy Jadi Dirut, Tagar #BoikotTVRI Bergema di Twitter

Angkat Bekas Kontributor Playboy Jadi Dirut, Tagar #BoikotTVRI Bergema di Twitter

Jum'at, 29 May 2020 13:52

Islamic State Kritik Para Ulama Karena Memihak Penutupan Masjid untuk Pencegahan Penyebaran Corona

Islamic State Kritik Para Ulama Karena Memihak Penutupan Masjid untuk Pencegahan Penyebaran Corona

Jum'at, 29 May 2020 13:15

Bekas Kontributor Majalah Playboy Diangkat Jadi Dirut, Sukamta: Mau Dibawa ke Mana TVRI?

Bekas Kontributor Majalah Playboy Diangkat Jadi Dirut, Sukamta: Mau Dibawa ke Mana TVRI?

Jum'at, 29 May 2020 12:37

DPR: New Normal Terburu-buru dan Mengkhawatirkan!

DPR: New Normal Terburu-buru dan Mengkhawatirkan!

Jum'at, 29 May 2020 11:30

Penerapan New Normal Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Penerapan New Normal Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Jum'at, 29 May 2020 10:25

"Istri Corona" Pak Mahfud

Jum'at, 29 May 2020 09:49

Ini Dia Rahasia Milyarder Menarik Rizki, Intip Bocoran Triknya!

Ini Dia Rahasia Milyarder Menarik Rizki, Intip Bocoran Triknya!

Jum'at, 29 May 2020 09:42

Siti Fadilah Supari

Siti Fadilah Supari

Jum'at, 29 May 2020 08:50

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Halalbihalal Virtual

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Halalbihalal Virtual

Jum'at, 29 May 2020 08:35

Tren Frozen Food di Saat Pandemi Covid-19, Bagaimana Aspek Kehalalan dan Keamanannya?

Tren Frozen Food di Saat Pandemi Covid-19, Bagaimana Aspek Kehalalan dan Keamanannya?

Kamis, 28 May 2020 22:26

PKS: Pengaturan Soal Paten dalam RUU Ciptaker Kontradiktif

PKS: Pengaturan Soal Paten dalam RUU Ciptaker Kontradiktif

Kamis, 28 May 2020 21:34


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X