Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.374 views

Survei Litbang Kompas: Jokowi Dalam Bahaya?

Oleh:

Hersubeno Arief, Konsultan media dan politik

 

LITBANG Harian Kompas Rabu (20/3) mempublikasikan hasil jajak pendapat. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 49,7 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. 13,4 persen responden menyatakan rahasia. 

Kompas Data

@KompasData

 

Hasil survei #LitbangKompas terbaru memperlihatkan jarak keterpilihan yang semakin sempit antara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.#SurveiKompas2019 #MudaMemilih #Pemilu 2019
Baca selengkapnya di: https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/03/20/persaingan-di-ruang-yang-menyempit/?utm_source=medsos_twitter&utm_medium=kompasdata …

 

Bagaimana kita membaca data ini? 

Pertama, survei Litbang Kompas mengkonfirmasi data yang sebelumnya dipublikasikan oleh Rico Marbun dari Median dan Eep Saefulloh Fatah dari Polmark. Elektabilitas Jokowi sudah berada di bawah angka 50 persen. Rico menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 47,9 persen. Eep menyatakan lebih rendah, hanya 40.4 persen.

Artinya ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak menghendaki lagi Jokowi, atau setidaknya belum memutuskan memilihnya kembali. 

Jelas ini merupakan kabar buruk bagi seorang petahana seperti Jokowi. Seorang petahana dapat dikatakan aman, jika setidaknya elektabilitasnya di atas 60 persen.

Angka ini juga menjelaskan mengapa Jokowi dan kubu TKN terlihat sangat panik. Segala macam cara dilakukan. Segala macam sumber daya dikerahkan. Pokoknya halal haram, hantam!

Siapa yang tidak panik coba. Sebagai petahana yang sudah berkampanye selama hampir lima tahun, punya semua akses sumber daya keuangan dan kekuasaan, kok elektabilitasnya masih di bawah 50 persen?

Kedua, survei Litbang Kompas ini mendelegitimasi dan sekaligus memporak porandakan publikasi lembaga survei yang menjadi tim sukses Jokowi, antara lain LSI Denny JA, dan SMRC.

LSI Denny JA pada Selasa (5/3) menyebutkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi 30,9 persen. Yang belum memutuskan 9,9 persen.

SMRC pada Ahad (10/3) merilis survei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,1 persen. Sepekan kemudian kembali merilis survei, elektabilitas Jokowi dinyatakan naik. 

Pada hari pelaksanaan debat antar-cawapres Ahad (17/3) SMRC menyatakan elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berada di angka 57,6 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 31,8 persen. Adapun 10,6 persen responden menyatakan tidak tahu/rahasia.

Dengan elektabilitas seperti itu Denny JA sudah dapat memastikan Jokowiakan memenangkan Pilpres 2019. Sementara SMRC juga menyatakan hal yang sama. Hanya bahasanya berbeda. Butuh keajaiban bagi Prabowo untuk memenangkan Pilpres.

Kesimpulan mereka tidak salah. Dengan rentang elektabiltas di atas 25 persen, dan angka yang belum memutuskan lebih kecil, secara matematis tidak ada peluang bagi Prabowo untuk memenangkan pilpres. 

Itu kalau data yang mereka sampaikan benar. Tidak memainkan margin of errors. Desain surveinya benar, pengambilan sampelnya benar. Dan yang paling penting, benar ada surveinya. 

Lembaga-lembaga survei ini sesungguhnya nama lain dari tim sukses. Tugas mereka bukan memetakan opini publik, tapi mempengaruhi opini publik. Publikasi hasil survei adalah tugas utama mereka dan menjadi instrumen paling penting.

Coba perhatikan elektabilitas Jokowi yang disebutkan oleh LSI Denny JA dan SMRC. Semua mendekati angka keramat 60 persen. Angka psikologis yang menjadi batas seorang petahana akan memenangkan kembali kursi kepresidenan. 

Publikasi Litbang Kompas menjadi penting, karena mengubah konstelasi. Meski dinyatakan independen, Litbang Kompas sebenarnya berada dalam satu kelompok bersama belasan lembaga survei yang menjadi pendukung Jokowi. 

Selisih elektabilitasnya kok bisa sangat jauh? Litbang Kompas hanya menyebut sekitar 12 persen. Sementara SMRC 25.8 persen, dan yang paling fantastis LSI Denny JA 27.8 persen.

Berkembang kabar ada tarik menarik di internal Kompas dengan istana sebelum sampai pada keputusan mempublikasikan survei itu. Dipublikasikan apa tidak? Kalau dipublikasikan berapa angka elektabilitas yang harus dimunculkan, dan berapa angka yang belum memutuskan untuk memilih?

Sebuah informasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan, pengusaha Sofyan Wanandi sudah membocorkan hasil survei itu.

Dalam pertemuan dengan pengusaha yang tergabung dalam APINDO Senin malam (18/3), Sofyan menyebutkan survei Kompas tidak akan dipublikasikan. Elektabilitas di bawah 50 persen dengan selisih hanya 11 %, membuat Jokowi sangat takut. 

Sofyan mengingatkan para pengusaha untuk mengerahkan semua sumber daya memenangkan Jokowi. “ Jokowi belum tentu menang, kita tidak boleh lengah,” ujarnya mewanti-wanti.

Soal tidak mempublikasikan survei karena jagoannya bakal kalah pernah dilakukan Kompas.

Pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua, Kompas tidak mempublikasikan hasil survei. Data yang mereka miliki pasangan Ahok-Djarot kalah telak. Kalau dipublikasikan semangat Ahok-Djarot dan pendukungnya bisa langsung runtuh. 

Survei Litbang Kompas terbukti “akurat”. Ahok-Djarot kalah dari Anies-Sandi dengan selisih  suara 15, 92 persen. 

Coba bandingkan dengan hasil survei SMRC. Hanya sepekan sebelum pelaksanaan pilkada putaran dua, SMRC menyatakan selisih suara Anies-Sandi dengan Ahok-Djarot hanya 1 persen. 

Dengan trend Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan dukungan untuk Anies-Sandi turun sekitar 2,8%. Dengan begitu SMRC ingin menyampaikan pesan bahwa Ahok-Djarot akan memenangkan piligub.

LSI Denny JA malah sudah lebih dahulu tereliminasi pada putaran pertama. Sebagai konsultan pasangan Agus-Silvy, survei LSI selalu menempatkan kliennya di posisi teratas. Anies-Sandi mereka nyatakan akan tersingkir di putaran pertama. Hasilnya terbalik, justru Agus-Silvy yang tersingkir.

 

Main aman dan pintu darurat

Keputusan Litbang Kompas tetap mempublikasikan hasil survei, tampaknya merupakan jalan aman yang harus mereka tempuh. Litbang Kompas tetap ingin menjaga reputasinya, sekaligus  tetap dapat mempublikasikan angka elektabilitas yang tidak terlalu “mengganggu” suasana hati Jokowi.

Namun bila kita perhatikan penjelasan hasil survei, Litbang Kompas sudah memberi kisi-kisi yang sangat jelas.

Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin bisa disebabkan adanya perubahan pandangan atas kinerja pemerintahan, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah, dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Pertama, sebulan menjelang pemungutan suara muncul pandangan-pandangan yang makin kritis terhadap hasil kerja pemerintahan. Kinerja selama lebih dari empat tahun, yang sebetulnya bisa dipakai sebagai modal petahana memperbesar pengaruh politiknya, mendapat perlawanan makin sengit. 

Kedua, penurunan kepuasan masyarakat terhadap kinerja bidang politik-keamanan, hukum, dan sosial mengindikasikan sulitnya pemerintah menahan serangan terhadap tiga sektor itu.

Ketiga, bertambahnya pemilih ragu, terutama di masyarakat kelas bawah, bisa berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas Jokowi-Amin. 

Keempat, pasangan Jokowi-Amin juga menghadapi persoalan militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan pendukung Prabowo-Sandi.

Bagaimana dengan LSI Denny JA? Mereka justru sudah melangkah lebih jauh. Secara cerdik mereka sudah menyiapkan pintu darurat ( emergency exit ) bila sampai Jokowi kalah.

LSI Denny JA menyatakan, Jokowi akan kalah jika angka yang tidak memilih (Golput) membesar. Padahal berdasarkan survei mereka, angka Golput pada pilares kali ini diprediksi akan lebih besar dibanding Pilpres sebelumnya.

Pada Pilpres 2014 angka Golput sebesar 30.42 persen. Sementara pada pilpres kali ini hanya 49,4 persen pemilih yang bisa menjawab dengan benar kapan pilpres akan dilaksanakan. Dengan kata lain ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak tahu kapan hari pencoblosan.

Dengan begitu logika yang ingin dibangun LSI Denny JA, kalau sampai Jokowi kalah, bukan mereka yang salah. Tapi KPU yang salah karena kurang melakukan sosialisasi…..

Lembaga survei tidak pernah salah. Salah Anda sendiri mengapa tetap percaya! end.**

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Sopir Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Magelang Digerogoti Tumor Usus. Ayo Bantu..!!

Sopir Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Magelang Digerogoti Tumor Usus. Ayo Bantu..!!

Mantan preman yang jadi sopir pesantren ini tak bisa lagi mengantar jemput santri, para guru dan ustadz pesantren. Menderita tumor usus stadium 4, ia butuh biaya transport dan obat-obatan kemoterapi....

Terancam Roboh, Mushalla Al-Fatihah Butuh Renovasi Total. Ayo Bantu Sedekah Jariyah.!!!

Terancam Roboh, Mushalla Al-Fatihah Butuh Renovasi Total. Ayo Bantu Sedekah Jariyah.!!!

Kondisi mushalla di pelosok Tasikmalaya ini sangat memprihatinkan, reyot dan tidak layak. Dihantam longsor, rusakanya semakin parah dan terancam roboh. Dibutuhkan dana 55 juta rupiah untuk renovasi...

Kecelakaan Parah, Yatim Santri Tahfizh Qur’an ini Patah Kaki. Ayo Bantu..!!

Kecelakaan Parah, Yatim Santri Tahfizh Qur’an ini Patah Kaki. Ayo Bantu..!!

Sudah 10 hari Maymunah terbaring menahan perihnya patah tulang paha akibat kecelakaan. Ia harus menjalani pencangkokan dan pengobatan tulang selama 60 hari dengan biaya 9,6 juta. Ayo bantu.!!...

Farhan Syafero: Aktivis Dakwah Gugur Salah Tembak dalam Tragedi Berdarah Jakarta, Ayo Bantu.!!

Farhan Syafero: Aktivis Dakwah Gugur Salah Tembak dalam Tragedi Berdarah Jakarta, Ayo Bantu.!!

Aktivis dakwah ini gugur di bulan suci Ramadhan saat siaga menjaga markas FPI dan rumah Habib Rizieq. Jasadnya terkapar bersimbah darah dengan lubang peluru menembus dada hingga punggung....

Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

Muallaf Evelyn harus berjuang keras menafkahi kelima anaknya, meski fisiknya rapuh mengidap kanker tiroid. Betapapun pahitnya hidup, ia tetap tegar mewujudkan mimpi anaknya yang hafal Al-Quran...

Latest News
Iran Sita Kapal Tanker Minyak Inggris di Selat Hormuz

Iran Sita Kapal Tanker Minyak Inggris di Selat Hormuz

Sabtu, 20 Jul 2019 18:57

Pemilu Bersejarah Sedang Berlangsung di Bekas Distrik Suku Pakistan

Pemilu Bersejarah Sedang Berlangsung di Bekas Distrik Suku Pakistan

Sabtu, 20 Jul 2019 18:45

Drone Tak Dikenal Serang Markas MIlisi Syiah Irak Hashd al-Sha'abi

Drone Tak Dikenal Serang Markas MIlisi Syiah Irak Hashd al-Sha'abi

Sabtu, 20 Jul 2019 17:35

AILA: Berkebaya Itu Pilihan, Bagi Muslimah yang Paling Penting Ikut Perintah Allah Menutup Aurat

AILA: Berkebaya Itu Pilihan, Bagi Muslimah yang Paling Penting Ikut Perintah Allah Menutup Aurat

Sabtu, 20 Jul 2019 17:19

Pelecahan Hukum

Pelecahan Hukum

Sabtu, 20 Jul 2019 14:25

Bau Otoriter

Bau Otoriter

Sabtu, 20 Jul 2019 13:21

Bahaya UU ITE di Depan Mata, Pegiat: Lagi Pada Sadar?

Bahaya UU ITE di Depan Mata, Pegiat: Lagi Pada Sadar?

Sabtu, 20 Jul 2019 13:07

Sah, Inilah 3 Bentuk Kurban Untuk yang Sudah Wafat

Sah, Inilah 3 Bentuk Kurban Untuk yang Sudah Wafat

Sabtu, 20 Jul 2019 13:00

Anies, Icon Kerakyatan dan Ke-Indonesiaan

Anies, Icon Kerakyatan dan Ke-Indonesiaan

Sabtu, 20 Jul 2019 12:54

TransJakarta Buatan Cina, Kemanakah Kini?

TransJakarta Buatan Cina, Kemanakah Kini?

Sabtu, 20 Jul 2019 12:07

Waspadai Pelangi Buatan Manusia dalam Simbol Sexual Menyimpang

Waspadai Pelangi Buatan Manusia dalam Simbol Sexual Menyimpang

Sabtu, 20 Jul 2019 11:20

Fahri Hamzah: Bahayanya Kekuasaan di Tangan Orang Dungu

Fahri Hamzah: Bahayanya Kekuasaan di Tangan Orang Dungu

Sabtu, 20 Jul 2019 11:07

Suap Menyuap dan Korupsi sebagai Akarnya

Suap Menyuap dan Korupsi sebagai Akarnya

Sabtu, 20 Jul 2019 10:07

Film Dua Garis Biru, Potret Buram Tontonan Zaman Now

Film Dua Garis Biru, Potret Buram Tontonan Zaman Now

Sabtu, 20 Jul 2019 05:44

Cara Memperlakukan Kulit Hewan Kurban?

Cara Memperlakukan Kulit Hewan Kurban?

Sabtu, 20 Jul 2019 05:10

KB dan Pernikahan Dini, Solusi atau Bencana?

KB dan Pernikahan Dini, Solusi atau Bencana?

Sabtu, 20 Jul 2019 01:26

Krisis Keadilan di Negara Hukum

Krisis Keadilan di Negara Hukum

Jum'at, 19 Jul 2019 23:23

Pajak, Alat Pemalak Rakyat di Negeri Zamrud Khatulistiwa

Pajak, Alat Pemalak Rakyat di Negeri Zamrud Khatulistiwa

Jum'at, 19 Jul 2019 22:25

Dua Garis Biru, Ada Apa Ya?

Dua Garis Biru, Ada Apa Ya?

Jum'at, 19 Jul 2019 22:14

Mantan Jubir LNA Sebut Jenderal Haftar Gunakan 'Sihir' Untuk Hipnotis Pasukannya

Mantan Jubir LNA Sebut Jenderal Haftar Gunakan 'Sihir' Untuk Hipnotis Pasukannya

Jum'at, 19 Jul 2019 21:35


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X