Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.976 views

Literasi untuk Negeri

BERAPA banyak diantara kita yang mengetahui tanggal 23 April ditetapkan sebagai World Book Day atau Hari Buku Sedunia? Bisa jadi anda baru tahu ketika membaca tulisan ini. Ya, 23 April ditetapkan oleh UNESCO sebagai Hari Buku Sedunia dalam rangka untuk mengenalkan ruang lingkup buku yang dipandang sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan, serta menjadi jembatan antara budaya dan generasi. UNESCO juga menekankan peringatan ini bertujuan untuk memperjuangkan buku-buku dan merayakan kreativitas, keragaman dan akses yang sama terhadap pengetahuan. (Kaltim.tribunnews.com, 23/4).

Sebagaimana disinggung di awal, memang perayaan ini tidaklah begitu menggema sebesar gema perayaan hari lain sejenis, semisal hari wanita atau hari bumi yang diwarnai dengan berbagai aksi. Tidak mengherankan memang mengingat baik masyarakat hingga pemerintah sendiri tidak lagi menempatkan persoalan pengembangan budaya literasi di bagian terdepan. Padahal jika kita dalami, masalah rendahnya kemampuan berdiskusi, memahami teks, menganalisis kondisi hingga membedakan perkara haq dan hoax sangat bergantung kepada tingkat budaya literasi masyarakat.

Central Connecticut State University (CCSU) pernah melakukan survei di tahun 2016 pada 61 negara untuk mengukur tingkat literasi suatu negara dengan mengacu pada beberapa indikator yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer menemukan bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Hal ini berarti Indonesia hanya setingkat lebih baik perilaku literasinya dibandingkan satu negara yakni Botsnawa, sebuah negara di afrika yang bahkan juga sangat jarang kita dengar namanya. Hal ini akhirnya memunculkan pertanyaan, apakah memang seburuk itu?

Memandang persoalan ini tentu tidak hanya berkaitan dengan masalah per individu masyarakat Indonesia yang dicap malas membaca, menulis dan berdiskusi. Lebih dari itu, masalah ini tentu saja berkorelasi pula dengan pola pengaturan masyarakat yang dilakukan oleh negara. Kita perlu mengamati sejauh mana peran negara selama ini dalam menstimulus masyarakat terutama kalangan anak-anak dan pemuda/pemudi untuk tergerak mencintai aktivitas membaca, menulis dan berdiskusi.

Memang, kita tidak bisa meremehkan upaya negara yang telah menghadirkan perpustakaan di berbagai daerah, hanya saja perpustakaan yang dimaksud akhirnya bukan hanya sebuah gedung besar dengan kumpulan buku dan akses internet cepat yang ada di pusat kota. Seorang inisiator penggerak literasi di pelosok daerah dalam wawancara di portal detik.com (4/1) menyatakan bahwa sejatinya metode “jemput bola” dengan menghadirkan perpustakaan adalah lebih patut diutamakan bukan menunggu orang-orang mendatangi perpustakaan. Artinya akses perpustakaan memang sebaiknya ada di sekitar kita. Sayangnya, hal ini tak banyak diperhatikan oleh pemerintah, hingga akhirnya LSM-LSM sendiri yang harus bergerak.

Jika kita amati mendalam, cara ini memang cukup berhasil untuk menarik hati anak-anak di pelosok untuk mendekat pada perpustakaan bergerak yang akhirnya mulai dihadirkan dimana-mana, hanya saja bagaimana dengan nasib anak-anak di perkotaan? Kita pasti sudah familiar justru perpustakaan megah yang didalamnya terdapat jutaan buku tidak lebih menarik dibandingkan dengan mobile legend yang ada di tangan mereka. Mengamati alam atau mengutak-atik segala hal di alam secara fisik tidak lebih mengasikkan dibandingkan mengutak-atik aplikasi editing foto dan mengirimkannya ke akun instagram.

Maka persoalan ini bukan lagi hanya sekedar menghadirkan perpustakaan atau sekedar menjadikannya dekat. Persoalan ini justru sejatinya jauh lebih besar lagi, yakni pertarungan antara gejolak hawa nafsu dan ketundukkan. Hakikatnya, kemauan untuk meningkatkan kemampuan literasi memang harus hadir di diri individu masing-masing. Dorongan itu tidak hanya karena untuk mencapai kepuasan intelektual atau karena hobi.  Namun harus ada dorongan keimanan yang akhirnya menjadikan tak ada alasan untuk menjadi malas dalam membaca, menulis dan berdiskusi. Sebagaimana kita mengingat bahwa ayat pertama yang turun kepada Rasul adalah perintah membaca (iqro’).

“Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S Al-Alaq ayat 1-5)”

Perintah membaca akhirnya bukan sekedar memuaskan intelektualitas, namun mampu menjadi sarana memahami hingga mampu secara aplikatif meningkatkan keimanan dan menciptakan terobosan terbaik yang bermanfaat untuk umat secara luas. Slogan Rahmatan lil alamin atas Islam pun bukan lagi sekedar slogan.

Bukan hanya dari individunya, pemerintah juga haruslah concern dalam mengurusi persoalan ini. Hakikatnya, justru pemerintah lah yang harusnya paling utama mendorong peningkatan literasi. Patutlah kiranya menengok kembali cara Islam dimasa lalu menciptakan suasana keilmuan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat. Bahwa bukan dengan persuasi ringan yang jelas akan kalah dengan asiknya game online, tapi harus bersinergi dengan sistem pendidikan.

Sistem pendidikan bukan fokus hanya mencetak orang-orang yang mengejar ijazah untuk kemudian bekerja, atau sekedar menjadikan seorang entrepreneur yang dapat menghasilkan materi. Lebih dari itu pendidikan Islam dibangun dengan asas akidah Islam yang bertujuan membentuk manusia bertakwa yang berkepribadian Islam dan menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli di setiap bidang kehidupan untuk kemaslahatan dan kemajuan Islam. Maka tak perlu persuasi yang sulit, dorongan akidah tentang kemuliaan penuntut ilmu, kemuliaan orang yang bermanfaat dan janji pahala yang berlimpah sudah cukup mampu menjadikan diri tergerak untuk menggunakan waktu lebih banyak untuk menuntut ilmu dibandingkan dengan bermain-main.

Hal ini tidak akan pernah bisa diwujudkan dalam negara yang justru memisahkan perkara agama dengan pendidikan. Pendidikan dengan dasar ini hanya akan menghasilkan orang-orang yang berpikiran pragmatis-materialistik. Mengukur manfaat hanya dari kemampuan diri menghasilkan materi hingga lupa kontribusi kepada umat sesuai standar ilahi. Jangan berharap tercipta individu yang memiliki kualitas literasi tinggi jika pemerintahnya sendiri justru menstimulus anak-anak aktif dalam permainan yang dapat menghasilkan uang. Maka sudah selayaknya individu dan masyarakat diatur dalam sebuah negara yang concern pada aktivitas wajib menuntut ilmu yakni Khilafah Islamiyyah.

Pengembangan budaya literasi memang hakikatnya adalah gerbang menuju peradaban cemerlang. Kita sepatutnya sadar, masa reinassence Eropa justru terjadi setelah mereka belajar dari giatnya penguasa dalam negara Khilafah mendorong dan memberikan fasilitas serta giatnya kaum muslim untuk belajar, berdiskusi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sekarang justru sangat aneh, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim justru menjadi terbelakang dalam ilmu pengetahuan. Sudahkah kita menganalisis? Atau justru untuk menganalisis maksud bacaan ini saja kita kesulitan. Hmm……**

Astia Putri, SE, MSA
Member Komunitas “Pena Langit”

 

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Berbagai ikhtiar dilakukan pasangan Eddy Saputra dan istrinya untuk mengatasi beratnya himpitan ekonomi, tapi selalu menemui jalan buntu. Bantuan justru datang dari orang yang membahayakan akidah:...

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan kelainan usus, Ulwan harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan rintih tangis hingga 4 tahun. Butuh biaya operasi, sang ibu hanya penjual kerupuk....

Latest News
Medis: Lebih 500 Orang Meninggal di Kamp Al-Hol Suriah pada 2019

Medis: Lebih 500 Orang Meninggal di Kamp Al-Hol Suriah pada 2019

Jum'at, 17 Jan 2020 21:22

Yusuf Deedat, Putra Kristolog Terkemuka Ahmad Deedat Kritis Setelah Ditembak di Kepala

Yusuf Deedat, Putra Kristolog Terkemuka Ahmad Deedat Kritis Setelah Ditembak di Kepala

Jum'at, 17 Jan 2020 18:45

Saudi Bayar Kompensasi 10 Warga Malaysia Korban Tragedi Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Saudi Bayar Kompensasi 10 Warga Malaysia Korban Tragedi Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Jum'at, 17 Jan 2020 18:15

11 Anggota Pasukan AS Alami Geger Otak Akibat Serangan Rudal Iran di Pangkalan Udara Al-Assad Irak

11 Anggota Pasukan AS Alami Geger Otak Akibat Serangan Rudal Iran di Pangkalan Udara Al-Assad Irak

Jum'at, 17 Jan 2020 17:45

Keluarga Korban Pesawat Penumpang Ukiraina yang Ditembak Jatuh Militer Iran Tuntut Kompensasi

Keluarga Korban Pesawat Penumpang Ukiraina yang Ditembak Jatuh Militer Iran Tuntut Kompensasi

Jum'at, 17 Jan 2020 17:19

Ketika KPK Sudah Jinak

Ketika KPK Sudah Jinak

Jum'at, 17 Jan 2020 15:25

LPPOM MUI: Uhamka Kampus Pertama di Indonesia Miliki Kantin Tersertifikasi Halal

LPPOM MUI: Uhamka Kampus Pertama di Indonesia Miliki Kantin Tersertifikasi Halal

Jum'at, 17 Jan 2020 08:55

Kunjungi PP Muhammadiyah, Menhub Bahas Kerjasama Pendidikan Kelautan dan Kemaritiman

Kunjungi PP Muhammadiyah, Menhub Bahas Kerjasama Pendidikan Kelautan dan Kemaritiman

Jum'at, 17 Jan 2020 08:36

Majelis Taklim Al Islah dan WMI Bagikan Paket Sekolah untuk Korban Bencana Bogor

Majelis Taklim Al Islah dan WMI Bagikan Paket Sekolah untuk Korban Bencana Bogor

Jum'at, 17 Jan 2020 08:24

PDIP Melecehkan KPK dan Hukum

PDIP Melecehkan KPK dan Hukum

Jum'at, 17 Jan 2020 07:18

Mampukah Jokowi Menjinakkan Banteng?

Mampukah Jokowi Menjinakkan Banteng?

Kamis, 16 Jan 2020 23:27

Korupsi Menggurita, Rakyat Sengsara

Korupsi Menggurita, Rakyat Sengsara

Kamis, 16 Jan 2020 22:42

Afiliasi Islamic State Bebaskan 5 Pekerja Bantuan Lokal yang Mereka Culik di Nigeria Timur

Afiliasi Islamic State Bebaskan 5 Pekerja Bantuan Lokal yang Mereka Culik di Nigeria Timur

Kamis, 16 Jan 2020 22:00

Israel Khawatir Akan Kemenangan Hamas Jika Mahmoud Abbas Meninggal

Israel Khawatir Akan Kemenangan Hamas Jika Mahmoud Abbas Meninggal

Kamis, 16 Jan 2020 21:35

AS Pertimbangkan Untuk Hentikan Bantuan Militer ke Irak Jika Pasukannya Diusir

AS Pertimbangkan Untuk Hentikan Bantuan Militer ke Irak Jika Pasukannya Diusir

Kamis, 16 Jan 2020 21:15

Fraksi PKS Resmi Usulkan Pansus Jiwasraya dan Hak Interpelasi BPJS

Fraksi PKS Resmi Usulkan Pansus Jiwasraya dan Hak Interpelasi BPJS

Kamis, 16 Jan 2020 21:06

Turki Bantah Beri Kewarganegaran untuk Warga Suriah yang Berperang di Libya

Turki Bantah Beri Kewarganegaran untuk Warga Suriah yang Berperang di Libya

Kamis, 16 Jan 2020 20:39

Mimpi Digauli Suami, Haruskah Mandi?

Mimpi Digauli Suami, Haruskah Mandi?

Kamis, 16 Jan 2020 20:34

Aktifis Kulluna Maryam dari Al Quds Sambangi Muslimah Wahdah Islamiyah

Aktifis Kulluna Maryam dari Al Quds Sambangi Muslimah Wahdah Islamiyah

Kamis, 16 Jan 2020 20:00

IPCN Gandeng WMI Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Kawasan Terisolir Jasinga dan Lebak

IPCN Gandeng WMI Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Kawasan Terisolir Jasinga dan Lebak

Kamis, 16 Jan 2020 19:38


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X