Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.485 views

Rohingya, Aceh, dan Sekat Semu Bernama Nasionalisme

Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos

Ketika Rohingya “berkunjung” ke Aceh, dalam pencariannya berminggu-minggu di lautan sambil terus berharap dapat melabuhkan dirinya di sisi lain bumi Allah yang lebih ramah, Selat Malaka membuka pintunya dan mengantarkan Rohingya masuk ke bumi Serambi Mekkah. Dia mungkin berandai-andai, siapakah mereka yang ada di pulau ini? Kulit dan air muka yang hampir sama. Meski bahasa berbeda, tapi ada warna rambut kita yang serupa. Terlebih ketika dikenalnya aqidah masyarakat pulau itu, ternyata mereka bersaudara.

Bahagia, itulah sekilas raut wajah Musa, satu-satunya pengungsi Rohingya yang bisa berbahasa Inggris ketika saya temui di Kamp Pengungsi Ladong, Aceh Besar, beberapa tahun silam. Hidung mancungnya mengembang terbawa senyum di wajah laki-laki kurus itu. Saya meminta Mahasiswa di salah satu universitas di wilayah Yangon itu untuk bercerita bagaimana kisah petualangannya hingga sampai di Aceh. “Secretly escape,” katanya seraya menyicil kosa kata untuk menggambarkan kepedihan yang seketika merampas wajah bahagia itu. Dia berkisah bagaimana sulitnya dapat keluar dari Myanmar untuk bisa menuju Bangladesh, lalu dideportasi agar kembali ke Myanmar namun mereka memilih berlabuh ke sembarang arah. Terserah ke mana angin melempar, barat, timur, di manapun itu asal mau menerima mereka.

Beberapa kali mengunjungi mereka, saya selalu bertemu Rabi’ah Aladhawiyah, muslimah Rohingya yang dalam setiap kunjungan hampir tak berkedip memandangi saya. “Cory,” saya menunjuk diri, lalu memegang bahunya dan bertanya siapa namanya. “Rabi’ah, Rabi’ah Aladhawiyah,” katanya sambil tersenyum dan terus melihat ke mata saya. Saya lalu merangkulnya, saya katakan dalam bahasa Inggris bahwa saya tak bisa berkomunikasi dengan bahasa daerahnya, tapi saya menyayanginya sebagai saudara seaqidah saya. Rabi’ah seperti memahami, dia menghela nafas dan balas merangkul saya. Seketika batin saya ingin berteriak, “Allah, ini saudaraku, saudara Muslimku.” Kedua matanya seolah mengutarakan niatnya yang begitu kuat untuk bersahabat dan merasa tersanjung dengan kunjungan saudaranya.

Saya sempat menjelaskan kepada Musa untuk disampaikan kepada Rabi’ah dan seluruh pengungsi yang ada di sana, bahwa kita hari ini sangat membutuhkan persatuan kaum muslimin dunia dalam satu institusi adidaya yang akan berperan sebagai tameng (junnah) membebaskan Rohingya, Palestina, Uighur, Pattani, dan dunia dari segala bentuk penjajahan. Lihatlah, begitu banyak kecaman mengalir, bahkan bantuan dana pun tak terbendung jumlahnya, namun tak ada secuilpun niat dari tirani Myanmar untuk menghentikan pembantaian muslim Rohingya. Malah mereka semakin kejam dan mengulangi. Institusi itu yang kelak akan mempersatukan kaum muslimin dunia, dan memobilisasi aktivitas jihad untuk membela darah dan kehormatan muslimah dan anak-anak Rohingya.

Kita Rohingya

Itulah Rohingya, mereka dinista. Kita, banyak namun ibarat buih tak berdaya. Bahkan kita kehilangan daya untuk bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan saudara seaqidah kita dinista? Bagaimana menghentikan deritanya? Tak sanggup, pertanyaan itu seolah sangat jauh untuk dijangkau, sangat berat untuk terjawab. Kita malah sibuk kepada pemicu, padahal pemangsa terus memburu mangsa.

Tak heran, inilah kita yang jelata. Apa yang bisa kita lakukan kecuali berdoa dan menggalang dana? Tak ada, mana ada daya kita mengerahkan tentara dengan seperangkat senjata canggihnya untuk membela kehormatan Rohingya. Padahal diakui dunia, ketangkasan tentara kaum muslim di medan tempur. Mustahil, itulah kata yang tepat. Tak mungkin individu per individu melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh negara. Melalui titah penguasa, dia berdiri bersama umat menjadikan amanah jabatannya sebagai hujjah di hadapan Allah kelak bahwa dia telah “berbuat” untuk saudara seiman.

Penguasa negeri muslim hanya bisa mengecam, lalu mengirim berton-ton bantuan kemanusiaan. Tapi tak sedikitpun mampu menghentikan kekejaman junta militer Myanmar dan mengarahkan moncong senjatanya ke arah kafir harbi fi’lan itu. Mereka hanya mampu berbuat level jelata, mengecam dan menggalang dana. Tapi kecamannya tak berbobot, bukan merupakan komunikasi politik yang punya bargaining power menggoyang keangkuhan Myanmar. Malah penguasa negara sombong itu berdalih sedang memerangi teroris Rohingya dan balik mengancam negeri manapun agar tak turut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Penguasa, oh, penguasa, di mana taringmu?

...Aceh dan Rohingya saling terikat dengan apa yang dialaminya, diikat pula oleh satu tali terkuat yang tak pernah putus hingga akhir dunia, ukhuwah Islamiyah...

Apalagi ketika negeri komunis Cina “pasang badan” untuk Myanmar, dan Amerika menjadi penonton atraksi pencitraan para pemimpin muslim dunia. Kemudian Israel terus meraup untung dari penjualan senjata kepada junta militer, lalu senjata itu dipakai untuk menghabisi nyawa tak berdosa di Rakhine. Pun kejahatan berlapis ini didukung dengan mandulnya peran PBB yang mengaku sebagai perangkul padahal sejatinya tak lebih sebagai alat untuk mengikat leher penguasa negeri-negeri muslim untuk tunduk patuh tak berkutik.

Penguasa mental jelata, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ketidakberdayaan pemimpin muslim saat ini. Bahkan rakyat sudah lebih maju darinya dalam hal cita-cita untuk membebaskan Rohingya, namun dia terus sibuk menggiring opini seolah telah berbuat banyak padahal level jelata. Dalam Islam ada titel yang cocok untuknya, ruwaibidhah. Penguasa bodoh yang tak pantas amanah itu berada di pundaknya.

Mungkin dunia mulai paham, apa sebab gelombang pengungsi tak terbendung dari berbagai tempat. Bahwa penjajahan ada di mana-mana, konflik tak bisa ditolak, karena memang sistem kapitalisme demokrasi memproduksinya. Ada konspirasi jual beli senjata di pasar gelap, pun ada kepentingan pengerukan sumber daya alam di tanah-tanah berkah tempat muslim berdiam. Tapi semua itu, sekali lagi, sulit untuk dijangkau. Berat, tak sanggup rasanya menjawab kecuali merasa-rasa ada apa sebenarnya dengan dunia?

Berbagai hipotesa muncul untuk mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Rohingya diibaratkan Wirathu sang Biksu radikal sebagai ular berbisa yang harus dibasmi di mana saja. Tak diberi status kewarganegaraan, tak diizinkan berniaga, apalagi hidup aman di tanah miliknya. Meskipun secara historis muslim Arakan sudah mendiami wilayah itu sejah abad ke-7. Tapi terlanjur kebencian itu membakar jiwa-jiwa tak bersalah. Itulah kebencian abadi yang mengalahkan seluruh hipotesa, bahwa kejahatan konstitusional itu merupakan perang terhadap Islam.

Rohingya dan Dehumanisasi Nasionalisme

Pernah dikatakan bahwa pengungsi Rohingya sangat ingin dibawa ke Aceh, mereka merasa saudara seaqidahnya ada di sini. Pernah juga beredar kabar Wirathu akan menyerang Aceh sebagai balasan ada umat Budha yang dicambuk karena bermaksiat di Aceh, padahal dia sebelumnya diberi pilihan, ingin dihukumi dengan hukum negara atau hukum syariat. Lalu dia sendiri yang meminta dirinya untuk dihukumi berdasarkan syariat Allah. Dua fakta itu membuat Rohingya merasa sangat dekat dengan Aceh, berharap di Tanah Rencong ini mereka dapat diayomi dan diberi perlindungan, mereka butuh suaka.

Pun masyarakat Aceh sudah pernah merasakan nestapa hidup dalam wilayah konflik bersenjata. Operasi militer tak hanya merenggut nyawa pemangsa dan mangsa, tapi juga masyarakat sipil tak berdosa. Konflik yang ada bukan hanya menelan korban jiwa, juga membumihanguskan harta benda, lalu menyisakan trauma mendalam. Hal ini menjadikan masyarakat Aceh dapat memahami benar apa yang dirasakan oleh kaum muslim Rohingya, hidup dalam dentuman senjata dan rasa was-was tak berujung.

Aceh dan Rohingya saling terikat dengan apa yang dialaminya, diikat pula oleh satu tali terkuat yang tak pernah putus hingga akhir dunia, ukhuwah Islamiyah. Sehingga gelombang demonstrasi muncul tak terbendung di Aceh, mulai dari kaum Ibu, pemuda, dan ulama. Mereka berbondong-bondong dengan motivasi aqidah berupaya bersuara untuk menunjukkan hujjah-nya di hadapan Allah kelak ketika Allah bertanya apa yang telah dilakukan untuk saudaranya Rohingya?

Tampaknya kini ikatan terkuat itu sedang melonggar terhalang tembok besar bernama nasionalisme. Bantuan dana, doa, dan kecaman, hanya itu yang dapat dilakukan. Padahal Rohingya membutuhkan lebih dari itu semua. Bantuan dana yang dikirimkan tak mampu mengembalikan tanah tempat mereka lahir, tak mampu menjadi tameng dari peluru junta militer Myanmar. Rohingya menuntut pembelaan saudaranya. Namun itu semua utopi selama negeri-negeri muslim masih terikat lehernya oleh jerat nasionalisme, hal ini membuktikan bahwa nasionalisme merupakan ancaman atas keberlangsungan umat manusia khususnya muslim. Sehingga dengan dalih nasionalisme itu kita mengatakan untuk tak mengimpor konflik Myanmar ke dalam negeri sendiri, sungguh picik.

Sekat nasionalisme itu seolah hilang jika dihadapkan pada kepentingan globalisasi ekonomi, namun dia berubah menjadi tembok tebal nan kokoh jika gelombang pengungsi muslim meminta perlindungan. Militer tak mungkin dikerahkan, suaka mustahil diberikan, hanya bantuan dan doa, selebihnya silakan Rohingya pikirkan sendiri solusinya.

Jika nasionalisme ini dibiarkan merasuk dalam benak seluruh generasi muslim, maka lahirlah generasi apatis yang terus akan kehilangan daya untuk menjangkau kondisi saudaranya, apalagi untuk berdaya menolong. Sehingga konsep ini harus dibersihkan, bahwa ikatan ukhuwah harus diletakkan di atas segala bentuk ikatan yang menjerat leher anak-anak kaum muslimin. Apapun itu, ikatan ukhuwah harus menjadi pemenangnya. Karena selain merupakan tuntutan keimanan, ukhuwah Islam pun adalah kebutuhan yang harus terpenuhi.

Alhasil, Aceh, muslim dunia, dan Rohingya adalah saudara seaqidah yang wajib tolong menolong dalam kebaikan. Tak sepatutnya sekat nasionalisme menjadi tembok penghalang ikatan ukhuwah, inilah urgensi perlunya persatuan umat dalam Khilafah. Insya Allah. (riafariana/voa-islam.com)

*Penulis adalah Founder Komunitas Muslimah Politikus Aceh.

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

3 Tahun Menderita Tumor Ganas, Kang Yoyo Tak Bisa Bekerja dan Berjamaah Masjid. Ayo Bantu..!!

3 Tahun Menderita Tumor Ganas, Kang Yoyo Tak Bisa Bekerja dan Berjamaah Masjid. Ayo Bantu..!!

Aktivis masjid ini menderita tumor ganas dan tidak bisa berobat karena terbentur biaya. Daging tumornya terus membesar seukuran bola futsal. Ayo bantu bisa bekarja dan berjamaah di masjid lagi....

Kecelakaan, Kaki Mahasiswi Akademi Dakwah ini Membusuk Terancam Amputasi. Ayo Bantu..!!

Kecelakaan, Kaki Mahasiswi Akademi Dakwah ini Membusuk Terancam Amputasi. Ayo Bantu..!!

Sudah 4 bulan Ulandari menahan pedihnya patah tulang kaki karena tak punya biaya. Lukanya menganga dan membusuk, jika tidak segera dioperasi, calon dai ini terancam akan kehilangan kaki kirinya....

Dana Terkumpul Rp 536 Juta, Masih Dibutuhkan Dana 214 Juta Lagi untuk Wakaf Produktif Muallaf

Dana Terkumpul Rp 536 Juta, Masih Dibutuhkan Dana 214 Juta Lagi untuk Wakaf Produktif Muallaf

Untuk pembelian tanah program wakaf produktif muallaf Bolaang Mongondow Sulawesi Utara masih dibutuhkan dana 214 juta rupiah. Ayo berwakaf Rp 15.000 per meter, agar harta kekal dan pahala terus...

Yuk Wakaf Tanah Rp 15.000 per Meter untuk Muallaf. Harta Kekal Abadi, Pahala Terus Mengalir

Yuk Wakaf Tanah Rp 15.000 per Meter untuk Muallaf. Harta Kekal Abadi, Pahala Terus Mengalir

Dalam satu desa terdapat 53 muallaf hidup prihatin pra-sejahtera. Hanya dengan 15.000 rupiah kita bisa berwakaf tanah satu meter untuk rumah dan pekerjaan mereka. Total kebutuhan 70 rupiah....

Qurrota Ayyuni: Yatim Pelajar Teladan Terlilit Tagihan Sekolah 8 Juta Rupiah. Ayo Bantu..!!!

Qurrota Ayyuni: Yatim Pelajar Teladan Terlilit Tagihan Sekolah 8 Juta Rupiah. Ayo Bantu..!!!

Anak yatim berprestasi ini selalu jadi juara sejak SD. Sang ayah hilang 9 tahun silam saat berdakwah ke luar kota. Terbelit kesulitan ekonomi, Ayu terbebani tagihan sekolah 8 juta rupiah....

Latest News
Nigeria Vonis Bersalah 200 Lebih Pejuang Boko Haram

Nigeria Vonis Bersalah 200 Lebih Pejuang Boko Haram

Selasa, 20 Feb 2018 22:15

167 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Rezim Teroris Assad di Ghouta Timur Sejak Senin

167 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Rezim Teroris Assad di Ghouta Timur Sejak Senin

Selasa, 20 Feb 2018 22:00

Kemenlu Rusia Akui Puluhan Warganya Terluka dalam Serangan Drone AS di Suriah

Kemenlu Rusia Akui Puluhan Warganya Terluka dalam Serangan Drone AS di Suriah

Selasa, 20 Feb 2018 21:45

Erdogan: Turki Akan Segera Kepung Kota Afrin dalam Beberapa Hari

Erdogan: Turki Akan Segera Kepung Kota Afrin dalam Beberapa Hari

Selasa, 20 Feb 2018 21:30

Harapan TGB untuk Forjim

Harapan TGB untuk Forjim

Selasa, 20 Feb 2018 21:05

Pesan Gubernur NTB Kala Hadapi Maraknya Penyerangan terhadap Ulama

Pesan Gubernur NTB Kala Hadapi Maraknya Penyerangan terhadap Ulama

Selasa, 20 Feb 2018 20:37

Mukernas ke-1 Forjim Dibuka TGB

Mukernas ke-1 Forjim Dibuka TGB

Selasa, 20 Feb 2018 20:31

Persaudaraan Aksi Bela Islam 212 Soloraya Dikukuhkan

Persaudaraan Aksi Bela Islam 212 Soloraya Dikukuhkan

Selasa, 20 Feb 2018 06:35

Sandal Bilal vs Sandal Presiden

Sandal Bilal vs Sandal Presiden

Selasa, 20 Feb 2018 06:13

Ulama Diserang, Tuan Guru Bajang: Negara Harus Mampu Hadirkan Perlindungan

Ulama Diserang, Tuan Guru Bajang: Negara Harus Mampu Hadirkan Perlindungan

Selasa, 20 Feb 2018 05:26

Pilkada 2018, Potret Diskoneksi Ummat dan Partai Politik

Pilkada 2018, Potret Diskoneksi Ummat dan Partai Politik

Senin, 19 Feb 2018 23:58

Menjadi Pribadi Muslim yang Kuat dan Berpengaruh

Menjadi Pribadi Muslim yang Kuat dan Berpengaruh

Senin, 19 Feb 2018 22:46

27 Tewas dalam Serangan Pimpinan UEA terhadap Posisi Al-Qaidah di Yaman

27 Tewas dalam Serangan Pimpinan UEA terhadap Posisi Al-Qaidah di Yaman

Senin, 19 Feb 2018 22:45

LGBT Perusak Generasi, Dalih Hak Asasi

LGBT Perusak Generasi, Dalih Hak Asasi

Senin, 19 Feb 2018 22:40

Turki Akan Perangi Pasukan Suriah Jika Mereka Masuki Afrin

Turki Akan Perangi Pasukan Suriah Jika Mereka Masuki Afrin

Senin, 19 Feb 2018 22:31

Umat Islam dan Bahasa Arab

Umat Islam dan Bahasa Arab

Senin, 19 Feb 2018 22:30

Aliansi Pecinta Haromain Demo di Kedubes Iran Tolak Internasionalisasi Penyelenggaraan Ibadah H

Aliansi Pecinta Haromain Demo di Kedubes Iran Tolak Internasionalisasi Penyelenggaraan Ibadah H

Senin, 19 Feb 2018 22:26

Laporan: Dua Faksi Pemberontak Suriah Bentuk Aliansi Baru untuk Perangi HTS

Laporan: Dua Faksi Pemberontak Suriah Bentuk Aliansi Baru untuk Perangi HTS

Senin, 19 Feb 2018 22:17

Gerakan Umat Mencari Fajar, Sebuah Evaluasi Massal Awal Waktu Shalat di Indonesia

Gerakan Umat Mencari Fajar, Sebuah Evaluasi Massal Awal Waktu Shalat di Indonesia

Senin, 19 Feb 2018 18:39

3 Tahun Menderita Tumor Ganas, Kang Yoyo Tak Bisa Bekerja dan Berjamaah Masjid. Ayo Bantu..!!

3 Tahun Menderita Tumor Ganas, Kang Yoyo Tak Bisa Bekerja dan Berjamaah Masjid. Ayo Bantu..!!

Senin, 19 Feb 2018 14:47


Mukena bordir mewar harga murah

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X