Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.889 views

Rohingya, Aceh, dan Sekat Semu Bernama Nasionalisme

Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos

Ketika Rohingya “berkunjung” ke Aceh, dalam pencariannya berminggu-minggu di lautan sambil terus berharap dapat melabuhkan dirinya di sisi lain bumi Allah yang lebih ramah, Selat Malaka membuka pintunya dan mengantarkan Rohingya masuk ke bumi Serambi Mekkah. Dia mungkin berandai-andai, siapakah mereka yang ada di pulau ini? Kulit dan air muka yang hampir sama. Meski bahasa berbeda, tapi ada warna rambut kita yang serupa. Terlebih ketika dikenalnya aqidah masyarakat pulau itu, ternyata mereka bersaudara.

Bahagia, itulah sekilas raut wajah Musa, satu-satunya pengungsi Rohingya yang bisa berbahasa Inggris ketika saya temui di Kamp Pengungsi Ladong, Aceh Besar, beberapa tahun silam. Hidung mancungnya mengembang terbawa senyum di wajah laki-laki kurus itu. Saya meminta Mahasiswa di salah satu universitas di wilayah Yangon itu untuk bercerita bagaimana kisah petualangannya hingga sampai di Aceh. “Secretly escape,” katanya seraya menyicil kosa kata untuk menggambarkan kepedihan yang seketika merampas wajah bahagia itu. Dia berkisah bagaimana sulitnya dapat keluar dari Myanmar untuk bisa menuju Bangladesh, lalu dideportasi agar kembali ke Myanmar namun mereka memilih berlabuh ke sembarang arah. Terserah ke mana angin melempar, barat, timur, di manapun itu asal mau menerima mereka.

Beberapa kali mengunjungi mereka, saya selalu bertemu Rabi’ah Aladhawiyah, muslimah Rohingya yang dalam setiap kunjungan hampir tak berkedip memandangi saya. “Cory,” saya menunjuk diri, lalu memegang bahunya dan bertanya siapa namanya. “Rabi’ah, Rabi’ah Aladhawiyah,” katanya sambil tersenyum dan terus melihat ke mata saya. Saya lalu merangkulnya, saya katakan dalam bahasa Inggris bahwa saya tak bisa berkomunikasi dengan bahasa daerahnya, tapi saya menyayanginya sebagai saudara seaqidah saya. Rabi’ah seperti memahami, dia menghela nafas dan balas merangkul saya. Seketika batin saya ingin berteriak, “Allah, ini saudaraku, saudara Muslimku.” Kedua matanya seolah mengutarakan niatnya yang begitu kuat untuk bersahabat dan merasa tersanjung dengan kunjungan saudaranya.

Saya sempat menjelaskan kepada Musa untuk disampaikan kepada Rabi’ah dan seluruh pengungsi yang ada di sana, bahwa kita hari ini sangat membutuhkan persatuan kaum muslimin dunia dalam satu institusi adidaya yang akan berperan sebagai tameng (junnah) membebaskan Rohingya, Palestina, Uighur, Pattani, dan dunia dari segala bentuk penjajahan. Lihatlah, begitu banyak kecaman mengalir, bahkan bantuan dana pun tak terbendung jumlahnya, namun tak ada secuilpun niat dari tirani Myanmar untuk menghentikan pembantaian muslim Rohingya. Malah mereka semakin kejam dan mengulangi. Institusi itu yang kelak akan mempersatukan kaum muslimin dunia, dan memobilisasi aktivitas jihad untuk membela darah dan kehormatan muslimah dan anak-anak Rohingya.

Kita Rohingya

Itulah Rohingya, mereka dinista. Kita, banyak namun ibarat buih tak berdaya. Bahkan kita kehilangan daya untuk bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan saudara seaqidah kita dinista? Bagaimana menghentikan deritanya? Tak sanggup, pertanyaan itu seolah sangat jauh untuk dijangkau, sangat berat untuk terjawab. Kita malah sibuk kepada pemicu, padahal pemangsa terus memburu mangsa.

Tak heran, inilah kita yang jelata. Apa yang bisa kita lakukan kecuali berdoa dan menggalang dana? Tak ada, mana ada daya kita mengerahkan tentara dengan seperangkat senjata canggihnya untuk membela kehormatan Rohingya. Padahal diakui dunia, ketangkasan tentara kaum muslim di medan tempur. Mustahil, itulah kata yang tepat. Tak mungkin individu per individu melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh negara. Melalui titah penguasa, dia berdiri bersama umat menjadikan amanah jabatannya sebagai hujjah di hadapan Allah kelak bahwa dia telah “berbuat” untuk saudara seiman.

Penguasa negeri muslim hanya bisa mengecam, lalu mengirim berton-ton bantuan kemanusiaan. Tapi tak sedikitpun mampu menghentikan kekejaman junta militer Myanmar dan mengarahkan moncong senjatanya ke arah kafir harbi fi’lan itu. Mereka hanya mampu berbuat level jelata, mengecam dan menggalang dana. Tapi kecamannya tak berbobot, bukan merupakan komunikasi politik yang punya bargaining power menggoyang keangkuhan Myanmar. Malah penguasa negara sombong itu berdalih sedang memerangi teroris Rohingya dan balik mengancam negeri manapun agar tak turut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Penguasa, oh, penguasa, di mana taringmu?

...Aceh dan Rohingya saling terikat dengan apa yang dialaminya, diikat pula oleh satu tali terkuat yang tak pernah putus hingga akhir dunia, ukhuwah Islamiyah...

Apalagi ketika negeri komunis Cina “pasang badan” untuk Myanmar, dan Amerika menjadi penonton atraksi pencitraan para pemimpin muslim dunia. Kemudian Israel terus meraup untung dari penjualan senjata kepada junta militer, lalu senjata itu dipakai untuk menghabisi nyawa tak berdosa di Rakhine. Pun kejahatan berlapis ini didukung dengan mandulnya peran PBB yang mengaku sebagai perangkul padahal sejatinya tak lebih sebagai alat untuk mengikat leher penguasa negeri-negeri muslim untuk tunduk patuh tak berkutik.

Penguasa mental jelata, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ketidakberdayaan pemimpin muslim saat ini. Bahkan rakyat sudah lebih maju darinya dalam hal cita-cita untuk membebaskan Rohingya, namun dia terus sibuk menggiring opini seolah telah berbuat banyak padahal level jelata. Dalam Islam ada titel yang cocok untuknya, ruwaibidhah. Penguasa bodoh yang tak pantas amanah itu berada di pundaknya.

Mungkin dunia mulai paham, apa sebab gelombang pengungsi tak terbendung dari berbagai tempat. Bahwa penjajahan ada di mana-mana, konflik tak bisa ditolak, karena memang sistem kapitalisme demokrasi memproduksinya. Ada konspirasi jual beli senjata di pasar gelap, pun ada kepentingan pengerukan sumber daya alam di tanah-tanah berkah tempat muslim berdiam. Tapi semua itu, sekali lagi, sulit untuk dijangkau. Berat, tak sanggup rasanya menjawab kecuali merasa-rasa ada apa sebenarnya dengan dunia?

Berbagai hipotesa muncul untuk mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Rohingya diibaratkan Wirathu sang Biksu radikal sebagai ular berbisa yang harus dibasmi di mana saja. Tak diberi status kewarganegaraan, tak diizinkan berniaga, apalagi hidup aman di tanah miliknya. Meskipun secara historis muslim Arakan sudah mendiami wilayah itu sejah abad ke-7. Tapi terlanjur kebencian itu membakar jiwa-jiwa tak bersalah. Itulah kebencian abadi yang mengalahkan seluruh hipotesa, bahwa kejahatan konstitusional itu merupakan perang terhadap Islam.

Rohingya dan Dehumanisasi Nasionalisme

Pernah dikatakan bahwa pengungsi Rohingya sangat ingin dibawa ke Aceh, mereka merasa saudara seaqidahnya ada di sini. Pernah juga beredar kabar Wirathu akan menyerang Aceh sebagai balasan ada umat Budha yang dicambuk karena bermaksiat di Aceh, padahal dia sebelumnya diberi pilihan, ingin dihukumi dengan hukum negara atau hukum syariat. Lalu dia sendiri yang meminta dirinya untuk dihukumi berdasarkan syariat Allah. Dua fakta itu membuat Rohingya merasa sangat dekat dengan Aceh, berharap di Tanah Rencong ini mereka dapat diayomi dan diberi perlindungan, mereka butuh suaka.

Pun masyarakat Aceh sudah pernah merasakan nestapa hidup dalam wilayah konflik bersenjata. Operasi militer tak hanya merenggut nyawa pemangsa dan mangsa, tapi juga masyarakat sipil tak berdosa. Konflik yang ada bukan hanya menelan korban jiwa, juga membumihanguskan harta benda, lalu menyisakan trauma mendalam. Hal ini menjadikan masyarakat Aceh dapat memahami benar apa yang dirasakan oleh kaum muslim Rohingya, hidup dalam dentuman senjata dan rasa was-was tak berujung.

Aceh dan Rohingya saling terikat dengan apa yang dialaminya, diikat pula oleh satu tali terkuat yang tak pernah putus hingga akhir dunia, ukhuwah Islamiyah. Sehingga gelombang demonstrasi muncul tak terbendung di Aceh, mulai dari kaum Ibu, pemuda, dan ulama. Mereka berbondong-bondong dengan motivasi aqidah berupaya bersuara untuk menunjukkan hujjah-nya di hadapan Allah kelak ketika Allah bertanya apa yang telah dilakukan untuk saudaranya Rohingya?

Tampaknya kini ikatan terkuat itu sedang melonggar terhalang tembok besar bernama nasionalisme. Bantuan dana, doa, dan kecaman, hanya itu yang dapat dilakukan. Padahal Rohingya membutuhkan lebih dari itu semua. Bantuan dana yang dikirimkan tak mampu mengembalikan tanah tempat mereka lahir, tak mampu menjadi tameng dari peluru junta militer Myanmar. Rohingya menuntut pembelaan saudaranya. Namun itu semua utopi selama negeri-negeri muslim masih terikat lehernya oleh jerat nasionalisme, hal ini membuktikan bahwa nasionalisme merupakan ancaman atas keberlangsungan umat manusia khususnya muslim. Sehingga dengan dalih nasionalisme itu kita mengatakan untuk tak mengimpor konflik Myanmar ke dalam negeri sendiri, sungguh picik.

Sekat nasionalisme itu seolah hilang jika dihadapkan pada kepentingan globalisasi ekonomi, namun dia berubah menjadi tembok tebal nan kokoh jika gelombang pengungsi muslim meminta perlindungan. Militer tak mungkin dikerahkan, suaka mustahil diberikan, hanya bantuan dan doa, selebihnya silakan Rohingya pikirkan sendiri solusinya.

Jika nasionalisme ini dibiarkan merasuk dalam benak seluruh generasi muslim, maka lahirlah generasi apatis yang terus akan kehilangan daya untuk menjangkau kondisi saudaranya, apalagi untuk berdaya menolong. Sehingga konsep ini harus dibersihkan, bahwa ikatan ukhuwah harus diletakkan di atas segala bentuk ikatan yang menjerat leher anak-anak kaum muslimin. Apapun itu, ikatan ukhuwah harus menjadi pemenangnya. Karena selain merupakan tuntutan keimanan, ukhuwah Islam pun adalah kebutuhan yang harus terpenuhi.

Alhasil, Aceh, muslim dunia, dan Rohingya adalah saudara seaqidah yang wajib tolong menolong dalam kebaikan. Tak sepatutnya sekat nasionalisme menjadi tembok penghalang ikatan ukhuwah, inilah urgensi perlunya persatuan umat dalam Khilafah. Insya Allah. (riafariana/voa-islam.com)

*Penulis adalah Founder Komunitas Muslimah Politikus Aceh.

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Super Qurban ke Pesantren, Daerah Bencana, Kampung Muallaf dan Dakwah Pedalaman

Super Qurban ke Pesantren, Daerah Bencana, Kampung Muallaf dan Dakwah Pedalaman

Qurban adalah amal shalih yang paling utama, lebih utama daripada jihad. Mari berqurban ke pesantren, penjara, peluarga mujahid, dakwah pedalaman dan rawan pemurtadan. ...

Super QURBAN untuk KORBAN Gempa Lombok. Ayo Bantu..!!!

Super QURBAN untuk KORBAN Gempa Lombok. Ayo Bantu..!!!

Lombok luluhlantak diguncang gempa. Derita mereka duka kita juga. Mari berbagi kebahagiaan dengan berqurban untuk para korban gempa di lombok....

Ustadz Jenius Penghafal Al-Qur'an Bersanad Kecelakaan Terlindas Mobil. Ayo Bantu..!!

Ustadz Jenius Penghafal Al-Qur'an Bersanad Kecelakaan Terlindas Mobil. Ayo Bantu..!!

Ustadz Ahmad Syukri, dai penghafal Al-Qur'an 30 juz yang bersanad tujuh riwayat ini terlindas mobil dan banyak mengalami patah tulang. Dioperasi berulang kali, tagihan melonjak 58 juta rupiah....

Fatkhur Kurniawan Bocah Tumor Ganas Tutup Usia, Donasi 12,1 Juta Rupiah Sudah Diserahkan

Fatkhur Kurniawan Bocah Tumor Ganas Tutup Usia, Donasi 12,1 Juta Rupiah Sudah Diserahkan

Setelah bertarung melawan tumor selama 15 bulan, akhirnya Fatkhur menyerah kepada takdir kematian. Semoga para donatur mengganjar infaknya dengan keberkahan, pahala dan surga Firdaus...

Menderita Hernia Sejak Lahir, Anak Yatim ini Butuh Biaya Operasi 8 Juta Rupiah. Ayo Bantu..!!

Menderita Hernia Sejak Lahir, Anak Yatim ini Butuh Biaya Operasi 8 Juta Rupiah. Ayo Bantu..!!

Bila kambuh, biji testis santri Rumah Tahfizh Qur?an ini bengkak dan nyeri hebat. Almarhum ayahnya adalah aktivis Nahi Munkar yang gencar memerangi rentenir, kemaksiatan dan pemurtadan. Ayo...

Latest News
Aksi HMI Sukoharjo Sikapi Kriminalisasi Aktivis, Termasuk Kasus Aktivis dengan PT RUM

Aksi HMI Sukoharjo Sikapi Kriminalisasi Aktivis, Termasuk Kasus Aktivis dengan PT RUM

Ahad, 23 Sep 2018 15:19

Ada Politik Dibalik Ulama

Ada Politik Dibalik Ulama

Ahad, 23 Sep 2018 15:07

Dahnil Dinilai Tepat Jadi Jubir Prabowo-Sandi

Dahnil Dinilai Tepat Jadi Jubir Prabowo-Sandi

Ahad, 23 Sep 2018 08:22

Mushola Pertama untuk Lombok

Mushola Pertama untuk Lombok

Ahad, 23 Sep 2018 08:20

Tim Hukum Temui Polisi, Panitia  Bertekad Tetap Laksanakan Deklarasi Kebangsaan

Tim Hukum Temui Polisi, Panitia Bertekad Tetap Laksanakan Deklarasi Kebangsaan

Ahad, 23 Sep 2018 06:28

Islamic State Nyatakan Bertanggung Jawab Atas Serangan Parade Militer Syi'ah Iran di Ahvaz

Islamic State Nyatakan Bertanggung Jawab Atas Serangan Parade Militer Syi'ah Iran di Ahvaz

Sabtu, 22 Sep 2018 23:35

Israel Beri Bukti ke Moskow Suriah Bertanggung Jawab atas Jatuhnya Pesawat Militer Rusia

Israel Beri Bukti ke Moskow Suriah Bertanggung Jawab atas Jatuhnya Pesawat Militer Rusia

Sabtu, 22 Sep 2018 23:00

11 Anggota IRGC Tewas dalam Serangan Selama di Parade Militer di Ahvaz

11 Anggota IRGC Tewas dalam Serangan Selama di Parade Militer di Ahvaz

Sabtu, 22 Sep 2018 22:39

Untuk Indonesia Beradab, Warga Depok Deklarasikan Dukungan ke Prabowo-Sandi

Untuk Indonesia Beradab, Warga Depok Deklarasikan Dukungan ke Prabowo-Sandi

Sabtu, 22 Sep 2018 20:19

Polisi Desak Batalkan Deklarasi Kebangsaan di Tangsel

Polisi Desak Batalkan Deklarasi Kebangsaan di Tangsel

Sabtu, 22 Sep 2018 20:16

Islam Nusantara: Haruskah?

Islam Nusantara: Haruskah?

Sabtu, 22 Sep 2018 10:08

Tabligh Akbar: Kita Berada di Akhir Zaman

Tabligh Akbar: Kita Berada di Akhir Zaman

Sabtu, 22 Sep 2018 07:38

Saat Muslim Jadi Korban: Pers Dibungkam, Dunia Tak Berdaya

Saat Muslim Jadi Korban: Pers Dibungkam, Dunia Tak Berdaya

Sabtu, 22 Sep 2018 07:16

Persekusi Demi Mempertahankan Posisi

Persekusi Demi Mempertahankan Posisi

Sabtu, 22 Sep 2018 07:12

Pacaran ala Remaja, Keren atau Melenceng?

Pacaran ala Remaja, Keren atau Melenceng?

Sabtu, 22 Sep 2018 00:22

Militer Yaman Kuasai Pangkalan Militer Pemberontak Syi'ah Houtsi di Timur Hodeidah

Militer Yaman Kuasai Pangkalan Militer Pemberontak Syi'ah Houtsi di Timur Hodeidah

Jum'at, 21 Sep 2018 20:45

Turki Tahan 85 Personel Milter Terkait Fetullah Gulen dalam Penggerebegan Terbaru

Turki Tahan 85 Personel Milter Terkait Fetullah Gulen dalam Penggerebegan Terbaru

Jum'at, 21 Sep 2018 20:30

Forjim Latih Jurnalistik Dasar 3000 Dai Parmusi di Jambore Nasional

Forjim Latih Jurnalistik Dasar 3000 Dai Parmusi di Jambore Nasional

Jum'at, 21 Sep 2018 20:26

Anggotanya Ditangkap Soal Video Hoax, FPI Minta Aparat Bersikap Bijak

Anggotanya Ditangkap Soal Video Hoax, FPI Minta Aparat Bersikap Bijak

Jum'at, 21 Sep 2018 20:20

SDF Sebut Pejuang IS yang Mereka Tahan Harus Dibawa Pulang Kembali Oleh Negara Asal Mereka

SDF Sebut Pejuang IS yang Mereka Tahan Harus Dibawa Pulang Kembali Oleh Negara Asal Mereka

Jum'at, 21 Sep 2018 20:15


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X