Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.004 views

Rohingya, Aceh, dan Sekat Semu Bernama Nasionalisme

Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos

Ketika Rohingya “berkunjung” ke Aceh, dalam pencariannya berminggu-minggu di lautan sambil terus berharap dapat melabuhkan dirinya di sisi lain bumi Allah yang lebih ramah, Selat Malaka membuka pintunya dan mengantarkan Rohingya masuk ke bumi Serambi Mekkah. Dia mungkin berandai-andai, siapakah mereka yang ada di pulau ini? Kulit dan air muka yang hampir sama. Meski bahasa berbeda, tapi ada warna rambut kita yang serupa. Terlebih ketika dikenalnya aqidah masyarakat pulau itu, ternyata mereka bersaudara.

Bahagia, itulah sekilas raut wajah Musa, satu-satunya pengungsi Rohingya yang bisa berbahasa Inggris ketika saya temui di Kamp Pengungsi Ladong, Aceh Besar, beberapa tahun silam. Hidung mancungnya mengembang terbawa senyum di wajah laki-laki kurus itu. Saya meminta Mahasiswa di salah satu universitas di wilayah Yangon itu untuk bercerita bagaimana kisah petualangannya hingga sampai di Aceh. “Secretly escape,” katanya seraya menyicil kosa kata untuk menggambarkan kepedihan yang seketika merampas wajah bahagia itu. Dia berkisah bagaimana sulitnya dapat keluar dari Myanmar untuk bisa menuju Bangladesh, lalu dideportasi agar kembali ke Myanmar namun mereka memilih berlabuh ke sembarang arah. Terserah ke mana angin melempar, barat, timur, di manapun itu asal mau menerima mereka.

Beberapa kali mengunjungi mereka, saya selalu bertemu Rabi’ah Aladhawiyah, muslimah Rohingya yang dalam setiap kunjungan hampir tak berkedip memandangi saya. “Cory,” saya menunjuk diri, lalu memegang bahunya dan bertanya siapa namanya. “Rabi’ah, Rabi’ah Aladhawiyah,” katanya sambil tersenyum dan terus melihat ke mata saya. Saya lalu merangkulnya, saya katakan dalam bahasa Inggris bahwa saya tak bisa berkomunikasi dengan bahasa daerahnya, tapi saya menyayanginya sebagai saudara seaqidah saya. Rabi’ah seperti memahami, dia menghela nafas dan balas merangkul saya. Seketika batin saya ingin berteriak, “Allah, ini saudaraku, saudara Muslimku.” Kedua matanya seolah mengutarakan niatnya yang begitu kuat untuk bersahabat dan merasa tersanjung dengan kunjungan saudaranya.

Saya sempat menjelaskan kepada Musa untuk disampaikan kepada Rabi’ah dan seluruh pengungsi yang ada di sana, bahwa kita hari ini sangat membutuhkan persatuan kaum muslimin dunia dalam satu institusi adidaya yang akan berperan sebagai tameng (junnah) membebaskan Rohingya, Palestina, Uighur, Pattani, dan dunia dari segala bentuk penjajahan. Lihatlah, begitu banyak kecaman mengalir, bahkan bantuan dana pun tak terbendung jumlahnya, namun tak ada secuilpun niat dari tirani Myanmar untuk menghentikan pembantaian muslim Rohingya. Malah mereka semakin kejam dan mengulangi. Institusi itu yang kelak akan mempersatukan kaum muslimin dunia, dan memobilisasi aktivitas jihad untuk membela darah dan kehormatan muslimah dan anak-anak Rohingya.

Kita Rohingya

Itulah Rohingya, mereka dinista. Kita, banyak namun ibarat buih tak berdaya. Bahkan kita kehilangan daya untuk bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan saudara seaqidah kita dinista? Bagaimana menghentikan deritanya? Tak sanggup, pertanyaan itu seolah sangat jauh untuk dijangkau, sangat berat untuk terjawab. Kita malah sibuk kepada pemicu, padahal pemangsa terus memburu mangsa.

Tak heran, inilah kita yang jelata. Apa yang bisa kita lakukan kecuali berdoa dan menggalang dana? Tak ada, mana ada daya kita mengerahkan tentara dengan seperangkat senjata canggihnya untuk membela kehormatan Rohingya. Padahal diakui dunia, ketangkasan tentara kaum muslim di medan tempur. Mustahil, itulah kata yang tepat. Tak mungkin individu per individu melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh negara. Melalui titah penguasa, dia berdiri bersama umat menjadikan amanah jabatannya sebagai hujjah di hadapan Allah kelak bahwa dia telah “berbuat” untuk saudara seiman.

Penguasa negeri muslim hanya bisa mengecam, lalu mengirim berton-ton bantuan kemanusiaan. Tapi tak sedikitpun mampu menghentikan kekejaman junta militer Myanmar dan mengarahkan moncong senjatanya ke arah kafir harbi fi’lan itu. Mereka hanya mampu berbuat level jelata, mengecam dan menggalang dana. Tapi kecamannya tak berbobot, bukan merupakan komunikasi politik yang punya bargaining power menggoyang keangkuhan Myanmar. Malah penguasa negara sombong itu berdalih sedang memerangi teroris Rohingya dan balik mengancam negeri manapun agar tak turut campur dalam urusan dalam negeri mereka. Penguasa, oh, penguasa, di mana taringmu?

...Aceh dan Rohingya saling terikat dengan apa yang dialaminya, diikat pula oleh satu tali terkuat yang tak pernah putus hingga akhir dunia, ukhuwah Islamiyah...

Apalagi ketika negeri komunis Cina “pasang badan” untuk Myanmar, dan Amerika menjadi penonton atraksi pencitraan para pemimpin muslim dunia. Kemudian Israel terus meraup untung dari penjualan senjata kepada junta militer, lalu senjata itu dipakai untuk menghabisi nyawa tak berdosa di Rakhine. Pun kejahatan berlapis ini didukung dengan mandulnya peran PBB yang mengaku sebagai perangkul padahal sejatinya tak lebih sebagai alat untuk mengikat leher penguasa negeri-negeri muslim untuk tunduk patuh tak berkutik.

Penguasa mental jelata, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ketidakberdayaan pemimpin muslim saat ini. Bahkan rakyat sudah lebih maju darinya dalam hal cita-cita untuk membebaskan Rohingya, namun dia terus sibuk menggiring opini seolah telah berbuat banyak padahal level jelata. Dalam Islam ada titel yang cocok untuknya, ruwaibidhah. Penguasa bodoh yang tak pantas amanah itu berada di pundaknya.

Mungkin dunia mulai paham, apa sebab gelombang pengungsi tak terbendung dari berbagai tempat. Bahwa penjajahan ada di mana-mana, konflik tak bisa ditolak, karena memang sistem kapitalisme demokrasi memproduksinya. Ada konspirasi jual beli senjata di pasar gelap, pun ada kepentingan pengerukan sumber daya alam di tanah-tanah berkah tempat muslim berdiam. Tapi semua itu, sekali lagi, sulit untuk dijangkau. Berat, tak sanggup rasanya menjawab kecuali merasa-rasa ada apa sebenarnya dengan dunia?

Berbagai hipotesa muncul untuk mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Rohingya diibaratkan Wirathu sang Biksu radikal sebagai ular berbisa yang harus dibasmi di mana saja. Tak diberi status kewarganegaraan, tak diizinkan berniaga, apalagi hidup aman di tanah miliknya. Meskipun secara historis muslim Arakan sudah mendiami wilayah itu sejah abad ke-7. Tapi terlanjur kebencian itu membakar jiwa-jiwa tak bersalah. Itulah kebencian abadi yang mengalahkan seluruh hipotesa, bahwa kejahatan konstitusional itu merupakan perang terhadap Islam.

Rohingya dan Dehumanisasi Nasionalisme

Pernah dikatakan bahwa pengungsi Rohingya sangat ingin dibawa ke Aceh, mereka merasa saudara seaqidahnya ada di sini. Pernah juga beredar kabar Wirathu akan menyerang Aceh sebagai balasan ada umat Budha yang dicambuk karena bermaksiat di Aceh, padahal dia sebelumnya diberi pilihan, ingin dihukumi dengan hukum negara atau hukum syariat. Lalu dia sendiri yang meminta dirinya untuk dihukumi berdasarkan syariat Allah. Dua fakta itu membuat Rohingya merasa sangat dekat dengan Aceh, berharap di Tanah Rencong ini mereka dapat diayomi dan diberi perlindungan, mereka butuh suaka.

Pun masyarakat Aceh sudah pernah merasakan nestapa hidup dalam wilayah konflik bersenjata. Operasi militer tak hanya merenggut nyawa pemangsa dan mangsa, tapi juga masyarakat sipil tak berdosa. Konflik yang ada bukan hanya menelan korban jiwa, juga membumihanguskan harta benda, lalu menyisakan trauma mendalam. Hal ini menjadikan masyarakat Aceh dapat memahami benar apa yang dirasakan oleh kaum muslim Rohingya, hidup dalam dentuman senjata dan rasa was-was tak berujung.

Aceh dan Rohingya saling terikat dengan apa yang dialaminya, diikat pula oleh satu tali terkuat yang tak pernah putus hingga akhir dunia, ukhuwah Islamiyah. Sehingga gelombang demonstrasi muncul tak terbendung di Aceh, mulai dari kaum Ibu, pemuda, dan ulama. Mereka berbondong-bondong dengan motivasi aqidah berupaya bersuara untuk menunjukkan hujjah-nya di hadapan Allah kelak ketika Allah bertanya apa yang telah dilakukan untuk saudaranya Rohingya?

Tampaknya kini ikatan terkuat itu sedang melonggar terhalang tembok besar bernama nasionalisme. Bantuan dana, doa, dan kecaman, hanya itu yang dapat dilakukan. Padahal Rohingya membutuhkan lebih dari itu semua. Bantuan dana yang dikirimkan tak mampu mengembalikan tanah tempat mereka lahir, tak mampu menjadi tameng dari peluru junta militer Myanmar. Rohingya menuntut pembelaan saudaranya. Namun itu semua utopi selama negeri-negeri muslim masih terikat lehernya oleh jerat nasionalisme, hal ini membuktikan bahwa nasionalisme merupakan ancaman atas keberlangsungan umat manusia khususnya muslim. Sehingga dengan dalih nasionalisme itu kita mengatakan untuk tak mengimpor konflik Myanmar ke dalam negeri sendiri, sungguh picik.

Sekat nasionalisme itu seolah hilang jika dihadapkan pada kepentingan globalisasi ekonomi, namun dia berubah menjadi tembok tebal nan kokoh jika gelombang pengungsi muslim meminta perlindungan. Militer tak mungkin dikerahkan, suaka mustahil diberikan, hanya bantuan dan doa, selebihnya silakan Rohingya pikirkan sendiri solusinya.

Jika nasionalisme ini dibiarkan merasuk dalam benak seluruh generasi muslim, maka lahirlah generasi apatis yang terus akan kehilangan daya untuk menjangkau kondisi saudaranya, apalagi untuk berdaya menolong. Sehingga konsep ini harus dibersihkan, bahwa ikatan ukhuwah harus diletakkan di atas segala bentuk ikatan yang menjerat leher anak-anak kaum muslimin. Apapun itu, ikatan ukhuwah harus menjadi pemenangnya. Karena selain merupakan tuntutan keimanan, ukhuwah Islam pun adalah kebutuhan yang harus terpenuhi.

Alhasil, Aceh, muslim dunia, dan Rohingya adalah saudara seaqidah yang wajib tolong menolong dalam kebaikan. Tak sepatutnya sekat nasionalisme menjadi tembok penghalang ikatan ukhuwah, inilah urgensi perlunya persatuan umat dalam Khilafah. Insya Allah. (riafariana/voa-islam.com)

*Penulis adalah Founder Komunitas Muslimah Politikus Aceh.

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Dihantam Truk Tronton, Ustadz Hibatullah Tak Sadarkan Diri 7 Hari. Ayo Bantu.!!!

Dihantam Truk Tronton, Ustadz Hibatullah Tak Sadarkan Diri 7 Hari. Ayo Bantu.!!!

Mujahid Dakwah ini mengalami kecelakaan hebat: rahangnya bergeser harus dioperasi; bibir atas sobek hingga hidung; tulang pinggul retak. Ayo bantu supaya bisa beraktivitas dakwah lagi....

Keluarga Yatim Muallaf Hidup Serba Kekurangan. Ayo Bantu Beasiswa dan Modal Usaha.!!

Keluarga Yatim Muallaf Hidup Serba Kekurangan. Ayo Bantu Beasiswa dan Modal Usaha.!!

Tak berselang lama setelah berikrar masuk Islam bersama seluruh keluarganya, Ganda Korwa wafat meninggalkan istri dan 6 anak yatim. Kondisi mereka sangat mengenaskan....

Bertarung Nyawa Melawan Tumor Ganas, Faizal Drop Out dari Pesantren. Ayo Bantu.!!!

Bertarung Nyawa Melawan Tumor Ganas, Faizal Drop Out dari Pesantren. Ayo Bantu.!!!

Tanpa didampingi ayah-bunda, ia menahan perihnya tumor ganas. Daging tumor dengan luka menganga menutupi separo wajahnya. Studi di Pesantren pun tidak sanggup ditempuhnya sampai tamat....

Lahir Keracunan Ketuban, Bayi Anak Aktivis Islam Kritis di Rumah Sakit. Ayo Bantu!!!

Lahir Keracunan Ketuban, Bayi Anak Aktivis Islam Kritis di Rumah Sakit. Ayo Bantu!!!

Usai persalinan, bayi Ummu Azmi kritis di NICU karena keracunan ketuban saat persalinan. Biaya perawatan cukup mahal, hari pertama saja mencapai 8 juta rupiah. Butuh uluran tangan kaum muslimin....

Satu Keluarga Yatim Masuk Islam, Butuh Modal Usaha dan Beasiswa. Ayo Bantu.!!!

Satu Keluarga Yatim Masuk Islam, Butuh Modal Usaha dan Beasiswa. Ayo Bantu.!!!

Sepeninggal sang ayah setelah masuk Islam, enam anak berstatus muallaf yatim ini hidup prihatin serba kekurangan. Ayo bantu modal usaha dan beasiswa untuk masa depan Islam...

Latest News
Gaul Sehat, Anti Maksiat

Gaul Sehat, Anti Maksiat

Rabu, 18 Oct 2017 23:01

Wasekjen MUI: Pribumi adalah Kenyataan Hidup yang Tidak Bisa Diingkari

Wasekjen MUI: Pribumi adalah Kenyataan Hidup yang Tidak Bisa Diingkari

Rabu, 18 Oct 2017 22:25

Tasykil Lembaga Beladiri Persis Shurulkhan Resmi Dilantik

Tasykil Lembaga Beladiri Persis Shurulkhan Resmi Dilantik

Rabu, 18 Oct 2017 22:03

Partai Pemihak Rakyat Masih Langka

Partai Pemihak Rakyat Masih Langka

Rabu, 18 Oct 2017 21:45

Ranjau Darat Islamic State Tewaskan Jendral Kejam Rezim Assad Issam Zahraadine

Ranjau Darat Islamic State Tewaskan Jendral Kejam Rezim Assad Issam Zahraadine

Rabu, 18 Oct 2017 21:02

Soal Reklamasi, Dahnil: Polisi dan TNI harus Tegas, Jangan Sampai jadi Centeng Korporasi

Soal Reklamasi, Dahnil: Polisi dan TNI harus Tegas, Jangan Sampai jadi Centeng Korporasi

Rabu, 18 Oct 2017 20:25

Pelaku Pemboman yang Menyebabkan Lebih 300 Orang di Mogadishu Mantan Tentara Somalia

Pelaku Pemboman yang Menyebabkan Lebih 300 Orang di Mogadishu Mantan Tentara Somalia

Rabu, 18 Oct 2017 20:01

Aa Gym: Bisnis Untung Itu Adalah Bisnis yang Menguatkan Iman

Aa Gym: Bisnis Untung Itu Adalah Bisnis yang Menguatkan Iman

Rabu, 18 Oct 2017 18:28

Mantan Jubir Gusdur: Ada Upaya Pemusnahan Kosakata Pribumi

Mantan Jubir Gusdur: Ada Upaya Pemusnahan Kosakata Pribumi

Rabu, 18 Oct 2017 18:25

Fraksi PKS Tegaskan Tolak Perppu Ormas

Fraksi PKS Tegaskan Tolak Perppu Ormas

Rabu, 18 Oct 2017 17:50

Sebut Pribumi, justru Menteri Ini Berpotensi Bertentangan dengan Inpres 26/98

Sebut Pribumi, justru Menteri Ini Berpotensi Bertentangan dengan Inpres 26/98

Rabu, 18 Oct 2017 16:25

Mudahkan Kerja Polisi, Unsyiah Buat Robot Terbang untuk Deteksi Ganja

Mudahkan Kerja Polisi, Unsyiah Buat Robot Terbang untuk Deteksi Ganja

Rabu, 18 Oct 2017 14:50

Inpres 26/98 Tidak Melarang Gunakan Istilah Pribumi

Inpres 26/98 Tidak Melarang Gunakan Istilah Pribumi

Rabu, 18 Oct 2017 14:25

Komnas HAM: Pembakaran Masjid Muhammadiyah Ancam Demokrasi

Komnas HAM: Pembakaran Masjid Muhammadiyah Ancam Demokrasi

Rabu, 18 Oct 2017 14:15

Pemuda Muhammadiyah Se-Aceh Kecam Pembakaran Masjid Taqwa di Bireuen

Pemuda Muhammadiyah Se-Aceh Kecam Pembakaran Masjid Taqwa di Bireuen

Rabu, 18 Oct 2017 14:12

Masjid Milik Muhammadiyah yang Sedang Dibangun di Bireuen Dibakar Orang Tak Dikenal

Masjid Milik Muhammadiyah yang Sedang Dibangun di Bireuen Dibakar Orang Tak Dikenal

Rabu, 18 Oct 2017 13:55

Komandan Senior Korps Pengawal Revolusi Syi'ah Iran Tewas di Suriah

Komandan Senior Korps Pengawal Revolusi Syi'ah Iran Tewas di Suriah

Rabu, 18 Oct 2017 11:45

Malacanang Desak Pejuang Islamic State (IS) yang Tersisa di Marawi Menyerahkan Diri

Malacanang Desak Pejuang Islamic State (IS) yang Tersisa di Marawi Menyerahkan Diri

Rabu, 18 Oct 2017 10:15

DDII Berangkatkan Tiga Relawan ke Perbatasan Myanmar dan Bangladesh

DDII Berangkatkan Tiga Relawan ke Perbatasan Myanmar dan Bangladesh

Rabu, 18 Oct 2017 09:58

Shell Tegaskan Dukung LGBT

Shell Tegaskan Dukung LGBT

Rabu, 18 Oct 2017 08:45


Mukena bordir mewar harga murah

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X